oleh : Fathul Qorib*

Bismillah. Awal perjalanan islam bermula dari tempat yang gelap, sunyi, dan sempit di dataran tinggi tanah Arab, “gua hira”. Disinilah Nabiyullah “sayyidina” Muhammad mendapatkan wahyu untuk pertama kali dari Allah. Sejak itu, nilai-nilai Islam mengalir dalam setiap denyut kehidupan bangsa Arab dan membenahi segala macam kebodohan (jahiliah) yang pernah hidup subur sebelumnya. Seruan agama tauhid (monotheisme) ini kemudian bergaung ke seluruh dunia dan menggetarkan kerajaan-kerajaan besar seperti Persia dan Romawi yang pada waktu itu, orang-orang akan berkata “tidak mungkin akan di takhlukkan”, tapi Allah, melalui Nabiyullah “sayyidina” Muhammad kemudian menghendaki bahwa kerajaan besar itu takhluk kepada Islam.

Setelah melewati masa Makkah yang sengit, Rasulallah kemudian mendapatkan wahyu untuk berhijrah ke Madinah. Dalam fase yang relative singkat, Madinah kemudian menjadi mercusuar dunia Islam yang bersinar. Nabi Muhammad mampu menyatukan kaum muhajirin (imigran) dengan kaum anshar (native), serta memperbaiki hubungan antar suku yang sebelumnya selalu berperang dan saling mengunggulkan, menjadi Negara yang aman bagi semua golongan dan suku, penuh dengan toleransi, egalitarianisme, pluralisme, dan demokrasi. Dari sinilah konsep masyarakat yang adil, makmur, dan penuh toleransi terbentuk yang kemudian di akui dunia sebagai model masyarakat yang paling maju pada saat itu. Inilah masyarakat Madani.

Konsep masyarakat Madani saat ini sering di samakan dengan masyarakat sipil (Indonesia), civil society (inggris), societas civilis (Romawi) atau koinonia politike ( Yunani). Menurut hemat penulis, ini semata-mata upaya dari dunia barat untuk mengacaukan pemikiran kaum muslimin bahwa segala hal yang telah di mulai oleh orang muslim sebenarnya sudah lebih dahulu di fikirkan oleh orang barat. Kita kemudian tanpa sadar mengakuinya dengan menjadikan ilmuwan barat sebagai satu-satunya rujukan untuk setiap bidang keilmuan yang ada.

Konsep masyarakat madani harus di bersihkan dari pemahaman civil society. Masyarakat madani berarti suatu model masyarakat yang “bersifat” ke-Madinahan. Madinah yang berarti kota (sebelumnya bernama Yatsrib) dengan peradaban baru yang lebih dari segi keilmuan, teknologi, dan akhlakul karimah penduduknya. Belum ada kata majemuk dalam bahasa Indonesia yang pas untuk membahasakan konsepsi masyarakat madinah ini, tidak juga masyarakat sipil. Pengertian yang ada untuk masyarakat madani juga tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, namun kita bisa menemukan artinya bahwa masyarakat madani adalah masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad di Madinah atas bimbingan wahyu Allah. Mengapa tidak ada penjelasan yang ilmiah untuk itu? Jawabannya, karena Allah dalam Al Quran, ataupun Nabiyuna Muhammad dalam hadits-haditsnya, tidak membahas secara spesifik bagaimana konsep membangun masyarakat di Madinah. Namun demikian kita tetap bisa melihat jejak masyarakat Madani tersebut dari Piagam Madinah yang telah dibuat Rasulallah untuk menyatukan seluruh kabilah bangsa Arab di bawah lindungan pemerintahan islam, dari sinilah muncul istilah yang disamakan dengan nation state (Negara Bangsa).

Di Indonesia sendiri istilah masyarakat madani dan masyarakat sipil telah bercampur baur. Hanya orang-orang tertentu yang memahami bahwa konsep masyarakat madani berbeda dengan masyarakat sipil (civil society). Hal ini seperti yang disampaikan oleh Raharjo (1999 : 27-28) bahwa secara empirik, istilah civil society adalah terjemahan dari istilah latin civilis societas yang mula-mula dipakai oleh Cicero (106-143 M) seorang orator dan pujangga Roma, pengertiannya mengacu pada gejala budaya perorangan atau masyarakat. Sebenarnya hal ini sudah jelas, dilihat dari segi apapun, masyarakat madani berasal dari kebudayaan bangsa Arab – Islam, sedangkan civil society berasal dari Barat – Non Islam. Secara landasan berfikirpun sudah pasti berbeda. Masyarakat Madani menggunakan dasar undang-undang Al-Quran dan Hadits, sedangkan civil society menggunakan dasar undang-undang buatan manusia sendiri.

Untuk menjadi kajian sekarang adalah, bagaimana upaya umat muslim untuk menerapkan lagi masyarakat madani seperti yang telah di teladankan oleh Rasulallah tersebut. Karena seperti yang kita ketahui, masa kepemimpinan Rasulallah hanyalah sebatas beliau berada di Madinah, sehingga konsep masyarakat Madani ini belum pernah teruji kualitasnya di Negara-negara yang lain. Sedangkan konsep masyarakat sipil (civil society) telah teruji oleh bangsa barat –ada yang mengatakan sejak masa Aristotle telah ada- hingga sekarang dan telah mencapai puncak kejayaan di Amerika Serikat.

*Penulis mukim di Lamongan, aktif di FLP Bangkalan