Oleh : Yanuari Dwi Prianto

Sebuah kisah tersibak dari seorang yang sedang berjuang untuk menuntaskan kelulusannya di sebuah universitas negeri di Madura. Anwar namanya. Sedikit biografi tentangnya adalah seorang pemuda yang mencoba dengan susah payah menuju kedewasaannya dengan hijrah menuntut ilmu di tanah orang. Berangkat dari ketidakberadaan keluarga, ia mencoba memikul semua beban biaya dan segala macam ujian kehidupan sendirian. Pada frame ini, setelah kurang lebih 4 tahun 6 bulan, satu ujian pada diri sang Anwar tertuliskan.

Tepat waktu istirahat ba’da shalat jumat, semua persiapan untuk bimbingan tugas akhir telah dilengkapi. Karena tepat pada saat jarum pendek mengarah ke angka 1 dan jarum panjangnya ke angka 12, ia harus segera meluncur menemui seorang ibu, Dosen Pembimbing Tugas Akhir-nya. Dengan singkat dan dilengkapi denga jutaan semangat, Anwar mencoba memaparkan setiap perkembangan buah pikiranya. Lugas ia menyampaikan. Tenang. Tapi terkadang dengan terbata, kala mengingat pendaftaran untuk sidang tinggal minggu depan. Sayangnya,  bukan satu minggu, tapi tiga hari lagi.  Tertera dengan jelas di blog pengumuman, pendaftaran pada tanggal 9 -13 Januari 2012.

Anwar kali ini cukup optimis dan pikiran positifnya mengharapkan restu dari sang pembimbing untuk dapat maju sidang pada kesempatan ini. Sambil melihat-lihat isi laporan, sebuah pertanyaan meluncur dari sang pembimbing, “kamu belum bisa mendemonstrasikan sistemnya ya?” “Iya bu,” jawab Anwar singkat. “Kamu beberapa kali bimbingan hanya membawa draft saja. Saya belum bisa menilai jika belum melihat sistemnya. Desain databasenya saja saya belum pernah melihat. Jika yang sudah kamu buat itu benar, tak jadi masalah. Tapi jika salah?” Sang pembimbing diam sejenak. “Pendaftaran sidang sudah minggu depan, dan sepertinya saya hanya bisa mengatakan kalau kamu belum mencapai 50% untuk siap maju sidang periode ini.” Panjang lebar sang pembimbing melanjutkan, “tapi kalaupun kamu tidak maju sekarang, masih ada kesempatan bulan April mendatang. Hanya saja Pembimbingmu yang satu lagi sedang studi lanjut dan saya sendiri berencana menghilang.

Hanya tertunduk Anwar mendengarkan pidato yang masih akan terurai itu. “Kalau kamu memaksakan maju pada kesempatan ini, itu tidak mungkin. “Kamu lihat sendiri, laporanmu masih kacau balau begini. Lagipula di kampus ini belum banyak dosen yang paham tentang semantic web. Kenyataannya memang begitu. Apa kamu yakin bisa berhadapan dengan resiko yang sangat besar?” Tantang sang ibu pembimbing. Hati Anwar sebenarnya sudah sama dengan gedung WTC yang dihantam pesawat pengebom beberapa tahun lalu itu. Kepercayaan diri, semangat, dan rasa optimis Anwar runtuh seketika. Manusiawi baginya, siapapun yang berada pada posisinya saat ini, pasti akan merasakan hal yang sama.

Cukup bijak yang dilakukannya kemudian. Anwar mencoba diam sejenak, menundukkan kepala, beberapa kali menghirup nafas panjang kemudian dengan pelan ia hembuskan. Tenang, itu yang ia paksakan pada dirinya. Itulah cara dari beberapa trainer yang diajarkan padanya, pada beberapa kali  training motivasi yang ia ikuti. Sebuah tips untuk menenangkan diri, mengontrol amarah dan emosi. Ajaib. Terkembang senyum tipis pada bibirnya, membuatnya tegak dalam duduknya, sebelum sang ibu melemparkan sebuah tanya, “terus bagaimana?” Dengan senyum menghias, Anwar menjawab, “Tidak tahu bu.” Sekalipun keluar dari mulut yang tersungging senyum, jawaban tidak tahu mewakili kalimatnya yang lesu. Pertanda ia telah patah arang dan semangatnya telah menguap. Sebuah penanda akan kebuntuan pikiran dan kobaran rasa optimisnya yang telah padam.

Tetapi tunggu dulu, sebenarnya Anwar hanya sedang menyembunyikan sesuatu, motivasi tersembunyi yang tersimpan dalam hatinya. Di dalam kalbunya tengah berdendang riang, “tidak tahu Bu, tidak tahu karena aku butuh waktu untuk menghadap Rabbku. Tidak tahu karena kubutuh munajat, bersujud pada-Nya tuk minta jawaban dari pertanyaanmu. Tidak tahu, karena hanya Rabbku yang berhak mengatur segala urusanku.  Oleh karena itu ibu, maaf kalau kujawab tidak tahu padamu, karena kuharus minta jawaban pada Tuhanku dulu sebelum menjawab pertanyaanmu.”

Begitulah sang Anwar, sepert arti namanya, yang selalu bercahaya, yang bersinar. Dia selalu dapat mengobarkan semangat dari dirinya yang tengah meredup. Selalu dapat memotivasi di kala layu melanda diri. Selalu bercahaya dengan kilauan yang menerangi gelap dunianya.

Usai bimbingan, setelah adzan, dalam jeda hingga iqomah, setelah shalat sunnah qobliyah, tangan Anwar menengadah, bersimpuh dalam doa, “Wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau memberikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizki kepada siapa saja yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan. Sungguh mudah bagi-Mu untuk membuat ketentuan atas hamba-Mu, hamba yang lemah yang hanya dapat momohon dan meminta kepada-Mu. Ya Allah, lapangkanlah bagi Pembimbingku, dosenku, guruku, orangtuaku, keluargaku, saudaraku, dan teman-temanku urusan dan rizki mereka. Mudahkan bagi mereka untuk mencapai rahmat-Mu. Ya Allah, mudahkan bagiku urusanku, mudahkan proses TA-ku, anugerahkan untukku kepahaman dan ilmu yang bermanfaat. Jika tidak ya Allah, jadikan aku hamba yang sabar dalam menerima segala ketetapan-Mu. Tetapkan ketentuan-Mu yang terbaik bagiku. Hanya pada-Mu ku berkeluh dengan penuh simpuh. Amin.”

Benarlah janji-Nya, siapa yang berkenan bermunajat pada-Nya atas kesulitan yang ada, tak lama pasti kemudahan kan segera menyapa. Barangsiapa yang dengan tawakkal memohon kepada Yang Kuasa, pasti tak akan lama datang berbagai jawaban dari banyak pertanyaan, juga solusi dari sekian banyak permasalahan yang ada. Anwarpun menjadi saksinya, menjadi sosok yang tegar, karenah telah menuai hasil dari menanam keyakinannya. Anwar melangkah dengan jawaban dari Allah, yang Maha Merajai seluruh Alam.

Penulis adalah Mahasiswa semester akhir Universits Trunojoyo Madura (UTM) yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, pertanian, dan ekonomi sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Direktur dari Genius, lembaga motivasi dan pengembangan diri, yang berfokus pada caracter building bagi anak-anak dan para remaja, pada skala SMP, SMA dan Mahasiswa. Juga sebuah lembaga yang  menangani kegiatan sosial pendidikan bagi anak jalanan, kurang mampu, hingga upgrading skill untuk guru.

Editor: Ketua Harian FLP Bangkalan. Isi sepenuhnya karya penulis.