Oleh : Fathul Qorib

Berhadapan dengan teknologi, perempuan kadang menjadi tolol lalu sebagian yang lain menjadi perempuan yang luar biasa. Berdasarkan sejarah besar bangsa-bangsa di dunia, perempuan merupakan satu yang besar dari banyak masalah yang ada dimuka bumi ini. Dimana-mana perempuan menjadi orang terakhir yang harus di selamatkan, bahkan pada zaman jahiliah, anak-anak perempuan harus rela dipendam hidup-hidup untuk menutupi kemaluan keluarga.

Berhubungan dengan dunia teknologi, atau dalam lingkup yang lebih besar adalah ilmu pengetahuan, perempuanpun dipandang sebelah mata. Sejak awal abad hingga abad ke 20, ilmuwan perempuan hampir tidak ada sama sekali. Michael H Hart dalam bukunya tentang 100 Orang Berpengaruh di dunia, hanya meletakkan dua orang perempuan sepanjang masa yang berpengaruh di dunia ini, dan dua-duanya merupakan seorang Ratu, yaitu Ratu Isabella I dan Ratu Elizabeth I. Saya yakin, anda yang membaca tulisan ini bukanlah seorang Ratu. Terlepas dari sejarah kerajaan yang berdarah, dua orang tersebut memang luar biasa, namun mereka bukanlah ilmuwan. Dalam dunia ilmu pengetahuan, perempuan memang tidak di anggap sama sekali. Tercatat dalam tulisan Hart yang menempatkan seorang perempuan dalam “daftar terhormat yang tertinggal” namun tidak masuk dalam daftar tokoh mahsyurnya adalah Marie Curie. Ia dicatat disana bukan karena penemuannya yang gemilang (namun bagaimanapun tetap gemilang) tapi lebih dari karena dia perempuan, bahkan dia orang pertama dari seluruh generasi manusia yang memperoleh hadiah Nobel dua kali, Nobel Fisika tahun 1903, dan Nobel Kimia tahun 1911. Saya yakin, anda yang membaca tulisan ini juga bukan ilmuwan.

Foto Maria Curie

Ketertinggalan perempuan dalam dunia teknologi dan ilmu pengetahuan, saya rasa bukan dikarenakan ketidakmampuan perempuan itu sendiri. Karena pada kenyataannya, di kelas-kelas belajar formal maupun informal, dalam usia yang sama, perempuan memiliki kecerdasan dan keterampilan yang lebih besar dari laki-laki sebayanya. Ini menunjukkan bahwa perempuan menempati urutan teratas dalam daftar manusia terpintar, sayangnya, ketika menginjak dewasa, para perempuan itu harus disadarkan oleh lingkungan sosialnya bahwa dirinya hanya akan berakhir di bawah lelaki. Menjadi orang rumahan (wilayah domestik) yang hanya akan mengurusi kebutuhan pribadi suaminya –seorang laki-laki.

Dunia memang sekarang sudah berubah. Perkembangan pengetahuan dan teknologi (invention and discovery) telah merubah pola berfikir manusia. Bahkan, bagi orang yang sering menggunakan transportasi laut, diumumkan bahwa sistem keselamatan harus mendahulukan perempuan terlebih dahulu dari pada laki-laki. Disatu sisi perempuan telah memperoleh tempatnya, tapi disisi lain, bentuk subordinasi terhadap perempuan belum berakhir. Buktinya, perempuan masih banyak menjadi objek media massa untuk menggaet pelanggannya. Dari iklan rumah tangga (sabun mandi, sabun cuci, shampo) hingga iklan kelas berat seperti ; rokok, pesawat terbang, hingga alat informasi dan komunikasi, perempuan masih menjadi objek yang dijadikan alat bagi kaum mayoritas (laki-laki). Disadari ataupun tidak, begitulah tradisi dominasi yang telah berkembang. Perempuan cantik menjadi investasi berharga, sehingga perempuanpun berlomba-lomba untuk menjadi cantik versi iklan di televisi. Penyakit ini diperparah dengan selera lelaki yang mengarah kepada perempuan versi iklan ; kulit putih, rambut lurus, dan tinggi semampai.

Saat ini, alat teknologi dan komunikasi telah berkembang sangat pesat sehingga dalam sekali waktu saja, kita mampu untuk mengakses seluruh informasi di dunia dari dalam genggaman. teknologi yang semakin ramah dan girly untuk membuat para perempuan merasa nyaman. Bahkan sudah ada istilah women user friendly technology-tapi saya rasa ini hanyalah kepentingan produsen untuk menyedot perempuan agar membeli teknologinya. Internet juga menjadi sebuah komunitas yang membuat para perempuan memiliki teman akrab, sebuah komunitas yang bahkan memunculkan persahabatan yang erat melewati kenyataannya, apalagi sejak munculnya social media yang membuat hubungan interpersonal dan kelompok semakin mudah. Demam social media yang menjadi-jadi membuat hati kita dibuat gatal ketika satu hari belum melihat komentar dari orang-orang yang kita mention. Tangan terasa keriting, kepala berputar-putar untuk menuliskan tweet yang sudah dibatasi menjadi 140 karakter. Ditambah harus menulis status facebook yang bisa membuat teman-teman kita tersenyum dan terkagum-kagum oleh kebijaksanaan kita mengolah kata.

Pengguna internet berjenis kelamin perempuan telah merangkak dari 24,14% pada 2002 menjadi 46,6% pada tahun 2011 . Disini marilah melihat kehadiran internet dari segi yang membangun peradaban, karena dalam banyak hal perempuan menjadi terbuka (open minded) karena adanya internet. Perempuan-perempuan telah banyak yang membantu penghasilan keluarga dengan usaha rumahan yang diiklankan di internet, melewati berbagai social media, mulai dari blog, twitter, facebook, skype, dlsb. Pada yang demikian, perempuan tidak akan pernah kalah dengan laki-laki. Internet membuat kehidupan mereka yang awalnya introvert (tertutup) menjadi berubah, yang awalnya jualan harus membuka toko dan perlu biaya mahal tiba-tiba menjadi semudah memasak mie instan. Internet benar-benar mudah, cepat, dan murah :kata terakhir, murah, merupakan kata ajaib yang bisa membuat perempuan kelabakan untuk tidak menolaknya.

Sekaranglah saatnya perempuan menunjukkan kemampuan yang sebenarnya. Meskipun dalam kajian keagamaan, terutama agama Islam, perempuan tidak pernah dilecehkan sedikitpun. Bukan tidak mungkin, seorang yang mengaku beragama akan faham terhadap agamanya. Laki-laki penganut faham patriarki selalu ada di berbagai agama. Maka perempuan harus keluar dari laki-laki seperti itu, menunjukka bahwa subordinasi dan dominasi tidak perlu ada di dunia ini. Jangan terperangah oleh teknologi, internet membuat seorang perempuan tolol (like statusku ya…, status galau, percintaan, curhat dan berdoa di facebook) namun, banyak perempuan telah berhasil membangun kepercayaan dirinya melalui internet. Tinggal kita mau menjadi apa, berguna atau pengguna.

Biodata Penulis
Fathul Qorib, dilahirkan di Lamongan pada 20 Januari 1989. Menulis esai, cerpen, puisi, dan beberapa naskah pementasan. Sekarang sedang menempuh S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura. Pernah menjadi Ketua Studi Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya 2010, Ketua Umum FLP Cabang Bangkalan 2012, dan Ketua Sekolah Menulis Bangkalan 2009-2011. Sekarang sedang giat-giatnya menulis, menonton fim, sekaligus menyelesaikan Skripsi S-1nya. Penulis dapat dihubungi di email : qorib.indonesia@gmail.com atau qorib_indonesia@yahoo.com.