Oleh : Fitanul fitriyah

Jilbabku memang perisaiku! Yang membuat aku semakin jauh dari kenyamanan dan jodoh. Yang membuat aku semakin dekat dengan cibiran banyak orang.

Aku sudah lama gerah dengan jilbabku ini. Aku adalah perempuan yang hampa. Usiaku sudah berkepala tiga. Penampilan terlalu biasa. Ditambah lagi jilbab besar yang sekarang bukan hanya merepotkan badan tapi jiwa. Badanku gerah. Kota Batam yang panas membuat aku gerah dengan jilbab ini karena harus naik turun angkot dan ojek kemana-mana. Jiwaku penat. Jilbabku menjadi alasan banyak lelaki untuk pergi jauh perlahan. Berpuluh perkenalan menjadi berpuluh luka hati.

20 tahun yang lalu. aku adalah seorang wanita biasa dengan wajah yang biasa tentunya tidak memakai jilbab. Waktu itu aku adalah salah satu mahasiswi disalah satu universitas yang cukup ternama dibatam, aktivitasku sehari-hari hanya sebagai mahasiswi, aku bukan orang pintar atau orang yang cantik aku adalah wanita biasa namun berasal dari keluarga yang kaya raya. Dari kekayaan itu semua orang menyukaiku bahkan para lelaki takluk dibawah kakiku. Aku seperti cleo patra diperebutkan banyak lelaki. Meskipun wajahku tak secantik dia.

Singkat cerita niatku memakai jilbab berawal saat aku mamasuki perguruan tinggi awalnya mungkin niatku kurang baik bahkan mungkin sangat memalukan aku ingin memakai jilbab karena aku menyukai salah satu ikhwan anggota LDK (Lembaga Dakwah Kampus) dikampusku nama ikhwan itu Amir Ar-Ra’id , dulu aku tidak tau apa itu ikhwan aku kira hanya sebutan bagi anak LDK termyata dugaanku salah ikhwan itu bukan hanya sekedar sebutan tetapi sebuah predikat atau panggilan bagi laki-laki yang benar-banar taat dan faham agama, awalnya aku heran setiap aku ingin bersalaman dengan dia pasti tangannya langsung ditarik, saat aku sms dengan kata mesra dia tidak pernah membalas smsku. aku mulai penasaran dan tertantang untuk mendapatkannya maklum dengan kekayaanku dan ketenaranku aku merasa malu jika aku tidak bisa mendapatkannya.

Aku mulai menyelidiki siapa dia sebenarnya dan akhirnya aku tau kalau aku bukanlah tipe wanita yang dia inginkan, wanita yang dia inginkan adalah wanita berjilbab atau yang biasa disebut akhwat aku mulai mengatur siasat bagaiman dia bisa tertarik padaku dan akupun menemukan jawabannya, ya akhirnya aku bergabung dengan LDK dikampusku tujuanku awalnya memang bukan tujuan mulia aku masuk LDK untuk mencari perhatian amir, amir panggilan yang biasa digunakan oleh teman-temannya termasuk olehku hanya saja aku memakai suku kata kak didepannya, perlahan tapi pasti aku mulai merasa nyaman dengan lingkungan pergaulanku yang baru, aku merasakan kehangatan keluarga meskipun aku tidak mempunyai iktan darah dengan mereka, kakak seniorku yang rata-rata memakai jilbab panjang begitu ramah padaku meskipun aku belum memakai jilbab dan subhanallah pada saat MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) dadaku begitu terhenyak pada sesi muhasabah diri, keringat dingin dan air mataku mewarnai muhasabah pada malam itu, sudah menjadi takdir ALLAH aku mendapat hidayah pada malam itu dengan cepat dan membaca Basmalah akupun memperbaiki niatku masuk LDK ini dan perasaanku terhadap kak amirpun berubah aku tidak lagi menginginkan dia menjadi pacarku aku hanya menganggapnya sebagai saudaraku.

Keesokan harinya aku memohon izin pada ayah dan ibuku kalau aku ingin memakai jilbab, aku kira mereka akan merasa senang dengan keputusanku namun aku salah ayahku menentang keras keputusanku, aku menagis mendenngar kata-kata yang ayah lontarkan

“Ayah tidak pernah setuju kalau kamu memakai jilbab !!! kamu mau jadi apa? Kalau kamu memakai jilbab kamu mau kerja apa? Apalagi jilbab yang kamu mau pakai jilbab lebar bisanya Cuma buat ribet, kamu masih muda nanti kamu menyesal kalau sudah memakai jilbab sekarang”

Aku mencoba mejelaskan kewajiban berjilbab tapi ayahku tidak mendengarkanku, bahkan karena aku menjelaskan ayahku mengatakan “ Sudah pintar kamu menasehati ayahmu ini, sudah merasa hebat kamu? Pokoknya kalau kamu tetap ngotot memakai jilbab ayah tidak akan perduli lagi apapun yang kamu lakukan !! ayah meninggalkanku sembari marah-marah ibuku merangkulku dengan penuh kehangatan, “Sabar nak ibu yakin ayahmu tidak bermaksud seperti itu, sekarang turuti saja apa yang ayahmu inginkan”, Tapi bu echa benar-benar ingin memakai jilbab, ibu tau kan hukum memakai jilbab, wajib bu”

“Ya kalau itu keinginan kamu ibu bisa bilang apa, ibu akan coba membujuk ayahmu”, terimaksih bu.

Keesokan harinya aku berangkat kekampus denngan penampilan baruku, jilbab lebar khas akhwat dan tas ransel yang agak besar, aku mampir ke meja makan untuk sarapan berharap ayah akan merestuiku dengan penampilanku yang baru aku langsung duduk seperti biasa disamping ayah, kejadian tak terdugapun terjadi ayah langnsung menarik jilababku dan mengusirku dari rumah, Ya ALLAH mungkin cobaan pertama yang harus aku lalui. Dengan amarah yang begitu membara ayah naik kekamarku dan melemparkan tas besar kehadapanku

“Sekarang kamu pergi dari rumah ini, ayah tidak sudi memiliki anak seperti kamu” ibuku mencoba menolongku namun ayah mendorong tubuh ibuku sampai tersingkir, entah setan apa yang merasuki ayahku saat itu, aku bersujud dibawah kaki ayahku berharap iya luluh oleh airmataku, namun smua itu sia-sia, ayahku tetap teguh dengan pendiriannya. aku pergi dengan uraian airmata dan luka yang sangat mendalam.

Aku pergi mengadu pada saudaraku yang ada di LDK dan mereka menerimaku dengan tangan terbuka, sekarang kegiatanku tidak lagi sebagai mahasiswi murni sekarang aku menjadi mahasiswi sekaligus pekerja, badanku tidak seindah dulu. Sekarang badanku kurus kering keronta sperti orang tak terurus, wajahku yang dulunya biasa-biasa saja kini menjadi sangat biasa.

3 tahun kemudian aku lulus dari kampusku dengan nilai yang pas-pasan karena kesibukanku mencari uang untuk menghidupi keperluanku sehari-hari. Kini aku bekerja disalah satu PT muka kuning daerah batam, dengan nilaiku yang pas-pasan aku hanya bisa menjadi operator usiaku semakin hari semakin bertambah wajahkupun sudah tak sesegar dulu, aku mengajukan proposal kepada murobbiku agar aku dicarikan jodoh. Selang 2 minggu aku mengajukan proposal Murobbiku mengatakan kalau yang dicari Ikhwan adalah wanita yang masih muda bukan sepertiku yang sudah hampir berkepala tiga, apalagi tampangku yang sangat pas-pasan menambah ke engganan mereka untuk menjadikanku istri mereka.

Perih rasanya melihat kenyataan yang ada saat ini sempat terlintas dipikiranku penyesalan memakai jilbab ini, karena jilbab ini aku jauh dari jodoh, karena jilbab ini aku diusir orang tuaku, karena jilbab ini aku harus bepeluh-peluh untuk menghidupi kehidupanku seandainya aku tidak mencintai amir mungkin aku tidak masuk LDK dan kalau aku tidak masuk LDK jilbab inipun tidak akan aku kenakan. Sempat tersirat dalam pikiranku saat banyak ikhwan menolakku karena tampangku yang pas-pasan dan umurku yang sudah hampir memasuki usia kepala tiga. Masih teringat dalam inngatanku ada yang mengatakan bahwa ikhwan itu bukan laki-laki yang pemilih usia bagi mereka tidak jadi masalah dan tampangpun mereka tidak perhitungkan karena mereka mengatakan kalau yang mereka cari adalah keimanan dan kesolehan seorang wanita. Namun apa yang aku temukan tidak sama dengan yang mereka ungkapkan, mereka memilih para akhwat yang muda dan cantik, mereka lebih memilih jejek Rasulullah dengan Aisyah daripada jejak Rasulullah dengan Khadijah. Lalu bagaimana dengan nasibku yang sudah tidak muda dan tidak cantik? Apa aku akan berakhir seperti ini? Tanpa pendamping hidup yang bersedia menerimaku apa adanya, tanpa belaian sayang seorang laki-laki.

Hah !!! aku mencoba menghilangkan prasangka burukku, aku masih saja meyakinkan hati ini agar tidak mudah terbujuk rayuan setan, aku yakin keputusan yang aku ambil untuk memakai jilbab adalah takdir terbaik dari Allah untukku.

Hari-hari ku lewati dengan penuh rindu, rindu ingin menikah dan memiliki anak, rindu orang tuaku yang sudah mengusirku, rindu masalaluku yang mewah. Sesekali terbesit dalam hati, bagaimana jika aku keluarr saja dari jalur tarbiyah ini? Bagaimana jika aku menanggalkan saja jilbabku ini yang membuatku gerah dan susah mencari jodoh.

Tiba-tiba ada rasa yang sangat kuat dalam hatiku untuk bertemu orang tuaku, maklum saja semenjak ayah mengusirku aku putus komunikasi dengan mereka, aku pernah mencoba menghubungi no telepon rumahku namun sayang selalu saja mailbox, ntah ayahku sudah mengganti no telepon rumah, sejak saat itu aku tidak lagi berhubungan dengan keluargaku dan akupun perlahan bias menerima itu. Tepat jam 5 sore aku dudah berdiri disebuah rumah yang cukup besar, aku melihat disekeliling taman depan rumah, ah itu bibi sumi, “bi … bi sumi” bi sumi menoleh ke arahku, “ya nona mencari siapa?” bi ini aku mira, non mira? “iya bi ini aku non mira”, bibi segera membuka pagar dan memelukku, tanpa kusadari mataku meneteskan air mata sudah lama aku tidak merasakan kehangatan kasih sayang ini, sudah lama aku tidak dimanja oleh bibi sumi, sudah lama sekali bahkan saking lamanya aku tidak tau sudah berapa lama aku tidak merasakannya, setelah puas bibi memeluk dan menciumku dia melepaskan pelukannya yang sangat erat, “bibi ibu ada?” bi sumi terdiam sejenak menatapku dalam-dalam penuh arti, seperti seorang yang kasihan melihatku. “kenapa bibi diam?”, “iya non nyonya ada didalam”, “boleh aku menemuinya bi?” dengan wajah yang penuh harap bias bertemu dengan ibu yang telah mengandungku 9 bulan dan merawatku dengan penuh kasih sayang. “boleh non” , oh hamper saja aku masuk, aku lupa belum menanyakan pada bibi tentang ayah apakah ayah ada didalam, kalau sampai ayah tau aku disini mungkin ayah akan murka padaku, “bi aku lupa, apa ayah ada?”, kali ini bi sumi langsung merangkulku dan menagis sejadi-jadinya, “bibi kenapa menangis?” aku mencoba memberikan semangat, “Tuan sudah tidak ada non!!”, “maksud bibi? Ayah sudah meninggal?”, “iya non tiga hari yang lalu tuan meninggal”, “apa ayah sakit bi?” aku bertanya dengan air mata yang sudah tidak biisa ku bending lagi, “semenjak non pergi dari rumah tuan merasa sangat bersalah, nyonya sudah menyarankan agar tuan mencari non dan meminta non kembali, tapi tuan kawatir nona akan menolaknya setelah perlakuan tuan pada non” .

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku duduk tersungkur menangis sejadi-jadinya, begitu banyak dosa yang telah ku perbuat pada ayah namun aku belum sempat meminta maaf padanya. Tangisanku mungkin terlalu keras saking kerasnya ada suara dari dalam rumahku, “ada bi sumi kok seperti ada yang menangis?”, aku mengangkat kepala dank u alihkan pandanganku pada seorang wanita yang sudah tua sedang duduk di kursi roda, ya Allah wanita itu ibuku, aku berdiri dan memeluk ibuku, aku menangs sejadi-jadinya kali ini suraku lebih keras dari yang tadi, “ini benar mira anakku?” suara ibu begitu lirih mengucapkannya sambil terus memelukku dan mengusap kepalaku, “iya ibu ini aku mira anakmu !!”, “terimakash ya Allah engkau mengembalikan iya pada pangkuanku lagi” ucap ibuku dengan air mata yang masih menetes, aku merasakan getaran yang sangat luar biasa dalam hatiku, aku merasakan kembali kehangatan pelukan ibuku yang sudah lama hilang, aku merasakan lagi semua itu, ucap syukurpun tak henti-henti aku panjatkan pada Allah SWT.

Sambil mendorong kursi roda ibuku aku masuk kedalam rumahku yang megah dan mewah, aku melihat sekeliling rumahku itu, masih sama seperti dulu, foto keluaga diruang tengah itupun posisinya masih sama seperti saat aku meninggalkan rumah ini, aku melihat ke pojok meja di ruangan keluarga, tak sengaja aku melihat foto waktu kecilku bersama ayahku saat menemaninya memancing di akhir pecan, air mataku jatuh lagi, kali ini air mata penyesalan yang keluar dari mata ini, penyesalan yang sangat mendalam, kenapa aku tidak bias membahagiakan ayah, kenapa aku tidak tinggal saja waktu ayah mengusirku? Ibu mengusap air mataku “sudahlah nak jangan sesali semua yang terjadi, yakinlah semua yang terjadi sudah kehendak ALLAH yang maha kuasa, ibu yakin dengan ilmu agama yang sudahh kamu pelajari kamu bias tegar dan menerima kenyataan, bukankah semua yang terjadi di dunia ini sudah di tuliskan di Laul Mahfudz?”, kata-kata ibu menyadarkankanku, aku memeluk ibuku kembali, aku berjanji akan selalu menemani ibuku dan membahagiakannya.

Satu minnggu sudah aku berada dirumah ini, disini kutemukan kebahagiaanku kembali, bersama ibuku yang setia menemani, pagi ini aku dan ibuku duduk di pinggir kolam ikan belakang rumahku, “mira apa kamu tidak mau menikah?” ah … pertanyaan yang kutakutkan ternyata di tanyakan oleh ibuku, dengan berbata-bata aku menjawab “ya sebagai wanita normal aku juga ingin menikah bu”, “lalu kenapa kamu belum menikah juga sayang?”

“Itulah bu yang juga mira pikirkan, belum ada yang mau menjadi pemdamping hidup mira bu”, “apa perlu ibu yang mencarikan untukmu anakku?”, “tidak usah bu, mira yakin Allah sudahh mempersiapkan jodoh yang terbaik untuk mira”, aku memegang tangannya dan meyakinkan ibuku dengan tatapan mataku yang penuh arti, ibu mengusap pipiku dan berkata “ibu percaya takdir Allah dan percaya padamu anakku”.

Ahad ini aku kembali bertemu dengan keluarga kecilku, keluarga tarbiyahku yang mengajariku ketegaran dan makna kehidupan, keluarga kecilku yang terdiri dari 10 orang termasuk murobbiku yang selalu menjagaku, aku bahagia memiliki mereka, aku bahagia mengenal mereka, karena perantara mereka aku bias mengenal manisnya dakwah, meski terkadang aku merasa kecewa dengan ikhwan yang ada dalam tarbiyah ini. Aku merasa berdosa tatkala aku ingat dulu saat dalam hati kecilku berbisik untuk menanggalkan jilbabku dan meninggalkan dakwah ini, beruntungnya aku Allah masih menyelamatkanku dari godaan syetan yang seringkali menggodaku. Tak terasa 2 jam pertemuan ini telah terlewati. Saat i’lan aku menceritakan semua kejadian satu minggu yang telah aku lalui, mereka turut senang mendengar berita bahagia yang ku alami, setelah semua selesai kamipun berajak pergi dari tempat duduk kami, saat semua saudariku pergi tiba-tiba MR ku memanggilku, “mira umi mau bicara bias?”, “oh iya mi bisa, ada yang bisa mira bantu?” aku melihat wajah MR ku terlihat sangat tegang dan serius, aku jadi takut untuk memandangnya, apa aku ada salah? Apa MR ku tau kalau aku pernah merasa ingin keluar dari dakwah ini? Ah.. berjuta prtanyaan muncul di benakku hingga akhirnya MR ku memulai pembicaraan “mira, apa kamu masih niat untuk menikah?” saat mendengar perkataan itu hatiku bingung tak karuan, MR ku masihh menunggu jawabanku, “jujur umi, mira ingin sekali segera menikah”, aku melihat senyum bahagia diwajah MR ku, aku melihat MR mengelurkan amplop coklat “bukalah” umi menyerahkan amplop itu, aku membukanya dengan perlahan, subhanallah ini proposal atau biodata seorang ikhwan yang ingin ta’aruf denganku, aku membaca profilnya dengan seksama sayang disana tidak dicantumkan foto, namun dengan keyakinan hati aku mau ta’aruf dengan ikhwan ini, aku di damping oleh MR dan suaminya begitupan si ikhwan di damping MR nya, aku menunduk penuh rasa malu namun sesekali aku mengangkat kepalaku dan melihat kearah ikhwan itu, bergetar hatiku melihatnya sungguh sempurna ciptaan Allah, setelah beberapa pertanyaan terlontar ta’aruf hari itu usai, aku mantabkan dengan sholat tahajjud, aku semakin yakin dengan keputusanku untuk menikah dengannya, apalagi ibuku setuju saja dengan pilihanku, akhirnya tibalah prosesi lamaran antar keluarga dan di hari itu ditetapkan pula tanggal pernikhan kami, tanggal 14 November 2014.

14 november 2014 hari yang kun nanti-nanti dan ku tunggu-tunggu dan inilah hari itu, aku memakai gaun muslimah putih dengan hiasa dikepala yang mempercantik wajahku, aku menunggu di balik hijab hingga syah ijab Qobulku, setelah semua mengatakan syah aku keluar dari balik hijab, aku cium tangan suamiku, dia terlihat gagah dengan jas hitam yang dikenakannya, dia mencium keningku dan memasangkan cincin dijariku, saat itu dunia seakan milik kami berdua dan lainnya hanya mengontrak saja. Saat resepsi di mulai mahfud yang telah syah menjadi suamiku memegang erat tanganku, ada rasa yang anehh menghampiri seluruh tubuhku, terasa bergetar agak aneh, maklum saja semenjak hijrahku aku jarang sekali berinteraksi dengan laki-laki, dan inilah kali pertama tanganku dipegang laki-laki. Laki-laki yang kini telah syah menjadi pendamping hidupku.

Setelah setahun pernikanku aku dikarunia anak kembar yang sangat cantik jelita. Rasa syukurpun kembali aku panjatkan pada Allah yang maha kuasa. Betapa indahnya sekenario yang dibuat Allah, betapa sempurna jalan hidupku yang telah digariskanNya. Aku bersyukur telah dipertemukan dengan dakwah ini yang membuatku menjadi manusia yang lebih berguna.

Penulis adalah aktifis LDK dan Kadiv Kaderisasi FLP Bangkalan