Oleh : Yanuari Dwi Prianto

Sepatah kata dari sang Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab ra, “Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu persatu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal jahiliyah.

Ada rahasia mengapa Allah memilih Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pengemban risalah kenabian, yang notabene berasal dari kaum dan lingkungan yang terkenal ke-jahiliyah-annya. Andai Rasulullah diturunkan di tempat yang sudah kondusif, madani, ataupun sejahtera barangkali seperti yang dikatakan Umar bin Khattab, ikatan simpul Islam akan telepas satu-persatu karena umatnya tidak mengenal jahiliyah, tidak mengenal apa yang harus diubah, tidak mengenal apa yang harus diperangi, tidak mengenal apa yang harus dihindari, dan tidak mengenal apa yang harus dibuang jauh-jauh dari umat ini.

DR. Fathi Yakan dalam bukunya Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam (Terj.) menuliskan bahwa salah satu cara mengabdikan diri untuk Islam adalah dengan mengetahui hakikat jahiliyah, dengan memahami segenap pemikiran, aliran, dan strateginya. Juga dengan membongkar kelemahan dan kekurangannya, mengenali bahaya dan dampaknya, agar tidak terperosok ke dalamnya, sekaligus membuat persiapan yang baik untuk menghadapi dan mengatasinya.

Kenapa kita penting mengenal jahiliyah? Karena pada realita sekarang banyak manusia, umat muslim pada khususnya mulai lalai dan lupa dan akhirnya tidak waspada terhadap jahiliyah, ini dapat disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah upaya para orientalis yang merubah pemahaman kita terhadap Al-Qur’an dengan acuan mereka, yakni pada ideologi dan cara hidup. Pada kaca mata umum, istilah jahiliyah selalu di sinonimkan dengan suatu zaman yaitu zaman Arab jahiliyah, yang berlaku sebelum perutusan Muhammad saw. Ungkapan ini juga dikhususkan kepada bangsa arab yang mendiami kawasan tanah Hijjaz atas beberapa sebab.

Secara etimologis, kata “Jahiliyah” berasal dari kata “Jahila” yang bermakma “Bodoh, Tidak Mengetahui atau tidak mempunyai pengetahuan”, lawan kata dari “Alima” yang bermakna “Mengetahui”. Dan dari pengertian inilah kaum orientalis menyempitkan maknanya hanya dalam konteks bodoh secara intelektual atau juga bisa dengan istilah primitif.

Mari kita kenali jahiliyah dengan lebih mendalam, apakah benar jahiliyah hanya terbatas pada bodoh secara intelektual saja? Dan apa makna jahiliyah sebenarnya?

Jika kaum orientalis mengarahkan jahiliyah pada bangsa Arab sebelum kenabian Muhammad SAW benar adanya, tapi kurang tepat jika disempitkan maknanya hanya pada bodoh secara intelektual, kenapa?

Coba kita telisik lebih dalam kebudayaan masyarakat Arab pada masa itu (sebelum kenabian). Masyarakat Arab pada masa sebelum kerasulan Muhammad bukan lah bangsa yang bodoh atau tidak berpengetahuan, buktinya adalah bahwa pada masa itu terdapat sastra dan syair yang berkembang pesat di kalangan mereka. Bahkan setiap tahun diadakan festival-festival pembacaan puisi dan syair. Hal ini membuktikan bahwa orang Arab padamasa itu telah menguasai kesenian bahasa dan sastra yang tinggi.

Selain itu, tentunya kita juga tahu bahwa bangsa Arab adalah bangsa pedagang, bangsa yang mampu bersaing dari segi perniagaan. Mereka membuat sistem pemerintahan kota dan perniagaan dengan sangat baik (dijelaskan pada QS. Quraisy). Tambahan lagi, setiap tahun mereka harus menyambut para tamu ka’bah yang ingin menunaikan Haji yang menjadi tradisi mereka sejak zaman Ibrahim dan Ismail as. Kaum Quraisy bertanggungjawab mengatur dan menyediakan kemudahan bagi jama’ah haji yang datang. Hal ini semakin menguatkan lagi bahwa mereka-kaum quraisy-bukanlah orang-orang bodoh dan tidak berpengetahuan.

Satu lagi penguat bahwa sebutan jahiliyah bukanlah semata-mata ditujukan pada orang/sekelompok orang yang bodoh secara intelektual tapi lebih dari itu.

Dalam buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Ustadz Salim A. Fillah menyebutkan bahwa Bangsa Arab biasanya memiliki tiga jenis nama dalam dirinya. Tiga jenis itu adalah ism, kuniyah dan laqab. Contoh adalah ‘Umar, ism-nya adalah ‘Umar bin Khaththab yang menunjukkan nasab. Kuniyah-nya adalah Abu Hafsh, nama sebutan yang diambil dari nama puterinya Hafshah binti ‘Umar. Dan laqab-nya adalah Al-Faruq, nama julukan yang digelarkan terhadap seseorang karena sifat khususnya atau karena peristiwa tertentu.

Ada seorang lagi yang sangat terkenal pada masa-masa awal kenabian Muhammad yang selalu memberikan teror dan ancaman bagi kaum muslimin yaitu yang kita kenal dengan Abu Jahl. Abu Jahl adalah laqab-nya, apakah dia orang yang bodoh dari segi intelektual pada masa itu sehingga dia dijuluki sebagai Abu Jahl? Padahal Abu Jahl merupakan kata yang sangat identik dengan buta huruf, biadab, tak kenal etika, tidak berpengetahuan, dan terbelakang secara meteri. Tetapi pada kenyataannya Abu Jahl tidaklah bodoh seperti tersebut diatas, nama ism-nya adalah ‘Amr bin Hisyam, dan nama kuniyah-nya adalah Abul Hakam. Al Hakam -mungkin- bisa jadi merupakan nama anak lelakinya, tetapi secara tidak langsung pada masa itu nama itu juga merupakan isyarat bahwa ia termasuk dalam lingkaran utama Hukumah (pemerintahan) kota Makkah. Dan bahwa dia adalah orang yang Hakiim (memiliki banyak hikmah kebijakan), dan sekaligus Haakim yang berarti memiliki wewenang legislasi dan yudikasi karena kecerdasan dan ilmunya. Dan nyatanya memang, ‘Amr adalah satu diantara sedikit penduduk Makkah yang pandai baca tulis, fasih dalam sastra, banyak harta, hidup elegan dan cerdas.

Dari dua penegasan diatas sangat jelas bahwa sebutan jahiliyah itu bukan ditujukan kepada orang/sekelompok orang yang bodoh secara intelektual.

Karena kita adalah seorang Muslim, maka hendaknya kita mengembalikan setiap kejadian, peristiwa, istilah dan apapun itu yang berkaitan dengan kehidupan kita pada dua tali Agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

Al-Qur’an telah menerangkan tentang sikap jahiliyah ini pada beberapa tempat. Definisi jahiliyah diterangkan dengan sangat jelas sekali, beserta gaya pengungkapan dan contoh-contoh yang di berikan, diantaranya adalah:

Ketika Nabi Musa menyuruh kaumnya untuk menyembelih hewan qurban, dan kaumnya membantah dengan sinis berkata kepada Musa

“Mereka berkata, apakah engkau mengejek kami hai Musa? Musa menjawab, aku berlindung dari jaahiliin (orang-orang yang bodoh).” (QS. Al-Baqarah : 67)

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa jaahiliin adalah mereka yang tidak patuh ataupun memandang remeh terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Ketika allah menerangkan hikayat yusuf dalam surah Yusuf ayat 33 :

“Yusuf berkata, Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu akau akan cenderung (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk jaahiliin.” Jadi dalam ayat ini, yang disebut jaahiliin adalah sikap mengikuti hawa nafsu untuk bermaksiat dan berbuat dosa.

Berprasangka buruk adalah juga termasuk dalam arti jahiliyah, sebagaimana firman Allah setelah kaum Musyrikin memenangi perang Uhud. Sebagian kaum muslimin menyangka bahwa mereka tidak ditolong oleh Allah dan adanya anggapan bahwa islam telah lenyap bersama kalahnya kaum muslimin dari kaum kuffar.

“… sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?…” (QS. Ali Imran : 154)

Berhukum selain hukum Allah adalah  perilaku jahiliyah.

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah : 50)

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab : 33)

Tabarruj (berhias yang berlebihan) juga termasuk perbuatan jahiliyah.

Semasa perjanjian Hudaibiyah, kaum Musyrikin tidak mahu menerima tulisan Bismillah dan Muhammad Rasulullah dalam teks perjanjian itu. Bagi mereka, jika menggunakan kalimah Bismillah dan Muhammad Rasulullah, ini bermaksud mereka mengakui risalah yang dibawa Muhammad. Padahal berlakunya perjanjian tidak lain kerana keangkuhan mereka untuk tidak mengakui kenyataan itu. Sifat angkuh dan tidak mahu menerima kebenaran juga adalah salah satu daripada jahiliyah. Allah menegaskannya dalam surah Al-Fath, ayat 26:

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (iaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Hadist-hadist rasul pun ikut menerangkan bagaimana perilaku jahiliyah itu. Bahkan Imam Bukhari menyusun satu judul bertajuk dalam Kitab Iman, Bab ‘Kemaksiatan merupakan perkara jahiliyah’, beliau meriwayatkan hadis; “Ketika itu seorang lelaki daripada kalangan Muhajirin mendorong seorang lelaki daripada kaum Anshar, orang Anshar tersebut memanggil golongannya; Hai orang-orang Anshar dan begitu pula orang Muhajirin tadi, ia turut memanggil kawannya yang Muhajirin; Hai orang-orang Muhajirin, kemudian bersabdalah Rasul :

 “Apakah engkau memperhatikan panggilan jahiliyah itu? Tinggalkanlah olehmu kerana itu perbuatan busuk” (HR. Ahmad & Baihaqi)

Perbuatan menaikkan semangat perkauman yang tidak berlandaskan akidah juga termasuk dalam perbuatan jahiliyah.

Dan hadis dari Abu Dzar menerangkan bahawa mengejek dan menghina orang lain juga termasuk dalam sifat jahiliyah. Dia berkata: “Sesungguhnya saya mengejek seseorang dengan menghina ibunya, maka Rasulullah berkata padaku, “Hai Abu Dzar, apakah engkau menghina ibunya? Sesungguhnya engkau adalah orang yang masih mempunyai sifat jahiliyah” (HR Muttafaqun Alaih)

Berdasar pada uraian diatas jelas sekali perbedaan maksud jahiliyah antara kaum orientalis dengan perspektif Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak hanya terbatas pada bangsa Arab dan pada masa sebelum kenabian Muhammad saw saja, tetapi jahiliyah sebenarnya adalah suatu sikap atau keadaan masyarakat pada umumnya yang bodoh terhadap nilai-nilai Islam. Mudahnya, mereka bodoh terhadap hakikat perhambaan kepada Allah dan perlaksanaan tanggungjawab sebagai seorang khalifah yang diciptakan Allah, kapan pun dan dimanapun.

Dan bisa saja pada zaman ini, dimasa kita hidup, tumbuh besar, mengenyam pendidikan dan melaksanakan segala aspek kehidupan, kita tengah dikerumuni jahiliyah.

Semoga kita dijauhkan dari berbagai macam perilaku jahiliyah, dan bisa menjadi orang-orang yang teliti terhadap jahiliyah sehingga bisa menghindar, memerangi dan merubah tata kehidupan jahiliyah menjadi tatanan kehidupan yang indah.

————————————–

Yanuari Dwi Prianto adalah Mahasiswa akhir UTM yang juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, pertanian, dan ekonomi untuk pengabdian kepada masyarakat. Direktur dari Genius, lembaga motivasi dan pengembangan diri, yang berfokus pada karakter building bagi para anak-anak dan remaja pada skala SMP, SMA dan Mahasiswa. Juga sebuah lembaga yang  menangani kegiatan sosial pendidikan bagi anak jalanan, kurang mampu hingga upgrading skill Guru.