Oleh: Rahmatina Hidayati

            Selepas dari masa studi strata satu, aku memutuskan untuk menikah. Dialah Mas Arik yang telah berjanji untuk mengakhiri masa tuanya bersamaku. Meski kami saling mengenal semasa kuliah, tapi tak ada hubungan spesial diantara kami. Komunikasi pun berjalan hanya seperlunya saja. Perkenalan kami berawal dari pertemuan rutin perkumpulan anak Pamekasan. Kami datang dari kota yang sama.

            Cerita antara kami bermula setelah kami sama-sama lulus. Sepupuku, Mas Rifky adalah temannya sedari SMA. Mereka mengenal pribadi masing-masing secara baik. Mas Rifky yang mengetahui kami belum memiliki pasangan satu sama lain berusaha untuk menjodohkan aku dan suami. Rencana itu pun disambut baik oleh aku dan juga Mas Arik. Jadilah kami pasangan suami istri tak lama setelah kami berdua memutuskan untuk mengenal secara pribadi. Setelah menikah, aku pindah ke rumah suami. Untuk hal ini kami sudah membicarakannya sebelum menikah. Dia hanya tinggal berdua dengan ibunya setelah kakak satu-satunya tinggal bersama istrinya di kota lain. Sedangkan aku yang masih memiliki dua adik perempuan tak ada masalah mengenai hal ini.

            Meski pada usia 23 tahun aku telah memilih untuk hidup berkeluarga, tapi niatan untuk melanjutkan kuliah masih tertanam kuat. Aku mengutarakan niatku itu kepada suamiku. Alhamdulliah dia menyambut baik. Kami pun berencana untuk menunda memiliki momongan. Hal ini karena pertimbangan aku yang harus tinggal di luar kota untuk melanjutkn kuliah. Sedangkan suamiku tak mungkin meninggalkan pekerjaannya. Saat ini dia bekerja sebagai staf pengajar disalah satu SMA di kota kami.

Untuk kedua orang tuaku hal itu tak menjadi masalah. Sedari awal mereka selalu mendukung apa yang akan kulakukan. Meski pada awalnya keinginan mereka untuk memiliki cucu pertama sangat kuat.

            Waktu makan malam, kami pun berencana mengutarakannya ke ibu mertuaku. Kebetulan, sebelum Mas Arik membicarakan mengenai hal ini ibu sudah mengutarakan keinginannya.

            “Ibu sudah tidak sabar pengen segera melihat cucu ibu. Kalian segera periksa ke dokter, takut ada masalah biar nanti bisa segera teratasi!”

“Ibu, mungkin untuk waktu dua tahun ini kami akan menunda untuk memiliki anak.”

“Lho, kok menunda. Pasangan lain saja berharap untuk cepat-cepat memiliki anak. Kalian malah menundanya. Kenapa? Apa kalian belum siap?”

Tak kubayangkan sebelumnya ibu sampai menyerang kami dengan bermacam pertanyaan.

“Ini menyangkut keinginan Rini melanjutkan kuliah, Bu!” Aku hanya diam membiarkan Mas Arik sendirian menjelaskan ke ibu.

“Kalau soal itu kan bisa ditunda dulu!”

“Kalau punya anak kan bisa ditunda juga!” batinku menentang kata-kata ibu.

Akhirnya perdebatan pun berakhir dengan nasehat darinya. “Kalian pikirkan dulu. Kebanyakan kalau sudah menundanya nanti susah yang mau punya anak!” Kata-kata terakhir ibu membuatku khawatir.

Di dalam kamar, perbincangan mengenai rencana kuliahku pun berlanjut.

“Dik, coba kamu pikirkan lagi mengenai kuliah S2!”

“Mas, kalau aku sampai memiliki anak dulu nanti malah tambah ribet!”

Mas arik hanya mengangguk. Aku mengerti posisinya. Keinginan ibunya yang ingin segera memiliki momongan dari kami.

“Tapi ini kan bukan cucu pertama yang diharapkan!”sisi pertentangan dalam hatiku pun semakin kuat. “Ibu kan sudah punya dua cucu dari Mas Roni, kakak iparku. Ya, memang sih, mereka ada di luar kota. Tapi kan kalau mereka sedang berlibur di sini ibu masih bisa bercanda dengan cucunya!”

Akhirnya aku mencoba menetralisir suasana. “Baiklah sekarang adik kan sudah mendaftar, jadi tidak mungkin untuk mengundurkan diri. Jika kali ini aku lolos maka aku akan tetap melanjutkan. Tapi jika tidak lolos maka aku tidak akan ngotot untuk tetap melanjutkan S2-ku sekarang.”

Perdebatan pun berakhir dengan manisnya cinta yang kami ramu di keheningan malam.

***

Hari pengumuman pun tiba. Hasilnya aku diterima. Sesuai dengan kesepakatan antara kami, maka aku tetap melanjutkan S2. Aku tahu ibu mertuaku tak sepenuhnya mendukungku.

Untuk pembagian waktu, selama tiga hari aku tinggal di kost dan hari berikutnya aku ada di rumah. Selain kuliah, aku pun memutuskan untuk melamar pekerjaan di SMA 1 Pamekasan. Informasi yang aku dapat dari temanku, katanya di sana membutuhkan guru Informatika. Alhammdulillah, lamaranku diterima. Hal ini sangat membantuku mengenai biaya kuliah.

Pada awalnya pembayaran kuliahku masih dibiayai oleh orang tuaku. Hal ini dikarenakan sedari awal merekalah yang sangat mendukungku mengenai hal ini. Tapi untuk semester selanjutkan aku memutuskan untuk membayarnya sendiri dengan uang hasil kerjaku. Dan tentunya ditambah dengan bantuan dari Mas Arik.

Selama proses melanjutkan jenjang S2, bisa dikatakan hampir tidak menemukan masalah besar yang menjadi pertengkaran kami. Allah memberikan kemudahan atas segala sesuatu menyangkut kuliahku.

***

Tak lama setelah aku mendapatkan gelar master, adik pertamaku menikah dengan sepupuku sendiri. Mas Rifky yang sudah aku anggap menjadi kakak, kini akan menjadi suami dari adikku. Malam sebelum hari pernikahan, aku memutuskan untuk menginap di rumah. Ibu, aku dan kedua adikku terlibat dalam perbincangan malam sebelum melepas Salsa. Setelah menikah ia akan mengikuti jejakku untuk tinggal bersama suami.

“Ayo kak cepetan, nanti bisa duluan aku, lho!” kata Salsa setengah bercanda membuka perbincangan kami.

“Benar kata adikmu, Rin! Kamu kan sudah lulus, sekarang jangan menunda-nunda lagi!” ibu berada di pihak yang sama dengan Salsa.

“Kalau bisa langsung kembar aja, Kak! Enak tuh langsung dapat dua,” adik bugsungku berkomentar disambut tawa antara kami.

Dua bulan setelah pernikahannya aku mendapatkan kabar baik kalau Salsa hamil. Meski ada sedikit kecemburuaan karena  hal itu begitu cepat, tapi aku turut bahagia atas berita itu. Hampir tiap hari aku selalu menanyakan kabarnya. Aku mengingatkannya ini itu meski aku belum pernah mengalaminya sendiri. Ini adalah cucu pertama dikeluargaku.

***

Semakin lama penantianku memiliki buah hati, aku semakin sensitif ketika ditanya mengenai hal itu. Terutama ketika ibu mertua mengajakku untuk shalat berjama’ah. Ketika ibu mendengar jawabku kalau aku lagi berhalangan maka akan terdengar komentar yang sama dengan sebelumnya. “oohhh, jadi belum isi?”

Aku hanya bisa menjawab, “Belum rezekinya, Bu. Minta do’anya saja! karena kami hanya bisa berikhtiar.”

***

Tahun berganti hingga memasuki usia pernikahanku yang kesembilan. Belum ada tanda-tanda aku sedang mengandung sedangkan Salsa sudah memiliki dua anak. Awalnya aku tak begitu khawatir. Ketika aku dan Mas Arik periksa ke dokter, tidak ada masalah. Kami dinyatakan sehat.

Dalam perbincangan santai Mas Arik mengutarakan niatnya untuk menjalani pengobatan alternatif. Tapi, aku yang tidak begitu percaya dengan hal itu mencoba untuk menolaknya. Mas Arik meyakinkanku.

“Dik, ketika Allah menghendaki segala sesuatunya untuk terjadi pasti akan terjadi. Meski dalam pandangan kita sebagai manusia hal itu tidak mungkin. Sejauh mana kita berikhtiar dan jangan lupa tetap memohon do’a padaNya, itu yang harus kita lakukan sekarang!”

Aku bertanya pada suamiku, “Tidakkah Mas berniat untuk menikah lagi?”

“Apa kamu akan mengizinkan, jika aku melakukan hal itu?” Pertanyaan itu seakan balik menyerangku. Aku bukan menawarkannya tapi sekedar bertanya kalau-kalau dia berkeinginan untuk menikah lagi jika kami tidak segera memiliki anak. Apalagi melihat permintaan ibunya.

Kekhawatiranku pun menghilang ketika dia membuka suara lagi.

“Memang, salah satu tujuan pernikahan adalah memiliki anak. Tapi, ketika Allah tidak kunjung menghadiahkan kita seorang anak, mungkin ini adalah bentuk kecintaan Allah kepada kita. Jika kita memiliki anak, Allah tahu mungkin kita akan sedikit melupakannya. Mungkin Allah masih ingin mendengar lantuanan do’a kita”

***

Empat bulan kami menjalani pengobatan alternatif tapi hasilnya nihil.

“Kita berhenti saja, Mas!” aku mencoba mendiskusikannya lagi mengenai pengobatan  alternatif.

“Apa tidak sebaiknya kita nunggu sampai enam bulan dulu,” Mas Arik begitu sabar menghadapiku. Saat ini hanya dukungan darinya yang sangat aku butuhkan. Ketika orang lain tidak bisa memahami perasaanku, hanya pengertian suami yang mampu menghilangkan semua keresahan itu.

“Mas, bagaimana jika kita mengadopsi anak?” di tengah kebingungan untuk melanjutkan atau berhenti menjalani pengobatan alternatif aku memberikan cara lain. Mungkin ini akan mengobati kerinduan kami untuk memiliki anak.

“Apa kamu yakin bisa merawat dan menyayangi dia seperti anankmu sendiri?”

“Ya” aku menjawab dengan penuh keyakinan.

Ketika mengutarakan rencana kami ke ibu Mas Arik, kami mendapatinya marah-marah mendengar usulanku.

“Apa tida ada cara lain, sampai mau mengambil anak orang lain?” ibu memang sangat ingin memiliki cucu dari kalian. Tapi bukan begini caranya. Anak adopsi itu kan bukan cucu kandung ibu.”

Kami hanya mendengarkan secara seksama kemarahan ibu kali ini. Ibu pun mengungkit-ungkit keputusanku dulu ketika menunda anak karena ingin melanjutkan kuliah. Aku yang begitu sakit mendengar hal itu tak bisa menahan tangis. Aku pun memutuskan untuk masuk ke kamar. Di luar masih terdengar suara Mas Arik yang mencoba menenangkan ibunya.

Kesokan harinya. Aku seperti biasanya membantu ibu memasak. Tapi kali ini berbeda suasananya. Aku yang biasa cerita ini itu dengan ibu, kali ini memilih untuk diam.

Aku mengutarakan keinginanku ke Mas Arik untuk menginap di rumah orang tuaku. Aku memberikan alasan karena kangen dengan mereka. Mas Arik yang seolah mengerti jika itu bukan alasan yang sebenarnya, mengiyakan saja permintaanku.

***

Di rumah, aku mendapati topik yang sama disaat kami sekeluarga tenggelam dalam perbincangan santai. Bapak yang selama ini lebih banyak diam ketika aku dihadapkan oleh masalah tak kunjung memiliki momongan kali ini mengutarakan pendapatnya.

Bapak cerita tentang anak dari temannya yang baru saja melakukan program bayi tabung.

“Kenapa kamu tidak mencobanya?”

“Dulu Rini sempat memikirkannya, Pak! tapi mengingat biaya dari program bayi tabung yang mahal,” aku tak melanjutkan kata-kataku.

“Insya Allah bapak bisa bantu mengenai biayanya!” mendengar jawaban dari bapak, ada secercah harapan yang kembali mengisi hatiku.

Setelah dua hari aku menginap di rumah orang tua, aku pun memutuskan untuk kembali pulang. Mas Arik sendiri yang menjemputku. Sesampainya di rumah, aku mengutarakan usulan bapak padanya.

“Bayi tabung? Biayanya tidak sedikt, Dik!”

“Bapak mau bantu biayanya, Mas. Kita juga bisa pinjem ke bank dulu kan?”

“Apa kamu yakin akan melakukan ini? Bagaimana kalau nanti hasilnya tidak seperti yang kita harapkan?”

“Mas, bukankah ini salah satu bentuk ikhtiar kita?”

‘Iya, tapi …”

“Maaaass,” aku merengek seperti anak kecil yang meminta untuk dibelikan mainan.

“Tapi kita tidak boleh terburu-buru untuk memutuskan mengenai ini. Mengingat biayanya yang mahal, proses untuk menjalani program itu pun juga lama. Kita butuh kesabaran extra jikalau di tengah-tengah perjalanan nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”

Setelah melalui pertimbangan dan mendengarkan nasehat ini itu dari orang-orang terdekat, kami pun memtusukan untuk menjalani program bayi tabung.

***

Selama menjalani program bayi tabung, aku harus tinggal di rumah sakit. Aku menjalani proses suntik hormon selama beberapa hari. Proses ini merupakan proses stimulasi untuk meningkatkan produksi sel telur. Tak hanya aku yang menjalani proses ini. Mas Arik juga menjalaninya.

Setelah kurang lebih satu bulan, dokter pun mulai mempertemukan sel telur dan sperma ke dalam sebuah tabung. Tabung yang sudah direkayasa sedemikian rupa hingga mirip dengan rahim  seorang perempuan. Jika pertemuan sperma dan sel telur dalam tabung berhasil, maka hasilnya akan dicangkokkan pada rahimku.

Kurang dari seminggu, kami sudah mendapatkan hasilnya. Aku dan Mas Arik langsung menemui dokter yang menangani program bayi tabung kami.

“Ibu, bapak,,,” nada bicara dari dokter itu seperti menandakan hasil yang buruk. Tapi aku mencoba menepis pikiran negatifku.

Beberapa detik kemudian dokter itu membuka suara untuk melanjutkan pembicaraannya.

“Sebelumnya saya minta maaf, saya dan juga tim medis di sini sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi, jika hasil yang kita dapatkan tidak sesuai degan yang kita harapkan, itu…” sebelum dokter melanjutkan penjelasannya aku mencoba untuk menghentikannya.

“Saya sudah bisa menebak maksud dokter, tolong jangan dilanjutkan!” aku pun langsung keluar dari ruangan itu disusul sama Mas Arik.

Aku menangis dalam dekapan Mas Arik. “Kita tidak bisa memiliki anak, Mas!”

“Semua usaha sudah kita lakukan, untuk masalah kita bakal memiliki anak atau tidak itu hanyalah hak Allah untuk memutuskan. Sekarang kita hanya bisa berserah diri dan jangan berhenti berharap.” Mendengar hal itu, air mataku tumpah membasahi kemeja Mas Arik. Meski aku begitu sakit mendengar hasil dari program bayi tabung kami, ku sempatkan tuk mengucap syukur. Allah telah memberikanku karunia seorang suami yang begitu baik untuk mendampingiku.[]

Biodata

Penulis adalah Mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Informatika di UTM. Terlahir di Kota Pamekasan pada tanggal 20 Februari ’89. Kebiasaanya menonton film maupun drama Korea membuatnya tertarik untuk mempelajari bahasanya. Saat ini penulis lagi giat-giatnya mempelajari segala sesuatu mengenai Negara Korea. Penulis bisa dihubungi di airen.biroe@gmail.com dan http://airen-leehyeri.blogspot.com/