Oleh : Fathul Qorib

Ide bisa muncul dari manapun. Sebuah film yang berjudul Hafalan Sholat Delisa yang baru saja saya lihat juga memberikan gambaran betapa sederhananya ide yang bisa dimunculkan dalam karya, baik itu film, naskah cerita, maupun karya sastra. Namun sayang, dalam penerapannya, ide masih dianggap sebagai material yang sangat rumit. Ia ibarat makhluk halus yang sulit ditakhlukkan dengan doa-doa. Maka di film inilah, ide sederhana yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari kita diangkat dan mampu membawakan tontonan sebagai tuntunan.

Film ini membuat perbedaan dengan membawa agama islam lebih dekat dan bersahabat dengan anak-anak. Tidak ada adegan violance (kekerasan) dan pornografi sebagaimana kebanyakan film yang beredar pada 10 tahun terakhir. Film ini sangat santun untuk ditonton oleh anak-anak sekalipun. Film ini sangat direkomendasikan bagi ibu-ibu yang mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak muslim yang taat. Dengan tokoh-tokoh yang tidak asing lagi di dunia perfilman indonesia, Hafalan Sholat Delisa menjadi film yang patut di acungi jempol.

Berlatar belakang kejadian Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 lalu, film ini membawa pesan-pesan yang sarat makna kepada penonton. Permulaan film ini menghadirkan sosok Delisa (Chantiq Schagerl, 6 tahun) yang sedang tidur dan dibangunkan oleh saudari-saudarinya : Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi) disebuah rumah sederhana pinggiran pantai Lhok Nga, film ini bergulir dengan cantik ke hafalan sholat Delisa yang mengalami ganjalan. Meskipun demikian, sang Ibu yang mendampingi anak-anaknya tersebut dengan bijaksana dan sabar membimbing mereka semua menjadi anak-anak muslim yang tangguh.

Hafalan sholat Delisha yang kurang memuaskan membuat orang-orang disampingnya ingin memberikan hadiah jika Delisa mampu menghafal dengan baik, begitu juga ibunya yang kemudian mengajak Delisa ke pasar untuk membeli sebuah kalung sebagai hadiah jika Delisa mampu menghafal bacaan sholatnya. Delisa dengan senang hati ikut ke pasar dan memilih sendiri kalungnya dengan inisial “D” –merujuk kepada Delisa. Ayahnya juga ikut berjanji kepada Delisa untuk membelikannya sepeda jika ia hafal bacaan sholatnya.

Sampai disini, pelajaran pertama muncul dari kakaknya Delisa, Aisah, yang iri karena semua orang ingin memberikan hadiah kepada Delisa. Aisah menangis dan meninggalkan saudara-saudaranya yang sedang menerima telpon dari ayahnya tersebut. Uminya, Salamah, segera tahu apa yang dirasakan oleh Aisah dan menghiburnya dengan baik. Patut untuk di contoh oleh para ibu yang menghadapi anak-anaknya yang ngambek, berikut dialognya :

Umi    : Aisah, kamu kenapa nak, kok menangis gitu?,

Aisah : Aisah sebel, Delisa dapat hadiah kalung..

Umi    : Loh, Aisah kan dulu juga dapat kalung?

Aisah : Tapi, kalung Delisa lebih bagus, ada huruf “D”nya, punya Aisah tidak,

Umi    : Jadi, dulu Aisah hafalin bacaan sholatnya hanya untuk kalungnya?

Aisah : Bukan, kata ustadz Rahman biar dapat hadiah surga…

Umi    : Nak, jangan gampang iri ya, lagian ka kalungnya Aisah sama kalungnya Delisa sama aja kok, tapi Aisah jangan gampang cemburu sama barang-barang yang bukan punya milik kita, apalagi kalau barang itu punya saudara kita sendiri…ya,

Aisah : (melihat ke Ibunya) maaf Umi,

Umi    : Nggak apa-apa sayang…

Begitulah salah satu adegan yang menyentuh dan pelajara berharga yang dimunculkan dalam film ini. Begitu dalam maknanya, dan hal tersebut sangat manusiawi ketika orang lain mendapatkan nikmat yang lebih besar daripada kita. Dalam scene yang lain, iri hati juga mempengaruhi Delisa yang telah kehilangan keluarganya dalam musibah Tsunami. Yaitu ketika Umam, seorang bocak lelaki nakal menemukan ibunya, sedangkan Delisa kehilangan ibunya. Delisa dengan lugunya mengatakan “Delisa benci, kenapa semua orang tinggalin Delisa, masa Umam aja yang nakal uminya bisa ketemu, Allah tidak adil pada Delisa!”

Begitulah percakapan yang manis itu. Banyak orang akan menemukan dirinya sendiri dalam ucapan Delisa kecil tersebut. Merasa bahwa orag-orang yang terus melanggar perjajiannya dengan Allah saja mendapatkan nikmat yang besar, sedangkan kita yang tiap hari berdoa dan melaksanakan sholat malah mendapatkan musibah. Betul sekali, kita kadang seperti anak kecil. Teman menonton saya mengatakan tiba-tiba “Masih kecil, tidak tahu kalau semua itu ujian dari Allah, bukan karena Allah tidak sayang”. Semua orang bisa memahami apa yang sedang Delisa rasakan, namun dalam kesempatan yang diberikan oleh Allah di dunia ini, berapa banyak orang yang sadar bahwa hidup sendiri adalah ujian?

Pelajaran terbaik yang di ajarkan dalam film ini adalah keikhlasan yang ditemukan oleh Delisa pada akhirnya. Ia yang merasa kesulitan menghafalkan bacaan sholatnya kemudian curhat kepada Ustad Rahman, lalu dijawab oleh ustad Rahman “orang yang susah melakukan sesuatu itu karena hatinya itu tidak ikhlas, tidak ikhlas itu artinya dia melakukan sesuatu itu bukan karena Allah, dia hanya mengharapkan hadiah, hadiah, hadiah…”

Delisa tertegun, seperti menyadari kelemahannya selama ini. Ia lalu mempraktekkan dengan sungguh-sungguh keikhlasan yang didapatnya hari itu dengan menolak hadiah yang akan Ayahnya berikan kalau Delisa hafal bacaan sholatnya. Berulang-ulang, film ini menohok hati kita dengan pukulan maut, menyadarkan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, serta menyindir dengan sangat halus bahwa “kita sebenarnya masih kanak-kanak dalam beribadah, persis seperti Delisa”.

Hal yang patut diperhatikan dalam pembuatan film yang mengangkat agama adalah mengambil sudut pandang pemahaman yang akan dijadikan landasan. Islam sendiri telah disabdakan oleh Rasulallah akan pecah menjadi 73 golongan. Nah, sepertinya film-film yang akan datang harus lebih hati-hati dalam penempatan hubungan laki-laki dan perempuan sebagaimana hubungan Ustadz Rahman dengan seorang non muslim dalam film ini, Sophie. Mereka pacaran, tentu ini menodai agama Islam yang sejak awal ingin di angkat.

Hal yang patut disayangkan dalam film ini adalah hadirnya animasi yang kurang canggih untuk menggambarkan bencana Tsunami. Ia seolah-olah menjadi celah kesalahan yang besar untuk sebuah ide cemerlang yang di adaptasi dari novel ini. Jika belum mampu menemukan animasi yang akurat, lebih baik tidak usah ditampilkan hal-hal yang memalukan tersebut dengan cara menambah narasi yang berkualitas. Disinilah dibutuhkan penulis skenario yang handal. Namun jika untuk melipur hati sutradara, maka kita anggap cukuplah bagi film indonesia untuk animas seperti itu.

Akhirnya, selamat menonton, semoga mendapatkan banyak pencerahan.

Tentang Penulis
Fathul Qorib, dilahirkan di Lamongan pada 20 Januari 1989. Menulis esai, cerpen, puisi, dan beberapa naskah pementasan. Sekarang sedang menempuh S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura. Pernah menjadi Ketua Studi Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya 2010, Ketua Umum FLP Cabang Bangkalan 2012, dan Ketua Sekolah Menulis Bangkalan 2009-2011. Sekarang sedang giat-giatnya menulis, menonton fim, sekaligus menyelesaikan Skripsi S-1nya. Penulis dapat dihubungi di email : qorib.indonesia@gmail.com atau qorib_indonesia@yahoo.com dan blog :http://fathqorib.blogspot.com