Oleh: Yanuari Dwi Prianto*

 “Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan Cinta-Mu, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan”, begitulah bunyi nada dering ponselku, lagu berjudul Doa Rabithah yang dinyanyikan oleh Tim Nasyid Izzatul Islam. Ternyata ada nomor baru yang sedang memanggilku.

“Assalamu’alaikum., Afwan mengganggu waktunya antum ustadz,. Benar ini dengan ustadz Anwar?”

Gugup suara penelfon di seberang, yang kemudian memperkelankan diri berasal dari JMMI (Jama’ah Masjid Manarul ‘Ilmi) salah satu nama Lembaga Dakwah Kampus ternama, di Perguruan Tinggi yang ternama pula, ITS.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh., iya benar dengan saya sendiri, insya Allah tidak mengganggu, saya lagi santai juga kok. ada yang bisa saya bantu?” jawabku tenang, mencoba juga memberikan ketenangan kepada Wijaya, penelepon yang mencoba menata pola bicaranya yang terbata-bata.

“Begini ustadz, kami di ITS sedang mengadakan Mabit dengan tema ‘Menelisik Keteladanan Muhammad Al-Fatih’, pemateri inti juga pemateri alternatif yang sudah kami siapkan ternyata kedua-duanya berhalangan untuk hadir, rekomendasi dari kakak senior adalah antum ustadz, bagaimana ustadz? Antum bisa mengisi materi sesuai tema tersebut untuk mabit malam ini?”.

Masyaallah, ini berita yang sungguh mengagetkan. Sekalipun aku sering mengisi ta’lim, seminar, atau materi yang dadakan tapi rasanya ini berbeda. Dengan tanpa persiapan apapun aku diharapkan hadir untuk mengisi acara di lumbung kader-kader tarbiyah, selain juga kebonafidan kampus yang cukup membuatku ciut nyali untuk memasang muka disana.

“Maaf mas wijaya, bukannya saya menolak, tapi saya merasa saya tidak mampu untuk mengisi materi pada acara yang mas adakan, selain juga wawasan saya yang teramat kurang untuk dapat menyajikan materi sesuai tema. Saya khawatir tidak bisa menyajikan materi dengan optimal yang justru mengecewakan peserta Mabitnya nanti.” Tegasku, mencoba untuk menolak sebuah permintaan yang memang sepertinya tidak mampu untuk aku realisasikan.

“Ayolah ustadz, kami mohon.., karena memang tidak ada pemateri lain lagi yang bisa.” Dengan suara yang amat melas wijaya meminta, yang sepertinya juga mulai meluluhkan hatiku untuk mencoba memberanikan diri mengiyakan tawaran itu, dengan niat untuk menyelamatkan acara mereka, acara Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) untuk memberikan tambahan ilmu bagi untuk para kader dakwah yang mencoba membuat perubahan melalui gerakan perbaikan akhlaq pribadi mereka dengan berteladan pada tokoh-tokoh sentral masa kegemilangan Islam.

Hanya satu hal yang tersirat pada otakku saat itu, ayat ke-7 dari surat Muhammad dalam Al-Qur’an, “Yaa Ayyuhalladzina aamanu intanshurullaha yanshurkum wayutsabbit aqdaamakum.” Jika kita berkenan dengan ikhlas menolong apapun upaya untuk memuliakan islam, niscaya Allah juga akan menolong kita.

“Baiklah kalau begitu, Insya Allah.” Begitu jawabku dengan yakin, insya Allah, Dia yang akan memampukanku untuk dapat menyampaikan materi dengan baik.

“Rabbisyrohlii shodri; wayassirlii amrii; wahlul uqdatammillisaani; yafqohuu qoulii.” Itu gumamku dalam hati, memohon kepada-Nya untuk melapangkan dada, memudahkan urusan, melepaskan kekuatan dari lidahku, dan membuat pendengarku mengerti perkataanku.

“Jazakumullah ustadz kami tunggu di Manarul ‘Ilmi.” Sahut Wijaya dengan berbunga.

“Oh iya mas wijaya, tolong jangan panggil ana ustadz ya, panggil saja dengan sebutan Akh, Mas, atau sesuai nama saya.” Sambil lalu mengakhiri panggilan kusematkan pesan tersebut.

Iya, mungkin lebih baik aku dipanggil seperti biasa, seperti layaknya orang-orang biasa. Karena sebenarnya, akupun baru mengenal Islam, baru belajar tentang Islam. Jadi sangatlah tidak pantas diri ini dengan wawasan yang masih begitu terbatas mendapatkan gelar ‘ustadz’. Panggilan ustadz sepertinya terlalu mulia untuk diri yang masih sarat akan dosa. Terlalu berat untuk tersemat dalam diri yang rapuh bagai besi yang terkarat.

Karena juga terlalu buram masa lalu ku untuk untuk dengan mudah menerima sebutan itu.

Selama perjalanan, sibuk otak ku membuka-buka album memori masa lalu. Masa dimana aku masih berlalu lalang di belantara dunia untuk mencari jati diri yang sebenarnya.

Teringat waktu masa SMP, yah.. ingin tertawa rasanya kalau mengingat masa itu. Seolah aku tengah melihat anak kecil yang pendek, kurus tapi nakalnya minta ampun. Sekalipun bertubuh pendek tapi cukup disegani dan ditakuti, dia terbiasa “majeki” dalam bahasa jawa yang berarti meminta uang pada teman-temannya untuk jajan, kalau tidak memberi, ya bersiap saja untuk babak belur dipukuli.

Pernah suatu ketika sosok kecil ini diminta untuk meminta kapur tulis ke kelas sebelah, karena persediaan kapur tulis di kelas telah habis. Bertepatan juga dengan jadwal piketnya waktu itu, ya.. dengan lincah dia coba meminta kapur ke kelas sebelah.

Setibanya di kelas sebelah, dengan sikap sopan yang berusaha menutupi sikap liarnya dia memohon meminta kapur tulis pada guru yang tengah mengajar disana.

“Maaf pak Edi, boleh minta kapur pak? Kapur di kelas saya habis.”.

“Tidak boleh..!” jawab sang guru dengan keras dan nada membentak.

Hilang sudah rasa hormat si Anwar kecil ini, bagaimana tidak? Dia sudah berusaha dengan  baik meminta tapi dibalas dengan bentakan keras memekakkan telinga.

“Dasar Pak Edi pelit..!” teriaknya dengan geram.

Sontak, dengan wajah memerah sang guru mendatangi anwar kecil dan mencoba memukulnya, tapi dengan gesit anwar kecil menangkis dan tanpa sungkan anwar kecil pun membalas pukulan itu. Singkat cerita terjadi perkelahian yang sangat sengit antara guru dan anwar, heboh, hingga mengguncang SMP dan seluruh dewan guru.

Sudah resiko seorang siswa nakal, harus tercatat dalam daftar hitam dan pulang tanpa sepatu sebagai sanksi sosial. Tapi sepertinya di wajah anwar kecil terdapat cahaya binar, rasa lega karena telah bisa menghajar seorang guru yang paling menjengkelkan di sekolahnya, guru yang mengajar dengan tidak tertata, killer, dan parahnya suka colek sana colek sini pada murid putrinya.

Yah., kenakalan masa lalu ku itupun berlanjut hingga SMA, bukan malah mereda, tapi justru merajalela. Mulai kenal rokok, miras tapi untung masih terjaga dari narkotika, sebuah kebiasaan wajar menurutku pada masa itu, iyalah remaja gitu loh. Bukan saja di SMA tapi juga terkenal nakalnya se-Kota. Suka tawuran, menghadang guru bahkan kepala sekolah yang berencana pulang.

Semua berujung dengan pemboikotan nama ‘Anwar’ di kota itu, hingga terpaksa pada kenaikan kelas dua SMA aku haru mengasingkan diri ke kota santri, Jombang, berharap ada hidayah yang dapat menolongku dari keterputukan moral. Tapi, ukan saja moral tapi juga agama, selama ini aku tidak pernah sholat, mungkin sempat sholat itupun kalau sempat, apalagi tilawah Al-Qur’an, terlebih hadist atau wawasan keislaman lain, semua itu tampak ‘katrok’, kuno dalam pandanganku. Astaghfirullah..

Alhamdulillah, benar adanya, di sekolah yang baru aku mulai berteman dengan anak-anak yang ‘baik’, anak-anak OSIS. Aku mulai belajar agama, mencoba menjadi sosok yang berbeda.

Tetapi tetap saja, terdapat penyakit kronis para remaja yang mewabah pada masa itu, sekalipun sudah tertanam sedikit nilai agama tidak sedikit kawula muda yang terjangkit dengan akut penyakit ini, ‘pacaran’.

Pacaran, sebuah hubungan lelaki dan perempuan yang jelas haram dan penuh ke-mudzarat-an seolah menjadi kebiasaan bahkan budaya yang penuh akan pembenaran.

Bagaimana tidak haram? Belum adanya secara sah ikatan tapi sudah pegangan tangan, ciuman, pelukan, bahkan hal yang paling ‘menjijikkan’.

Bagaimana tidak penuh ke-mudharat-an? Kalau sudah melakukan ini itu, hingga terjadi kecelakaan, terenggutnya kesucian, terus ‘masuk angin’ siapa coba yang dirugikan? Perempuan.

Bukan hanya sebatas itu, orang tua, bahkan masyarakat juga akan terkena imbasnya. Kemudian aborsi jadi solusi, bunuh diri seolah menjadi malaikat yang mengobati.

Kalau lelaki dengan bebas masih bisa melenggang sana sini.

Akupun sempat terjerumus pada jurang itu, malah bukan hanya satu. Mengoleksi  perempuan sebagai cadangan untuk bersenang-senang.

Astaghfirullah, semoga Engkau berkenan untuk mengampuni segala kekhilafan hamba ya Allah.

***

“Mari kita simak bersama, bagaimana kisah hidup Muhammad Al Fatih yang akan disampaikan oleh Al Ustadz Anwar, kepada ustadz Anwar dipersilahkan. Monggo ustadz..,”.

Bayangan masa laluku terpecah mendengar suara yang sudah tidak asing bagiku, suara terbata yang keras dan ‘ngebas’, ternyata Wijaya yang beberapa waktu menghubungi ku berada di samping sebagai moderator pada acara itu.

Tanpa sadar aku sudah berada didepan para peserta mabit, yang semua tampak berwajah begitu terang, sosok hanif, alim dan begitu menyenangkan jika dipandang, berbeda dengan diriku yang tampak buram karena masa lalu yang kelam.

Aku berusaha menepis semua pesimis. Dengan tegap menatap kedepan dan menyampaikan dengan lugas tentang keteladanan Sang Pedang Malam, Sultan Muhammad Al Fatih yang mengibarkan panji Islam dengan meruntuhkan kejayaan Byzantium Roma di Konstantinopel.

Alhamdulillah, beserta hembusan nafas panjang mengiringi berakhirnya acara. Peserta berhamburan bergantian untuk mencoba menyapa dan berjabat tangan. “Mantab ustadz, jazakumullah” kata beberapa peserta yang memberikan pernyataan puas dengan penyajian materi olehku.

Panitia pun berkumpul, dan memberikan acungan jempol, wijaya pun berceloteh dengan wajah riangnya, “Subhanallah, luar biasa ustadz. Lain waktu kita undang lagi ya ustadz untuk ngisi materi di sini.”

“Insya Allah, tapi jangan panggil ustadz terus ya..,” jawabku dengan tenang. Karena dengan merasa agak kebingungan aku masih tidak percaya dengan pujian mereka, apakah benar tadi aku menyampaikan dengan baik? Padahal aku hanya menyampaikan sekerat pengetahuan yang tanpa sengaja dulu sempat terbaca dalam sebuah buku tentang sejarah islam. Padahal aku hanya mengalirkan setiap kata yang secara tiba-tiba terbersit dalam hati untuk kusuarakan.

Maha Besarlah Allah dengan segala kuasanya., yang telah melancarkan pikirku, melugaskan lidahku, untuk berbagi sedikit ilmu. Ini merupakan pelajaran yang berharga bagiku.

***

Pada simpuh tahajjudku, masih terbersit dalam pikirku kisah-kisah masa lalu. Merasa sangat tidak pantas aku mendapat segala puji, tidak pantas aku tersebut sebagai ustadz.

Tapi pada malam ini, aku ingin menyatakan syukurku padamu-Nya, “Ya, Allah yang Maha Terpuji dan Pemiliki segala Pujian, ku nyatakan syukurku pada-Mu, yang telah mempertemukanku dengan saudara-saudara Tarbiyyah di kampusku yang dulu telah membimbingku, mengentaskanku dari jurang kehinaan, mengajarkanku membaca Firman-firman-Mu, menuntutku untuk mengamalkan setiap ilmu dari-Mu.”

“Ya Allah, Engkaulah yang Maha Suci dari segala kehinaan, Engkaulah yang Maha Mulia dari segala kenistaan. Engkau maha tahu kalau hamba ini kotor Ya Allah, penuh noda dan dosa, khilaf dan lalai terhadap perintah-Mu. Hamba hanya mampu untuk mencoba memperbaiki diri, menebus segala dosa di masa laluku dengan ketaatan kepada-Mu, mencoba melangkahkan setiap jengkal kaki sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah-Mu.”

Dengan isak tangis yang mengelukan lidahku, ku tuntaskan doaku, “Ya Allah., ku tawakalkan taubatku pada-Mu, aamiin ya robbal ‘aalamiin”.

* Penulis adalah Mahasiswa akhir UTM yang juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, pertanian, dan ekonomi untuk pengabdian kepada masyarakat. Direktur dari Genius, lembaga motivasi dan pengembangan diri, yang berfokus pada karakter building bagi para anak-anak dan remaja pada skala SMP, SMA dan Mahasiswa. Juga sebuah lembaga yang  menangani kegiatan sosial pendidikan bagi anak jalanan, kurang mampu hingga upgrading skill Guru. Penulis dapat di hubungi melalui email: yanuarydwip@gmail.com atau di situs Pustaka Al Anwar.