Oleh : Yanuari Dwi Prianto*

Dunia menyimpan beribu rahasia, berjuta skenario cerita bagi setiap penghuninya. Terdapat hewan, tumbuhan, bebatuan, air juga udara. Masing-masing memiliki peran dalam memberikan khasanah keilmuan untuk sang khalifah, al-insan, manusia.

Terdapat sekelompok arus arus air kecil dari pegunungan, turun dari gunung yang rindang, hijaunya membentang. Arus-arus kecil itu berlomba, mengalir, menyusuri setiap rongga tanah dan batuan dari hulu ke hilir.

Para arus itu dengan riangnya menikuk, berbelok mengikuti jalan sirkuit, sambil lalu berdendang dengan gemericik. Yang satu berkata, “Akulah yang akan menang…!” yang lain menyahut, “Aku tidak akan kalah, lihat saja nanti.”

Arus itu berlomba menuruni gunung, menjelajah melintasi setiap kemah, pemukiman, desa, hingga kota. Kadang menyatu berhimpun menjadi arus yang besar bergelombang, menyusuri padang ladang tetumbuhan.

Perlombaan ini akan berakhir pada sebuah tempat yang luas terhampar, reuni besar dari keluarga besar para arus air yang menebar. Tempat ini biru membentang tanpa ujung. Penyeimbang bumi terhadap panas temperatur inti. Di dalamnya berkumpul pula ribuar marga satwa, menjadi komunitas yang bahagia memberikan saripati kehidupan dunia. Itulah samudra, sang induk, tempat setuap arus berlabuh.

Pada sebuah jalur sungai, terdapat arus kecil dengan lincah dan semangatnya melaju, meninggalkan kawanannya. Arus itu dengan gesit dan tangguh melewati setiap penghalangnya, batu, batang pepohonan yang tumbang, dan berbagai halang rintang. Hingga akhirnya, dia tiba pada tempat yang tak biasa.

Tempat itu kering, panas dengan ganas memanggang setiap cairan yang melintas. Jika tidak, pasir-pasir berongganya akan menghisap zat cair hingga tenggelam ke dasar kerongkongnya. Inilah gurun, yang siap menghadang dengan garang sang arus kecil.

Tapi tanpa gentar sang arus kecil meyakinkan dirinya, “Aku pasti bisa melewati ini.” Dengan berbangga berkata, “Aku telah Melewati Begitu Banyak Rintangan.
Tentunya Tidak Ada Masalah buatAku Melintasi Padang Pasir ini!”

Arus kecil mencoba melaju, menyelip kedalam tiap rongga butiran pasir. Namun, semakin dia berjuang, bergeliat menerjang, arus kecil kian tenggelam. Ia mencoba berkali-kali menahan panas, bergeliat keatas, tapi tetap saja haus pasir lebih besar dari kuasanya.

Arus kecil mulai menyerah, bersedih, mengeluh dan mengalah, “Mungkin memang sudah nasibku, terjebak dalam gurun, tak bisa mencapai lautan, bersua dengan handai taulan, kini samudra yang menjadi impian, hanya menjadi legenda tanpa nyata.”

Ia mulai tenggelam dalam putus asa, larut dalam ketakutan yang dibuatnya, “Andaipun aku bisa mencapai ke permukaan, pastilah aku akan terbakar dengan surya yang binar. Hanya ada dua pilihan bagiku kini, tenggelam atau menguap hilang.”

Sejenak dia meratap, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang bergaung dalam,”Jika awan saja bisa melewati sebuah gurun, pasti arus air juga bisa.”

Arus kecil berteriak gemetar, “Engkau siapa?” sambil menelisik arus kecil merasa itu suara gurun pasir, lantas dengan marah dia melontarkan kata, “Tentu saja Awan bisa karena dia bisa terbang, tapi aku tidak.”

“Itu karena kamu terlalu kuat melekat pada dirimu, kau takut membiarkan dirimu menguap, melayang, terbang dan menyeberang hingga sampai ke tujuan.” tegas sang padang pasir mendalam.

Arus kecil terheran, dia tidak pernah mendengar hal konyol seperti ini, “Apa kau gila, melepaskan diriku teruap dan menjadi awan? Tidak! Tidak! Sama saja bunuh diri.”

Lagipula ia tidak pernah mendengar hal seperti itu, “Bagaimana aku tahu saranmu itu benar?” Arus kecil bertanya dengan ragu.

Dengan bijak sang padang pasir menjawab, “dalam wujud uap, dan berkumpul bersama awan kamu kan dibawanya menyeberang, melewati padang pasir. Dan pada waktu dan tempat yang tepat, awan akan menjatuhkanmu dalam rupa butiran air hujan yang akan kembali berkumpul menjadi arus dalam sebuah sungai.”

“Apakah aku akan kembali menjadi diriku lagi seperti yang sekarang?” tanya Arus kecil.

“Ya, dan tidak.Apakah kamu sebagai Arus atau Uap yang tak kasat mata,Hakekat sejati diri kamu tidaklah akan berubah. Pada saat ini kamu melekat pada keyakinan bahwa kamu adalah ‘sungai’, karena kamu tidak mengetahui hakekat sejati diri kamu sendiri,” jawab Padang Pasir.

Jauh dalam sanubarinya, Arus kecil berfikir, menelaah, “Mungkin benar, sebelum aku menjadi arus, aku dulu dibawa oleh Awan ke puncak pegunungan, hingga akhirnya Awan melepaskanku dalam wujud hujan yang terkumpul dalam suatu aliran sungai dan terciptalah aku.”

Dengan keberanian yang menghujam, akhirnya Arus kecil melepaskan diri, membiarkan dirinya terurai, menguap terbang bersama Awan. Udara yang mengalir, membawanya melayang menuju ke sebuah tempat yang indah tak terbayang. Pepohon kelapa tinggi menjulang, deru ombak mangalun berirama, bergemuruh menunjukkan riuh bahagia arus air yang menyatu dalam relung ruang membentang.

Suhu bersamaan dengan musim yang terlah tersetting, memecah gumpalan awan menjadi butiran bening tanpa rupa. Halilintar bergelagar membuat butiran berjatuhan menderas, mencipta ratusan aliran cairan yang melaju menuju induknya, suara riang yang terdengar tak sing itupun melantun,”Alhamdulillah.., atas karunianya, aku kembali pada mimpi, bukan mimpi yang terbayang lautan dalam legenda, tapi dalam wujud samudera nyata.”

***

Dan, itulah dunia. Perjalanan kehidupan kita, bisa jadi tidak jauh dari kisah Arus kecil diatas. Jika kita ingin melewati setiap rintangan dalam hidup guna mencapai tujuan KEBENARAN, KEBAJIKAN, dan KEINDAHAN, kita harus memiliki KECERDASAN untuk dapat untuk dapat memilah dan menerima masukan, KOMITMEN untuk BERUSAHA beradaptasi mempelajari, menyesuaikan solusi terhadap konteks masalah yang dihadapi, serta KEBIJAKSANAAN dan KEBERANIAN untuk melepaskan sifat ke-AKU-an pada diri kita.

Mungkin perlu juga sesekali kita bertanya pada diri, “Apakah Hakekat Diriku?Dimana tempat kembaliku? Harus bagaimana kujalani hidupku? Kenapa tercipta diriku? Siapa penciptaku?

————————————–

Yanuari Dwi Prianto adalah Mahasiswa akhir UTM yang juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, pertanian, dan ekonomi untuk pengabdian kepada masyarakat. Direktur dari Genius, lembaga motivasi dan pengembangan diri, yang berfokus pada karakter building bagi para anak-anak dan remaja pada skala SMP, SMA dan Mahasiswa. Juga sebuah lembaga yang  menangani kegiatan sosial pendidikan bagi anak jalanan, kurang mampu hingga upgrading skill Guru.