Yanuari Dwi Prianto*

Ada asap, pasti ada api. Ada sebab dan akibat. Ini adalah sebuah hukum mutlak yang ditetapkan Sang Pencipta bagi setiap makhluqNya, dan semua jagad raya beserta isinya. Pada dasarnya setiap yang kita rasa pada masa ini merupakan akibat dari berbagai sebab masa silam. Ilmu, budaya, teknologi dan semua aspek kehidupan yang pada saat ini dengan lahap kita nikmati adalah buah keringat dari jerih payah para pendahulu kita.

Al-Qur’an dalam bentuk buku yang sekarang dapat kita baca setiap saat merupakan hasil goresan tinta dari tangan-tangan mulia yang dikehendaki Allah SWT, Zaid bin Tsabit, ali bin Abi talib, Muawiyyah bin Abu Sufyan, dan Ubay bin Kaab yang secara teliti menuliskan ayat demi ayat Kalamullah yang turun kepada Muhammad, Rasulullah. Dibukukan pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq atas ide dari Umar bin Khaththab, dan distandarisasikan penulisan huruf dan qira’atnya pada masa Utsman bin Affan, sehingga pada saat ini kita dapat membacanya dengan dialek yang satu padu. Niscaya tidak akan pernah kita mengenal apa itu Al-Qur’an jikalau tidak ada upaya dari pendahulu kita untuk membukukannya.

Jauh setelah itu, terdapat sebuah pemerintahan Islam yang gemilang hingga seluruh penjuru dunia menyebut masa itu The Golden Age of Islam. Masa keemasan ini dipimpin oleh seseorang yang paling baik pada masa itu, mulia akhlaqnya, tidak suka foya dah hura, hidup jauh dari glamour dunia, dialah Khalifah Harun Ar-Rasyid. Beliau orang yang mencintai ilmu dan para penuntut ilmu, mengagungkan kehormatan Islam dan membenci debat kusir dalam agama dan perkataan yang bertentangan dengan Kitabullah dan as-Sunnah an-Nabawiyyah. berangkat dari kecintaannya terhadap ilmu ini dia mengabadikan kitab-kitab buah pikir para ulama’ di zamannya dengan membuat sarana belajar-mengajar terbesar pertama di dunia, Darul Hikam, Perpustakaan ribuan kitab yang akhirnya diubahnya menjadi Perguruan Tinggi, tempat terpancarnya cahaya keilmuan pengusir kejahiliyyahan, pencetak generasi umat islam yang menjadi rujukan dalam semua bidang keilmuan.

Bemula dari semua itulah, bermunculan ulama-ulama gemilang pilihan zaman, yang bukan saja pandai isi otaknya penuh pemikiran, tetapi juga lincah tangan menulis bermacam kitab rujukan untuk generasi masa depan. Hingga saat ini kita dapat mengenal sekalipun tak bertatap, bermacam ulama dan tokoh-tokoh mulia Islam terdahulu melalui buah tulisnya, seperti Imam Al-Bukhari dengan Sahih bukharinya, beserta muridnya Muslim dengan Sahih Muslimnya. Tidak ketinggalan sang Hujjatul Islam Al ghazali dengan Ihya’ Ulumuddinnya, juga An Nawawi dengan Riyadush sholihinnya. Dan bukan itu saja, terdapat ratusan bahkan ribuan ulama berdampingan juga dengan ribuan karyanya yang tersebar pada dunia, menjadi rujukan berbagai sendi kehidupan, ilmu, teknologi, sosial, Ekonomi, budaya, dan tentunya Agama.

Pernahkah kita berfikir bagaimanakah dampaknya isi dunia ini jika tidak ada tangan-tangan ahli yang bersedia dengan gigih menuliskan setiap ilmu, ide atau gagasan yang terbersit dalam otak mereka? Maka benarlah apa yang disampaikan oleh shahabat Ali bin Abi Thalib ra, bahwa “Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya”. Itulah sebab kenapa kita harus menulis? Karena menulis bukan hanya untuk mengabadikan ilmu yang ada, tetapi menulis untuk mencipta sejarah, sejarah keilmuan dan peradaban, bukan hanya untuk masa ini tetapi juga untuk masa depan.

Mereka, para ulama pendahulu kita telah berani menuliskan, bukan saja menuliskan ide dan gagasan tapi juga menuliskan sejarah masing-masing diri mereka di masa depan. Panjang umur mereka karena setiap waktu namanya terucap dan terkenang melalui buah hasil goresan penanya, hingga saat ini mungkin juga hingga beberapa waktu kedepan. Begitulah, Ali Mustafa Yaqub menegaskan karya-karya tulis akan kekal sepanjang masa. Sementara penulisnya hancur terkubur di bawah tanah.

Mereka, para ulama salaf telah membuktikan kekuatan besar dalam tulisan. Kekuatan yang mampu menjadi penerang, menjadi mercusuar sebagai navigasi kapal-kapal keilmuan pembangun peradaban dan pencipta sejarah kehidupan. Dan karena sebab itulah, karena tulisan, mereka dikenang sepanjang zaman.

“Jika engkau tidak ingin dilupakan segera setelah berkalang tanah nantinya, tulislah sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak ditulis.” Kata Benjamin Franklin. Menulislah, dengan menulis kau kan mencipta sejarah.

* Tulisan ini didedikasikan terkhusus untuk para penulis ataupun calon penulis, seluruh anggota juga pengurus FLP bangkalan. Mari bersama ubah dunia dengan tulisan, bangun peradaban dari gores tinta pencerahan nan mencerahkan. ^_^