Oleh Fathul Qorib

Seorang ibu menjadi pujaan bagi seluruh orang di dunia ini. Ibu dianggap sebagai sebuah mukjizat yang agung. Ia dijadikan sumber rujukan bagi seluruh penulis untuk membuat dunia terperangah. Cinta kepada Ibu begitu membara, bergejolak, dan membangkitkan. Ibu adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang dimuliakan melebihi lelaki manapun. Ia disebut-sebut dalam berbagai kitab suci sebagai makhluk yang patut dicintai. Doa-doa kepada ibu laksana mutiara yang menerangi jagat. Percayalah, kita selalu lebih banyak memuji ibu dari pada ayah kita.

Saya menjumpai banyak foto keluarga yang menarik untuk saya paparkan. Dari sekian banyak foto album keluarga, ayah kita terlalu sering tidak disana. Yang ada hanyalah anda, kakak, adik, dan ibu. Kemanakah ayah? Ia yang memotret, ya, tentu saja. Ia selalu rela untuk membuat bingkai yang indah buat foto-foto kenangan kita dimana ayah selalu tidak berada didalamnya. Mengetahui foto-foto tersebut, ketika kita berada di kamar asrama atau kamar kos, kita hanya mengenang ibu yang ceria. Memeluk dengan hangat bersama saudara-saudaramu. Ingatlah, ayah yang memotret keajaiban tersebut.

Memang kita tidak bisa mendikotomikan keberadaan ayah dan ibu. Mereka berdua merupakan sumber kehidupan yang telah disahkan oleh Allah secara langsung melalui pernikahan dengan saksi yang juga ditetapkan-Nya. Namun, dalam perjalanan hidup ini memang sosok ibu lebih mendapatkan perhatian dari pada seorang ayah. Sosok ibu lebih moncer dari pada ayah. Sungguh posisi ayah telah direduksi menjadi ‘hampir tidak berguna’. Meskipun ketika dengan jernih orang-orang akan berkata bahwa ‘ayah juga patut di hormati’, namun karena alam bawah sadar sudah terlalu banyak mengkonsumsi kelebihan ibu dibandingka ayah, otomatis ketika disuruh menjawab pertanyaan : siapakah yang paling kamu hormati? Jawaban terdepan adalah ibu, kedua adalah ibu, ketiga adalah ibu, lalu keempat adalah ayah. Masih ingat haditsnya? Ya, bahkan Nabi Muhammad mengatakan bahwa kedudukan ibu lebih utama dari pada ayah.

Allah Yang Maha Mengetahuipun menyebutkan bahwa Ibu lebih utama dari pada ayah. Di dalam Al-Quran disebutkan banyak ayat mengenai keutamaan Ibu, diantaranya adalah surat Al A’qaf ayat 15 yang berbunyi :

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (١٥)

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Karena telah mengandung anak-anaknya dengan susah payahlah, Ibu mendapatkan kemuliaan itu, dan juga karena itulah ayah tidak mendapatkan kemuliaan sebagaimana disebut-sebut dalam Al Quran dan hadits Nabi.

Namun, dari sisi yang berbeda ayah merupakan makhluk yang rela kehidupannya digantikan dengan putranya. Satu-satunya penulis yang karyanya saya baca serta selalu menyebut nama ayahnya adalah Andrea Hirata. Perlu pembaca ketahui bahwa saya tidak hendak menghakimi bahwa ayah lebih utama dari pada ibu, tidak. Saya sadar sepenuhnya bahwa Ibu memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak sejak di kandungan hingga dewasa. Yang ingin saya utarakan dalam tulisan ini adalah, betapa Ayah telah disisihkan dari kehidupannya.

Ayahlah yang memberikan tempat terbaik dipundaknya ketika melihat arak-arakan perayaan. Ia berdesak-desakan dikerumunan sedang kita dengan bangga duduk dipundaknya. Kita leluasa untuk melihat pertunjukan dimana semua orang harus tertutupi olehmu, dan kata ayahmu “dia anakku, dia hanya anak kecil”. Meskipun kemudian ia tidak dapat melihat apa-apa, ia hanya aka bertanya kepadamu “Gimana? Kelihatan apa nggak, nak?”. Ia selalu mendahulukanmu dari siapapun. Ayah adalah sosok yang luar biasa.

Apakah anda ingat ketika sakit? Ayah tidak pernah memanjakan anda bukan? Tapi ia tidak pernah tidur sedetikpun karena khawatir kalau-kalau anda membutuhkannya. Anda tidak tahu kalau ayah terus menunggumu diluar sambil merokok gelisah. Coba anda berteriak, maka dalam satu detik ia akan berada disamping kepalamu dengan khawatir. Ia juga satu-satunya orang yang melupakan keinginannya demi tercapainya keinginanmu. Ayah juga yang bekerja keras untuk membayar SPP sekolah dan kuliah kita meskipun kita tidak pernah menghitung berapa keruta didahinya. Ayah, meskipun ia tidak mendapatkan uang dan hampir pasti di marahi oleh ibumu, ia akan tetap pulang, bukan demi ibu tapi demi kamu.

Dan yang paling menyenangkan adalah, ayah tahu bagaimana ayunan kita terbang tinggi tanpa membuat kita merasa takut. Saya akan mengenang bagaimana ayah mengajariku memasak dengan rumus-rumus racikan bumbu yang tidak pernah ibu ajarkan : “nak, setiap memasak, bumbu pokoknya adalah bawang merah, bawang putih, lombok, garam, dan penyedap”.

Jika tidak ada ayat Al Quran atau Hadits yang menerangkan keunggulah seorang ayah, maka saya akan membuatkan puisi untuknya.

lelaki-lelaki tua

: ayahku

lelaki tua bergegas pergi. hitam takdirnya menuntun ke pelosok sambil memesan segelas kopi, matanya tak berhenti. :dimanakah kutemukan wajah-wajah kesakitan?

ditelusurnya sunyi yang dirasakan setiap lelaki sebaya, juga pemilik warung yang lelah menatap ke arahnya. :disini tak kau temukan orang-orang, mereka seperti pecandu yang hidup dibawah bayang-bayangnya sendiri. mereka juga enggan pulang sepertimu.

didadanya ketakutan membayang bagai uap panas yang meletus, ia terkoyak, tapi terpaksa berjalan tuk mengejar orang-orang yang berkeluh ;betapa sakitnya hidupku, oh luka-luka dan tikaman dari diri sendiri.

saat malam hampir pupus dan ia menemukan seseorang, ia bersyukur dan berterimakasih sambil mendengar mereka mengumpat :istriku, anakku, mertuaku, dan saudara-saudaraku menikamku.

Biodata Penulis
Fathul Qorib, dilahirkan di Lamongan pada 20 Januari 1989. Menulis esai, cerpen, puisi, dan beberapa naskah pementasan. Sekarang sedang menempuh S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura. Pernah menjadi Ketua Studi Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya 2010, Ketua Umum FLP Cabang Bangkalan 2012, dan Ketua Sekolah Menulis Bangkalan 2009-2011. Sekarang sedang giat-giatnya menulis, menonton fim, sekaligus menyelesaikan Skripsi S-1nya. Penulis dapat dihubungi di email : qorib.indonesia@gmail.com atau qorib_indonesia@yahoo.com dan blog : http://fathqorib.blogspot.com