Pacaran bikin Tidak Produktif Menulis

pacaran gak produktifOleh: Rasyiqi
—————–
Menulis adalah perselingkuhan kata-kata di ranjang inspirasi, begitulah saya mengatakannya pada seorang teman kala itu. Ada sebuah permasalahan saya dalam hal perselingkuhan itu; ide. Ya, ide !! kiranya saya sama dengan anda dalam masalah ini. Setelah tahu apa yang akan ditulis, selanjutnya bagaimana itu ditulis tapi ini tidak primer. Yang primer adalah apa (ide) yang akan ditulis. Seringkali penulis mengalami kehilangan ide sebelum ia menulis atau bahkan setelah memulai menulis. Contohnya adalah saya memulai menulis sebuah esai selesai. Esai yang kedua baru sampai sepetiga halaman ide saya kocar-kacir. Saya berhenti beberapa saat untuk memperbaiki ide-ide lagi. Namun, alhasil saya mendapat ide baru yang tidak akan bisa nyambung dengan ide sebelumnya. Woro-woro saya tinggalkan project di awal saya memulai menyusun esai dengan ide yang baru. Yahh.. sambil lalu saya tambah pelan-pelan esai yang belum selesai itu kalau tiba-tiba ada ide hinggap. Saya tidak tahu kapan itu bisa selesai.

Saya sebenarnya ingin menuturkan sesuatu tentang salah satu cara menemukan ide yang saya nilai manjur setelah beberapa kali lolos uji coba untuk penulis pemula. Sebab ide itu harus di ciptakan. Banyak yang bilang bahwa pacaran merupakan cara terbaik dan tergembira mendapatkan ide untuk menulis. Otak merespon lebih tinggi dalam urusan percintaan. Produktivitas menulis menjadi manjur. Dalam usia muda seseorang sudah memulai untuk menulis yaitu sepuluh tahun. Continue reading

Segores Luka Hati Pretty

luka-hati

Oleh: Juhairiyah

———————

Aku merasa prihatin atas keadaan pretty sejak kematian ka’ firly,kaka’ku. Dia tidak bisa menerima kenyataan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ka’ firly dua bulan yang lalu.

Sudah dua bulan terakhir ini pretty hanya mengurung diri di kamarnya,dia hanya memandagi foto ka’ firly dengan mata sembabnya,tak ada seorangpun yang mampu membangkikan kembali dari keterpurukannya. Dia begitu mencintai ka’ firly bahkan tak ada yang mampu menggantikan posisi tahta ka’ firly dalam hatinya.

Dulu aku sempat bertengkar dengan ka’ firly hanya demi satu orang yang kita suka yaitu pretty,tapi aku mengalah karena pretty lebih mencintai ka’ firly dari pada aku.

Aku mencoba bertandang kerumah pretty untuk menghiburnya dan memberikannya semangat hidup kembali,namun ante assyifa melarangku untuk menemuinya,aku hanya bisa melihatnya daru daun pintu yang tak jauh dari kasur tempatnya bernostalgia dengan masa lalu semu yaitu ka’ firly yang telah pergi. Continue reading

Cerdas Berinformasi*

KoranOleh: Yanuari Dwi Prianto**

——————————-

Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith berhenti di dekat Muraisi’, sumber air di wilayah Bani Musthaliq. Ingatannya melayang jauh di masa lalu, terkait perselisihan antara dia dan Bani Musthaliq di masa jahiliyah. Dalam dadanya bercokol dendam. Seandainya bukan Rasulullah yang memerintahkannya untuk mengunjungi Bani Musthaliq, maka tak sejengkal pun dia akan menapakkan kakinya di wilayah Bani Musthaliq. Mendengar bahwa Bani Musthaliq hendak menjamunya karena bentuk takzim atas perintah Rasulullah, Al Walid justru bertolak ke arah Madinah, dengan amarah dalam bisikan syaitan, ia akan mengabarkan kepada Rasulullah bahwa Bani Musthaliq akan membunuh beliau.

“Yaa Rasulullah, Bani Musthaliq menolak untuk membayar zakat dan mereka hendak menjumpaimu untuk membunuhmu.” Ujar Al Walid dengan tergesa. Mendengar penuturan Al Walid, Rasulullah pun murka dan hendak memerangi mereka. Continue reading

Sekotak Mimpi yang Terkunci

Sekotak Mimpi yang TerkunciOleh: Rini Hardiyanti

Pendar mentari membiaskan banyak rasa. Tak ada hal yang lebih indah dari sekedar menjamu pagi melalui teriknya. Tak ada hal yang lebih indah dari sekedar membius luka kemarin dan menggantinya dengan tawa. Keluarga Wisnu hari ini tengah akan berbahagia atau mungkin biasa saja. Pasalnya sangat sederhana, ibunya akan melahirkan anak lagi. Genap nanti beranak enam. Wisnu menepikan diri, berada di kamarnya yang sepetak. Berpikir berulang kali, mencoba mencari jawaban tentang masa depannya. Tengadah ke atas, mencari Tuhan di langit-langit kamar. Tentu saja Tuhan akan mendengar walau hanya hatinya yang mampu menyampaikan. Dia mulai bergumam sendiri, rasanya dia masih anak ingusan kemarin pagi, masih kelas 3 SMP. Jalan pikirannya juga belum bisa menyimpulkan mimpi setalah lulus SMA nanti. Tunggu, dia juga belum tentu melanjutkan sekolah setinggi itu. Bisa saja dia mengikuti jejak bapaknya yang kuli bangunan, atau kakak sulungnya yang loper koran, atau kakak yang nomer dua dan tiga yang hanya diam pengangguran. Namun harapnya tidak demikian. Bapak dan ibunya bilang, jika adiknya lahir nanti Wisnu harus membantu mereka. Menyambung dana, mencari uang dan mulai bekerja. Melanjutkan sekolah sudah tidak akan bisa dia cicipi lagi. Dia tidak berani menyalahkan calon adiknya yang dalam kandungan, itu sama saja menyalahkan takdir Tuhan, atau menyalahkan ayahnya yang menumbuhkan benih di rahim ibunya tiap malam? Itu terlalu kekanak-kanakan, bukan? Continue reading

Diri Pahlawan

Pahlawan, mari kita berpikir tentang pahlawan

Mungkin bayanganmu akan tertuju pada mereka yang mati di medan perang

atau mereka yang rela berkorban

demi jiwa dan raganya

atau harta bendanya

Lalu bagaimana jika aku menyebut diriku pahlawan? Continue reading

Nilai

Nilai seorang penulisSerial Menulis Yanuari Dwi P*

————————————

Nilai adalah harga, sebuah nominal yang terpampang pada diri untuk dibayar orang lain. Nilai juga berarti sifat-sifat atau hal-hal yang penting bagi kemanusiaan. Dan jika diartikan dalam bingkai etika adalah sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.

Menjadi seorang penulis penting kiranya untuk membangun nilai diri sebelum terjun secara langsung dalam bingkai kontribusi dan kompetisi. Seperti Muhammad SAW, yang terlebih dahulu membangun basis nilai kejujuran, nilai ke-hanif-an – kecenderungan akan kebaikan dan berpaling dari kebatilan, nilai kepemimpinan, dan nilai-nilai kehidupan lain sebelum dia menerima risalah agung, risalah kenabian. Atau seperti Muhammad bin Idris asy-Syafi`i yang tenar dikenal Imam Syafi’i, yang mengasah nilai dirinya dengan mencintai ilmu, berguru tak kenal waktu, menghafal kitab gurunya Imam Malik Al-Muwwaththa’ hanya dengan sembilan malam, juga membaca dan menghafal ratusan kitab sebelum akhirnya dia mendapatkan izin untuk mengeluarkan fatwa pada umur 15 tahun, menulis Qaul Qadim di Baghdad, menulis Qaul Jadid di Mesir, dan menulis puluhan kitab lainnya yang menjadi rujukan berbagai ulama dan umat muslim di seluruh penjuru dunia di masa sekarang. Continue reading

Catatan untuk Penulis

GambarSerial Menulis – Yanuari Dwi P*

—————————————

Kumpulan tulisan ini hanya sebuah bentuk pesimisme yang lahir di tengah bencana kepenulisan yang melanda penghuni zamrud khatulistiwa. Tetapi juga secercah optimisme untuk kembali bangkit menebar nyala cahaya yang kehilangan pijarnya. Karena bencana bukan untuk dicaci dan disesali, tetapi untuk bahan menyigi jejak silam, guna merentas langkah harapan.

Penulis bukanlah orang yang menjejali kertas polosnya dengan bualan kata yang mengombal, atau kalimat bagai jalanan di pegunungan Al-Hada di Thaif, ke kanan, kiri, menanjak, menukik, dan memutar yang membuat mual. Kemudian disaat senja berbalut renta, dengan tanggungan rongga-rongga perut yang keroncongan harus terdiam mengangkat pena menunggu santunan tangan-tangan kuasa. Tetapi penulis adalah orang yang mampu memahami esensi menulis bahwa yang utama dalam menulis adalah menyampai pesan yang teberkas dalam putik-putik ingatan untuk mencerahkan, memberi teguran, dan menyadarkan tanpa pamrih sebagai bayangan, hingga namanya terkenang oleh berlapis generasi dengan cemerlang. Continue reading