Titim N.

 “allohummab’ats ba’lan shoolihan likhithbathii wa’atthif qolbahu ‘alayya bihaqqi kalaamikal qodiimi wabirosuulikal kariimi bi alfi alfi laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim”

             “Tuhanku, utuslah seorang suami yang shalih untuk melamarku, condongkanlah hatinya kepadaku berkat kebenaran Kalam-Mu yang qadim dan berkat utusanMu yang mulia dengan keberkahan sejuta ucapan LAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM.”

“Amin…!” aku mengusapkan kedua tanganku seusai memanjatkan doa. Tak dapat ku sembunyikan kesedihanku. Namun, aku berusaha menahannya ke dalam dada, agar tak tumpah melalui mata.

“Tadi malam, Paman Syamsul bersama putranya datang ke sini untuk melamar kamu. Paman Syamsul sangat menyukaimu, jadi dia meminta untuk menjodohkan kamu dengan putranya itu.” Masih terngiang di telingaku saat Abah dan Umi menyampaikan perihal perjodohanku kemarin dengan Furqon.

Aku bertemu Furqon hanya sekali. Ketika menjenguk Mbak firda, putri sulung Paman Syamsul yang baru melahirkan putra pertamanya. Saat itu, baru ku tahu kalau Furqon ternyata putra Paman Syamsul.

“Abahmu sudah menerima lamarannya,” lirih suara Umi, namun seperti belati yang mengiris hatiku.

            “Kamu sudah kenal kan, dengan Furqon? Katanya dia kuliah di Universitas yang sama dengan kamu.”

            “Tapi kenapa Abah sama Umi tidak meminta persetujuan Nay dulu, Mi?” serak suaraku mencoba menunjukkan keberatan.

            “Kami pikir, tak perlu meminta persetujuanmu, kita juga sudah kenal lama dengan keluarga Paman Syamsul. Dia dari keluarga baik-baik. Pasti anaknya juga baik,” bela Umi

“Andai saja Abah dan Umi tahu, bagaimana perilaku Furqon?” bisik hatiku tanpa bisa aku keluarkan di depan Abah dan Umi. Aku tak  kuasa menorehkan luka di hati mereka.

Aku memang tak mengenal Furqon. Tapi, siapa yang tak tahu Furqon? Anak asrama putra yang pacarnya tersebar di penjuru kampus. Bukan hanya itu, sering aku melihatnya di depan asrama puteri, berdiri tanpa rambut di kepala sambil membaca Al-qur’an. Sebagai hukuman karena melakukan pelanggaran berat di asrama.

 Kandas sudah harapanku, untuk bisa mendapatkan pasangan hidup yang bisa menjadi Imam dalam rumah tanggaku. Dan menyempurnakan ibadah kami. Bagaimana bisa aku berharap pada sosok sepertinya? Aku hanya bisa menerima saja keputusan orang tuaku karena aku tak ingin mendapatkan murka kedua orang tuaku.

 “Ridlallah fi ridlal walidain,” demikian bunyi hadits yang pernah aku dapatkan di asramaku. Ridla Allah ada pada ridla kedua orang tuaku.

***

            Aku terkejut mendapati seorang pria duduk di depanku, saat aku tengah tenggelam dalam buku teori akuntansi di kantin. Aku tengah menunggu allya, sahabatku yang sedang memesan makanan. Ada rasa marah dan geram namun aku berusaha menetralkan suasana hatiku. Aku lihat ia sekilas, lalu ku lanjutkan kembali mengedarkan mataku pada barisan huruf dalam buku yang saat ini ku pegang.

            “Aku minta maaf, Nay, aku tak bisa menolak perjodohan ini,” ucapnya pelan. Aku hentikan bacaanku menghargai seseorang yang tengah berbicara di depanku.

            “Aku merasa bersalah sama kamu, aku tahu aku tak pantas bersanding denganmu,” lanjutnya. Aku berusaha mendengarkannya meskipun pada kenyataannya hati ini memerintahku untuk beranjak dari tempatku. Namun nuraniku mencegah agar aku tetap mendengarkannya.

            “Aku tak tahu. Haruskah aku sedih ataukah harus bahagia dengan perjodohan ini?” aku tak mengerti terutama pernyataannya yang terakhir.

            “kita sungguh berbeda, bagai langit dan bumi. Prestasimu sungguh gemilang, reputasimu di kalangan teman-temanku sangat cemerlang. Sementara diriku, aku yakin kamu pun tahu siapa diriku. Saat melihatmu datang bersama keluargamu ketika menjenguk Mbak Firda, sempat terbesit dalam benakku, seandainya wanita sepertimu hadir dalam kehidupanku aku janji aku akan berubah.”

            Ia membuang pandangannya jauh entah kemana. “Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, kau benar-benar datang dalam kehidupanku. Aku benar-benar tak menyangka, ” ia tersenyum kecut lalu melanjutkan, “Terkadang aku tersenyum sendiri mengingat sesuatu yang sempat terbesit dalam pikiranku. Akhir-akhir ini aku sering memikirkan hal tersebut, sehingga aku putuskan untuk menemuimu.”

            Ia menarik nafas perlahan dan menyeruput coca-cola yang sedari tadi ia biarkan kehilangan hawa dinginnya.

            “Nayla, aku sadar selama ini aku salah, aku khilaf, aku tersesat di belantara kesenangan sesaat yang jauh dari jalan-Nya. Maka dari itu aku mohon bantu aku untuk bisa menemukan jalan untuk kembali.”

            “Aku tahu pasti kau sangat kecewa pada orang tuamu dengan perjodohan ini. Tapi aku mohon, padamu beri aku kesempatan untuk menjadi seseorang yang pantas untuk bersanding denganmu. Bantu aku menemukan kembali hatiku yang sempat tersesat!”

            “Aku berharap engkau masih menyisakan ruang di hatimu untukku. Menjadi bagian dari hidupmu. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa memasuki ruang hatimu?” diam menyelimuti kami setelah panjang kali lebar ia menguraikan kata-katanya.

Setelah sekian lama aku terikat dalam diam, menjadi pendengar setia akhirnya keluar juga kata dari mulutku, “Jujur kau sudah menghancurkan semua mimpiku, mimpi mendapatkan seorang pendamping hidup yang bisa menjadi imam dalam rumah tanggaku nanti. Namun, aku tak berhak menutup hatiku pada hamba-Nya yang memang berniat untuk kembali pada-Nya. Jangan pernah berubah karena diriku, berubahlah karena Dia sang pemilik hatiku dan hatimu. Mintalah selalu pada-Nya agar menyisakan ruang di hatiku untuk dirimu.”

“Satu yang ku harapkan, seorang pemimpin yang dapat menahkodai bahtera rumah tanggaku nanti untuk berlabuh pada ridla-Nya. Jadilah dirimu sendiri, jika sekiranya kau telah yakin bisa memimpin rumah tangga kita nanti. Maka insyaallah akan semakin terbuka pintu hatiku yang dapat engkau masuki.” Ku akhiri perkataanku lalu meninggalkannya yang membatu.

***

Jantungku sempat terhenti beroperasi. Seorang pria merangkul seorang cewek berjalan dari arah yang berlawanan denganku. Sang pria yang kemarin memaparkan janji-janji palsu. Ia segera melepas rangkulannya ketika pandangannya sejenak singgah pada bola mataku. Aku membiarkan semuanya berlalu begitu saja. pemandangan yang tanpa bisa ku pungkiri menggores sisi hatiku.

Memang tak seharusnya aku percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut berbisanya. Jujur aku merasa terkhianati. Segera ku hapus racun yang mulai menjalari hatiku. Aku mencoba berkonsentrasi pada materi kuliah yang disampaikan pak Rudy.

Dengan gontai aku menyusuri koridor fakultas ekonomi setelah mata kuliah pek Rudy berakhir.

“Nay, kejadian tadi tak seperti yang kamu lihat,” Furqon berusaha mensejajari langkahku. Bagai sengatan listrik aku mempercepat langkah kakiku. berusaha menghindar dari sosoknya yang membuatku muak. Namun semakin aku menghindar ia semakin menghantui langkahku.

Furqon terus mengejar dan mensejajari langkahku yang semakin cepat. Merasa risih dengan tingkahnya yang berusaha menahanku dengan mencoba menarik lenganku. langsung saja ku mengerem langkahku. Ia menarik langkahnya sedikit menjauhiku.

“Maaf, aku gak bermaksud mengganggumu,” ucapnya seraya mengangkat tangan dengan gestur penyesalan

“Kamu jangan salah paham dulu, dengarkan dulu penjelasanku!” ia berusaha menyakinkanku.

“Aku janji aku akan berubah, tapi aku butuh waktu. Aku…..”

Secepat kilat aku memotong ucapannya “Aku tak pernah memintamu untuk berubah. Berubahlah jika kau ingin berubah. Tapi jangan pernah berjanji karena aku tak akan pernah percaya. Permisi. Assalamualaikum,” aku meninggalkan ia yang mematung.

Sebelum ia kembali mengejar, aku tarik gas langkahku menjauhinya. Membiarkan suaranya yang memanggil namaku menghilang bersama angin lalu.

Hilang sudah kepercayaanku padanya. Tak akan lagi aku percaya dengan harapan yang pernah ia janjikan padaku. Karena semua hanya harapan kosong. Ia padamkan sinar harapan yang baru kemarin ia nyalakan. Dan hari ini ku padamkan juga kepercayaanku padanya. Ku hapus setitik air yang mengembun di pelupuk mataku. Mencoba menghapus luka yang ia goreskan di dinding hatiku.

***

Waktu telah berlalu meninggalkan perbincangan kami, Akupun saat ini tengah sibuk mengurus skripsi. Selama 2 tahun itu juga tak ada komunikasi di antara kami. Meski belakangan ini aku jumpai Ia semakin aktif dalam lembaga dakwah kampus. Tak jarang pula ku jumpai tulisannya menempel di mading masjid. Bisa dikatakan ada banyak perubahan pada dirinya.

Ku melintasi jalan menuju fakultas ekonomi untuk menghadap dosen pembimbingku. Sekilas ku berpapasan dengan sosok yang sudah tak asing lagi bagiku. Sosok yang 2 tahun lalu pernah menggoreskan kecewa di hatiku. Sosoknya kini sangat berbeda, dengan balutan hem kotak-kotak warna abu-abu yang dipadu celana panjang. Wajahnya lebih bersinar dengan dihiasi sedikit jenggot di dagunya.

Sejenak bola mataku sempat beradu dengan bola mata Furqon yang tengah keluar dari ruang dosen. Langsung ku tundukkan pandanganku membiarkan ia berlalu. Mencoba menepis rasa yang sempat menggejolak, entah dari mana asalnya.

 “Oh, Mbak Nayla. Ayo masuk Mbak!” panggil bu Shafia yang melihatku di ambang pintu ruang kerjanya.

“Iya, makasih, Bu,” ucapku seraya duduk di depan Bu Shafia. Ku sodorkan draft skripsiku di hadapan beliau.

“Agar Mbak Nayla bisa ikut sidang 2 minggu lagi, revisian ini harus selesai dalam 1 minggu ini,” komentar Bu Shafia setelah membubuhkan corat sana corat sini pada lembar skripsiku.

Memang skripsiku sempat kuanggurkan selama 2 bulan gara-gara mengejar deadline agar cerpenku bisa tembus penerbit. Sehingga deadline skripsiku harus ku kejar dengan kecepatan penuh.

 “2 minggu lagi ada sekitar 25 mahasiswa yang sudah bisa mengikuti sidang. Termasuk salah satunya tadi Furqon yang skripsinya sudah di acc. Termasuk cepat dia menyelesaikan skripsinya. Ibu gak nyangka padahal dulu pada smester-smester awal anaknya jarang sekali masuk,”

“ternyata dia benar-benar berubah, dosenpun mengakui perubahannya,” batinku.

Ku langkahkan kaki dengan begitu ringan. Beratnya beban untuk merevisi ulang skripsi tak lagi ku rasa. Mendapati sosok yang ku harapkan telah menjadi sosok yang sangat berbeda dari 2 tahun lalu. meski sebelumnya pernah ia rusak taman hati ini dengan hama perbuatannya. Namun kini dia seperti datang mengharumkan bunga-bunga yang bermekaran di taman hatiku.

Meski sedikit tanya mengundang ragu, kaukah imamku? Namun segera ku yakinkan bahwa Allah Maha pengabul. Atas doa hamba-hamba-Nya yang benar-benar berharap.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) … .” (QS. An Nur : 26)

Demikian bunyi ayat-Nya yang selalu ku pegang teguh, meski sebelumnya sempat tergoyahkan. Ku rasakan semakin bersinar cahaya yang menyelinap di balik asaku. Harapan untuk mendapatkan peminpin yang baik dalam rumah tanggaku nanti. Namun serapi mungkin ku tata hati ini agar dapat menjaga rasa ini karenaNya. Saat ini yang perlu aku lakukan adalah menjaga diriku agar menjadi pribadi yang pantas bersanding dengan lelaki baik yang Allah janjikan. Menjadi wanita yang dipelihara oleh Allah.

“Maka wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya, oleh karena itu Allah memelihara mereka.” (QS. An Nisa’ : 34)