Oleh : Intan Dina Fitri*

Bukan hal yang asing lagi ditelinga kita mendengar kata feminisme. Berbagai respon mewarnai penyambutan aktifitas feminisme yang terikat kuat dengan segudang aktifitas kaum hawa tersebut, mulai dari dukungan dengan dalih kesetaraan gender sampai pada kegelisahan umat akan lalainya kewajiban qodrati seorang feminis.

Feminisme yang merupakan gerakan yang berasal dari budaya barat adalah penyetaraan gender yang lebih tepat dikatakan sebagai gerakan kaum hawa yang didorong untuk melakukan apapun pekerjaan yang dilakukan oleh kaum adam. Feminis cenderung berperilaku sebagaimana kaum adam. Mereka tidak segan-segan dalam meneriakan slogan partai perempuan yang berisikan gertakan-gertakan semangat, dan berbagai aktifitas yang jauh tinggi mengungguli pekerjaan laki-laki. Dilain sisi dalam waktu yang sama, feminis dituntut untuk tetap tampil anggun dan menawan demi menjaga kecantikanya di mata laki-laki. Inilah yang menyebabkan hancur tak teraturnya sisi-sisi feminin dalam diri perempuan.

Kaum perempuan dan kaum laki-laki memang tercipta dengan memiliki potensi yang berbeda-beda namun tetap saling melengkapi. Oleh karenanya, Allah SWT mencipakan manusia secara berpasang-pasang. Jadi salah fatal ketika muncul anggapan bahwa kaum perempuan adalah kelas kedua, hanya dijadikan sebagai pelayan lelaki dan tidak lepas dari tiga UR alias dapur, kasur dan sumur. Bukankah kaum perempuan sangat dimuliakan kedudukanya dalam Islam?

Agama Islam sering kali disalahkan dalam kasus serupa, Islam dicap membatasi gerak bebas kaum perempuan dengan berbagai aturan yang tercipta dalam Al-Qur’an. Padahal ketika kita telusuri sejarahnya, Agama Islam lah yang menjadi awal gemerlangnya dunia perempuan. Islam hadir disaat masyarakat jahiliyah bahu-membahu memperbudak kaum perempuan dan menjadikanya alat pemuas semata. Islam juga yang mengatur begitu indahnya pembagian peran dalam kehidupan manusia antara lelaki dan perempuan untuk menjaga martabat diri keduanya.

Nilai moral dan sifat-sifat feminin seorang perempuan akan hancur berantakan ketika perempuan tidak lagi memperhatikan tuntunan Al-Qur’an. Sangat picik pemikiran beberapa golongan yang menganggap pekerjaan perempuan dalam mengasuh anak lebih rendah dibanding segudang pekerjaan yang bisa dilakukan lelaki. Bayangkan saja betapa susah dan sulitnya seorang perempuan yang melahirkan, memilihkan kadar nutrisi terbaiknya, dan juga mengajari berbagai macam pemahaman primer yang nantinya menjadi bekal sang buah hati. Begitu pula pekerjaan rumah tangga yang sebenarnya juga pekerjaan pokok serta amat penting yang memiliki derajat mulia disisi-Nya, dan tentunya bukan sekedar pekerjaan inferior atau remeh belaka.

Jadi sekali lagi bukan feminisme yang membebaskan wanita dalam belenggu, melainkan Islam. Islam menciptakan arti penting dari harmonisasi dan saling membutuhkan antara kaum lelaki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebaliknya Feminisme hanya akan menurunkan derajat dan mengeksploitasi hak-hak kaum perempuan.

*Penulis adalah ketua umum UKMF ABStra