dalam rangka “Satu Jam Menulis Serentak Milad FLP”

Sebuah Cerpen Oleh : Eva Aishalia Majid

Arlojiku sudah menunjukkan 15:50, tapi angkot yang ku tunggu tak kunjung tiba. Aku gelisah. Sebagai tenaga pengajar di salah satu Lembaga Bimbingan Belajar yang cukup terpercaya oleh masyarakat, aku harus memberikan pelayanan sebaik mungkin. Setidaknya dengan datang tepat waktu. Aku mulai berandai-andai. Seandainya aku punya motor pasti aku tidak akan terlambat. Pikirku. Tapi batinku membesarkan hatiku, “Hidup ini masih koma, belum titik Cah Ayu”.  Di tengah perdebatan pikiran dan batin yg cukup seru, angkot warna kuning pun berhenti tepat di depanku. Seperti seorang Putri Raja, Si Kernet membukakan pintu mobil angkot supaya aku cepat naik. Dalam perjalanan aku masih dirundung gelisah, taku-takut adik lesku kecewa aku datang terlambat. Tiba-tiba hapeku berbunyi. Tersurat sebuah sms masuk. Ku baca perlahan.

“UNDANGAN, Hadirilah PSIKOTES PT.BANK SUKA MAJU, Tbk pada hari Kamis tanggal 16 Februari 2012 jam 7.30 di DISNAKER KOTA Z Jl. Halim Perdana Kusuma No 5 Kota Z. Terimakasih..”.

Aku tercengang membaca sms ini. Dari siapa? Batinku bertanya sambil menghitung hari. Ternyata 2 hari lagi. Tak sabar karena rasa penasaranku, segera ku balas sms itu.

“Maaf, ini siapa ya?”

Tak lama berselang sms lain masuk. Rupanya Liana teman sekelasku. “Va, kamu dapet undangan sms dari Bank SUKA MAJU tidak? Itu, yang kapan hari kita iseng-iseng daftar di Fakultas..”

Aku berfikir. Segera saja ingatanku kembali jalan-jalan ke masa lalu. “Iya betul!!”, pekik batinku. Sekitar 2 bulan yang lalu, aku dan Liana mampir sebentar ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya. Aku dan Liana terdaftar sebagai Mahasiswi prodi Sastra Inggris. Biasanya kemana pun kami pergi, kami selalu ditemani oleh Laila, Anis, Ulfa dan Anna. Saking seringnya, suatu hari kami memproklamirkan diri menjadi Genk BURJO. Yang artinya Bubur Kacang Ijo. Maklumlah, karena kami semua suka sekali makan Bubur Kacang Ijo. Tapi entah mengapa hari itu hanya aku dan Liana saja yang terlihat berdua.

Aku dan Liana mulai membaca pengumuman itu. Persyaratannya mudah. PT Bank Suka Maju hanya meminta karyawannya yang bermobilitas tinggi dan luwes. Dengan pendidikan terakhir SMA. Tapi ada satu syarat yang membuatku kesulitan, yaitu harus bisa naik motor. Sedangakan aku belum bisa.

Ku abaikankan kekuranganku. Tanpa pikir panjang segera saja aku mendaftarkan diri. Begitupun juga dengan Liana. Setelah berdebat cukup lama lantaran aku yang tak bisa naik motor dengan cepat  diakhiri bahwa dengan lamaran ini mau atau tidak mau aku harus belajar menjadi BISA! Dengan ucapan Bismillah, berangkatlah…

**** *** ****

Pagi ini rasa malas menyeruak ke dalam tubuhku. Bukan karena aku seorang pemalas. Bukan. Karena aku perempuan. Hahh, perempuan!! Sebuah kodrat Tuhan yang tak bisa ditawar. Setiap bulan harus melayani tamu dengan sabar. Tamu yang tak pernah di undang. Yang selalu membuatku melolong-lolong menahan sakit diperut juga di pinggang. Hampir setiap bulan aku begini. Hufftt, segera ku telan beberapa pil pemberian Dokter yang katanya tidak boleh aku minum kecuali dalam keadaan sangat sakit. Rasa syukurku pun mulai berkurang dengan menyeracau tak karuan. Kenapa perempuan harus melalui fase sesulit ini setiap bulan. Bahkan hampir setiap bulan aku menelan pil besar itu. Betapa enaknya kalau saja jadi Lelaki. Yang bebas dari nyeri apapun. Tapi lagi-lagi. Hatiku membesarkanku, “Hidup ini masih koma Cah Ayu, belum Titik. Bersabarlah…!!!”

Ku ingat hari ini ada acara di Kampus. Katanya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam benakku, yang namanya perayaan, yang meriah hanyalah Perayaannya saja. Tak mengerti mengapa dan untuk apa  perayaan itu ada.

Purnama, gadis Cantik teman satu kontrakan mengajakku menghadiri acara itu. “Ayolah, kau harus banyak bergerak supaya rasa sakitmu itu hilang!”. Dengan malas ku langkahkan kaki pergi bersamanya.

Sesampainya disana, aku dan Purnama tersadar. Tak ada sosok yang sempurna dan sepantas Nabi Muhammad SAW untuk dijadikan Teladan. Sampai sejarah mencatat, bahwa orang nomor Satu yang berpengaruh di dunia ini adalah Beliau. Kami menyadari. Betapa kami terlalu mengelu-elukan artis sebagai Idola, khususnya artis Korea sebagai kiblat fashion kami. Betapa Islam telah mengajarkan tentang arti Jilbab sebagai Identitas juga penyelamat perempuan dari godaan laki-laki hidung belang. Tapi kami sendiri cendrung lebih suka memamerkan kecantikan tubuh kami. Leher yang jenjang, rambut hitam yang lurus bahkan lekukan dan belahan yang sering sekali membuat lelaki tak bisa menahan ‘ingin’nya.

Belum selesai kami tersentak tentang masalah Idola yang sebenarnya, Pak Kyai yang juga penceramah memapah kami pada topik GALAU. Aku dan Purnama saling melirik. Aku sadar. Aku sering menulis status ANDILAU (ANtara DIlema dan gaLAU) di dinding fesbukku. Begitupun Purnama, meski dia Gadis yang cukup kritis melihat kebijakan-kebijakan pemerintah tentang hukum di Negeri ini, dia cendrung lebih meng-update tentang kisah asmaranya. Tersadar tentang itu semua, tanpa di komando aku dan Purnama menunduk sedalam-dalamnya.

Rupanya Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini mampu mengubah  paradigm berfikirku. Syukurlah…

**** *** ****

Malam ini aku sibuk menyiapkan diri untuk mengikuti Psikotes besok pagi. Tanpa ku tahu, Purnama besok juga ikut. Mulailah kami menyiapkan segalanya bersama-sama. Bermimpi kuliah dan bekerja bersama-sama. Belajar menjadi seorang gadis yang kuat juga tegar bersama.

Malam berganti fajar, sudah menjadi tradisi di kontrakan untuk sholat 5 waktu  berjamaah. Dan seperti biasa, di Mading kontrakan sudah tertera sebuah  nama yang harus siap untuk menjadi Imam sholat. Kami melakukan hal ini bukan apa-apa. Hanya untuk mendidik anggota kontrakan untuk menjadi pribadi yang  berkualitas sebelum terjun ke masyarakat. Salah satunya dengan belajar menjadi Imam. Bukankah menjadi Imam adalah belajar menjadi Pemimpin? Tapi sayang, Si empunya nama sedang berhalangan. Bagi kami menjadi Imam sholat  tidaklah mudah, karenanya teman-teman suka menghindar apabila hendak dijadikan Imam, untuk mengatasi hal itu,  kami selalu melakukan gambreng layaknya anak kecil. Barang siapa yang kalah, maka dia-lah yang menjadi Imamnya. Dan, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, aku yang kalah dalam adu gambreng itu, maka teman-teman segera mendorongku  karena siang tak lama lagi datang.

Segera ku berbenah diri. Bersama Purnama kami melesat dengan cepat ke Jl. Halim Perdana Kusuma setelah mendapat sms dari Liana agar aku berangkat lebih dulu. Gilanya aku dan Purnama sama-sama tidak tahu dimana letak tempat itu.

“Lhah, terus kita mau berangkat ke arah mana ini?”, protesnya.

“Hidup ini masih koma Purnama, belum Titik”, jawabku sedikit menenangkannya.

“Berhenti di depan!!”, kataku tiba-tiba.

Terlihat 3 orang  Satpol PP sedang menjalankan tugasnya. Aku segera turun dan bertanya padanya disusul oleh Purnama. Kulihat Satpol PP itu menggeleng. Tapi tak berapa lama kemudian ia segera melambaikan tanggannya pada 2 rekannya yang tak jauh diseberang jalan. 2 Satpol PP itu datang dan langsung memberi kami Instruksi. Orang-orang disekitar melihat kami terheran-heran. Mungkin dikiranya kami melanggar peraturan lalu lintas. Tapi ku abaikan saja.

Purnama menyetir dengan pelan. Mataku berhati-hati membaca setiap nama jalan dan nomor yang terlalui. Dan akhirnya sampailah kami ditempat dengan selamat.

Sambil menunggu, kami mengamati setiap peserta yang datang. Kami sedikit minder, karena semua peserta datang dengan di antar mobil mewah.

Aku dan Purnama saling berpandangan. Menatap pakaian masing-masing. Juga sepeda motor pinjaman milik Rifki. Tak berselang lama, kami tertawa terkekeh-kekeh. Purnama memakai sepatu biru, celana kain hitam, baju warna orange dan jibab warna hijau. Ditambah tas khas Mahasiswa, tas Ransel. Aku pun begitu, tas Ranselku tak ketinggalan. Maklumlah, Mahasiswa suka bawa air botol kemana-mana. Takut dehidrasi di tengah jalan.

Aku mulai membandingkan penampilan antara anak Mahasiswa dan orang yang sudah kerja atau pengalaman kerja. Tampilan mereka necis-necis. Tak lupa dengan sepatu pantopel yang tingginya semeter. Ku lirik lagi sepatuku dan sepatu Purnama, “Bukankah yang kita pakai ini adalah sepatu mainan?”. Haha.. aku hanya tersenyum geli dan segera menimpali “Hidup ini masih koma, belum Titik!”. Sambil tertawa kami berdua segera menghambur kedalam ruang test.

Disana sudah menunggu Liana sahabatku. Aku duduk di sampingnya. Purnama duduk disampingku. Kami bertiga duduk dibaris paling depan. Dengan hati-hati kami mengisi tiap pertanyaan dengan sebaik mungkin. Aku masih belum percaya kalau saat ini aku benar-benar sedang mengikuti Psikotes. Rasanya aku sedang mengikuti ujian di kelas saja. Satu jam berlalu. Kami keluar dengan tertib.

Jam masih menunjukkan angka 10 pagi.  Kami bertiga beristirahat sambil berbincang santai. Tema kecantikan dan kesehatan tak pernah luput dari perbincangan kami, para kaum hawa. Hingga akhirnya perbincangan kami sampai juga pada topic pemerintahan. Yah, benar. Kami perhatikan para penghuni gedung itu. Hampir 1 jam lebih kami berada di kantin sambil menunggu pengumuman, tapi para pegawai disana tak juga mau beranjak ke ruang kerja masing-masing. Mereka lebih suka berlama-lama santai di kantin. Parahnya pegawai laki-lakinya pun  sama. Purnama yang tak tahan atas aksi pegawai Negeri Pemerintah ini langsung meraih ponselnya dan memotret mereka.

“Foto ini akan aku jadikan Riset penelitianku”, ujarnya tanpa ditanya.

Pengumuman peserta yang lolos seleksi pertama tak juga terdengar. Hingga akhirnya kami bertemu Tiara. Ternyata Tiara juga ikut Psikotes ini! Ujarku dalam hati. Ia langsung duduk bersama kami. Dan mengungkapan rasa kekecewaanya karena hanya bisa menjawab 5 soal saja dari 20 soal yang tersedia. Tapi rasa kecewanya berangsur hilang ketika Ia menceritakan bahwa Ia sudah punya ‘kursi duduk’ setelah membayar mahal seharga 15 Juta pada Pamannya untuk melakukan itu. Aku, Liana dan Purnama terperanjat.

“Hahhh!! Mau dibawa kemana Bangsa ini jika yang pelayannya adalah orang-orang korup dan tidak berotak!”, gerutu Liana.

Nama-nama yang tidak lolos di umumkan. Ku lihat nama Tiara dan Liana ada disitu. Dengan sedih ku ucapkan salam perpisahan kepada Liana. Dan Liana mendoakan aku dan Punama semoga sukses.

Kini seleksi bagian ke-dua. Terpampang jelas diatas meja tes ku sebuah kertas yang ukurannya 1 x 1 meter. Aku kaget. Bukan karena ukurannya yang menurutku terlampau besar. Tapi tinta yang menghias kertas menjadi angka-angka cantik itu cukup membuat para peserta nervous. Termasuk aku. Tangan kanan dan kaki kananku mulai gemetaran. Angka-angka yang mulai aku tulis untuk menjawab soa-soal itu seperti sedang berdansa. Ku coba untuk menguasai hati dan pikiran. Mencoba tenang untuk menjawabnya.

Seperti ada yang berbeda dalam tes kedua ku ini. Entah karena sudah ada peserta yang gugur atau karena soal nya yang begitu banyak sampai soal itu penuh bolak-balik. Syukurnya otakku sudah terlatih untuk berhitung. Tapi yang jelas omongan petugas HRD supaya kami berdoa terlebih dahulu menyentakkan hatiku. Ku ingat. Betapa doa adalah senjata yang paling ampuh setelah berusaha. Teringat pula akan kisah seorang anak yang melamar pekerjaan yang sudah benar-benar lolos tapi gugur hanya karena dia menunggu Ibunya untuk meminta restu sebelum dia dipanggil wawancara. Aku tahu, betapa doa Ibu sangat di dengar oleh Tuhan. Pikiranku sudah mulai tak karuan. Aku teringat Ibuku. Seharusnya aku tak main-main dalam hal lamaran ini. Setidaknya meskipun aku main-main. Aku harus mengabari beliau. Meminta restu beliau. Jaman yang sudah modern hanya tinggal telpon kenapa begitu sulit aku lakukan. Sudut-sudut mataku mulai memanas. Tersadar betapa aku sudah menduakan Ibuku. Oh Ibu, Lili janji, jika Lili lolos sampai tahap interview, Lili akan menelpon Ibu.

“Tettt….”, waktu habis.

Setelah 1 jam dikoreksi, terpilihlah peserta-peserta yang pantas untuk ikut tahap interview.  Aku dan Purnama lolos lagi. Kami berdua kegirangan. Tapi tiba-tiba Purnama berbisik padaku, “Hati-hati Yank, Hidup ini masih koma, belum titik” aku tersenyum melihat tingkahnya. Karena aku mengerti dalam surat lamaran dan daftar riwayat hidup kami, kami cantumkan bahwa kami masih menjadi Mahasiswa aktif dengan segudang kegiatan dan amanah yang tak bisa ditinggalkan.

*** **** ***

Sore yang sejuk untuk hati-hati yang tentram. Aku dan Purnama keluar dari ruang interview dengan wajah sumringah. Dengan cepat kami tancap gas ke arah outlet kosmetik untuk konsultasi. Purnama masih asyik bertanya ini itu pada pegawai konsultan kecantikan. Mataku menjalar kemana-mana. Di outlet itu, ku tangkap tulisan “Travel in Style Gateway to Turki”

“Oohh!”, aku terkejut. Sudah dua kali aku gagal Umroh ke Tanah Suci. Yang pertama karena waktu yang tak memungkinkan dengan masa kuliahku di kampus. Yang kedua karena masalah keuangan yang tidak siap dengan waktu yang terlalu mendadak. Aku juga teringat temanku, Fifi, yang sebentar lagi akan berangkat ke New Jersey dalam pertukaran pelajar. Juga Halimah yang sejak dua tahun lalu sudah di kirim ke Jepang untuk urusan yang sama. Sempat aku mau berangkat ke Amerika sekitar setahun yang lalu. Satu hal yang sangat aku sesalkan, aku tak pernah menghadiri interview itu. Hahhh, andai saja aku punya sedikit keberanian…

“Kok bengong??”, Purnama mengagetkanku.

“Udah, ikut aja sana. Siapa tahu nasibmu mujur kali ini”, seakan tahu apa yang aku pikirkan.

Dengan hati-hati ku isi kupon itu dan tak lupa membaca Basmalah. Ku ingat kata-kata Thomas Alfa Edison yang pernah ku baca di buku “Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”

Purnama mencolekku centil. “Aku ikutan donk!”

Sambil berpandangan penuh harap, kami masukan kupon kami bersamaan. “Hidup ini masih koma, belum TITIK!!”

Kami pun tersenyum. Matahari di ufuk barat pun tersenyum. Jalanan berasapal yang kami lewati dengan sepeda motor pinjaman, juga pohon yang melambaikan daunnya penuh manja ikut tersenyum. Untuk kesekian kalinya kami berteriak di jalan raya “Hidup ini masih koma, belum TITIK!!”.

Dan pengendara yang lain menatap kami dengan aneh.