dalam rangka “Satu Jam Menulis Serentak Milad FLP”

oleh : Fathul Qorib

Tanpa persetujuan, kita tiba-tiba dilahirkan dengan tanpa bekal apa-apa, telanjang, menangis, dan orang-orang tertawa menyambut kita. Kita langsung menyandang gelar khalifatullah fil ardli serta memiliki tugas untuk memelihara alam semesta. Satu-satunya yang harus kita syukuri adalah ;kita lahir dalam keadaan Islam, suatu kebanggaan yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh apapun. Saya tidak bisa membayangkan jika kita tidak dilahirkan dalam keadaan Islam, apakah kita akan menemukan kebenaran ajaran Islam ini sedang kita mungkin sedang memeluk agama Nasrani, Majusi, Pagan? Saya yakin bahwa sangat sangat sangat sulit menemukan kebenaran dalam ajaran agama orang lain.

Sebagai manusia yang dilahirkan, kita langsung memiliki keterikatan dengan paling tidak tiga hal : vertikal, horizontal, self. Hubungan vertikal menjelaskan dimensi tanggung jawab kekhalifahan kita kepada Allah secara langsung. Hubungan kita dengan Allah merupakan hubungan yang paling mutlak dan mulia. Hal ini biasanya direpresentasikan dengan ibadah-ibadah yang telah ditetapkan kepada kita, seperti : sholat, zakat, puasa, haji, shodaqoh, berkata baik, dan seluruh perbuatan yang terangkum dalam akhlak-akhlak yang baik. Dimensi horizontal menjelaskan hubungan kita dengan alam sekitar. Mulai dari alam biotik dan abiotik. Kita sebagai khalifah harus menjaga hubungan dengan orang-orang dilingkungan sosial, baik yang yang berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai makhluk sosial, atau dalam bahasa Aristoteles adala zoon politicon, kita tidak akan bisa hidup sendiri. Perkara makan saja, kita akan melibatkan petani, penggiling, distributor , dan penjual beras hingga kita membelinya.

Terakhir adalah dimensi diri atau self, yang juga harus diperhatikan untuk keseimbangan alam. Dimensi ini sebenarnya bisa dijadikan inti dari dua dimensi diatas, dimana, diri memiliki peranan penting untuk menjadikan pribadinya menghargai dimensi sosal dan vertikel. Ada qaulul hikmah yang berbunyi “man ‘arofa nafsahu, arofa robbahu” yang berarti siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Hal ini bisa diperluas karena orang yang telah mengenal bagaimana Tuhannya menciptakan dirinya akan menjadi mafhum untuk meningkatkan hubungannya dengan lingkungan sosialnya.

Ketiga hal tersebut haruslah kita jalankan secara seimbang demi kemuliaan kita menjadi khalifah. Jalan satu-satunya untuk menyeimbangkan ketiga dimensi tersebut adalah dengan kasih sayang yang utuh. Ya, kasih sayang. Karena Allah sendiri, dengan kasih sayangnya telah menciptakan manusia untuk mengesakanNya. Begitu juga dengan penciptaan Sayyidina Muhammad, denga kasih sayang Allah menjadikan beliau nabi terbaik, yang dengan kasih sayang juga, Nabi Muhammad menyebut kita dalam kalimat terakhir sebelum beliau wafat.

Mengapa kasih sayang menjadi kunci utama dalam penciptaan harmonisasi tiga dimensi tersebut? Karena kasih sayang telah terkodekan dalam kalimat yang setiap hari kita sebutkaan, yang mana, kalimat itu menjadi hal sunnah untuk diucapkan sebelum melakukan segala sesuatu. Bismillah arrahman arrahim, yang artinya : Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Lihat ada kata pengasih dan penyayang yang berasal dari kata kasih dan sayang. Disana ada makna tersembunyi yang hanya diketahui oleh santri-santri yang mengaji nahwu shorof atau orang umum yang mengaji tafsir.

Ar Rahman diartikan sebagai pengasih yang berarti, rasa kasih Allah itu sepanjang masa di dalam dunia dan di akhirat yang diperuntukkan bagi orang Islam da non Islam. Di alam dunia, Allah mengasihi semua makhluknya tanpa terkecuali. Baik itu kita sebagai orang muslim ataupun kepada binatang yang tidak diketahui agamanya. Begitu pula, rasa kasih Allah meliputi orang-orang Nasrani, Yahudi, Budhis, Hinduis, Sinto, dan lain-lain, bahkan Atheis. Lihatlah, mereka juga bisa makan enak, merasakan nikmat dunia yang besar. Mereka kaya, mereka menguasai barang-barang kebutuhan kita, mulai Sabun mandi hingga barang tambang.

Mengapa orang yang tidak taat kepada Allah banyak yang lebih kaya secara materi dari pada orang muslim? disinilah jawabannya. Karena ia menerima Kasih Allah. Ia hanya diberikan rasa kasih Allah sebagai Tuhan semesta Allah selama di dunia ini. Sedangkan orang muslim, atau orang-orang yang taat kepada Allah kebanyakan hanya diberikan materi yang sedikit. Ini adalah bentuk ujian selama di dunia. Karena “addunya sijnul mukminin” dunia adalah penjaranya kaum mukmin (orang-orang yang beriman kepada Allah). Sehingga dengan ujian itulah, nantinya, di akhirat, ketika hari pembalasan tiba, orang mukmin akan benar-benar kaya.

Kedua, Ar Rahim, memiliki arti penyayang di akhirat saja. Hanya di akhirat dan hanya diperuntukkan untuk orang-orang muslim. Jadi, ketika di dunia kita tidak diberikan materi yang cukup oleh Allah, maka yakinah bahwa itu merupakan ujian yang akan digantikan dengan yang lebih baik di akhirat. Ar rahim hanya diperuntukkan bagi kita, umat muslim yang ridlo denga ketentuanNya selama di dunia ini. Jadi, ini juga menjawab pertanyaan mengapa orang Islam diciptakan lemah hartanya.

Jadi bisa kita anggap dalam mengaktualisasikan kasih sayang tersebut di dunia nyata adalah, bahwa makna sayang itu lebih dalam dan sangat personal dibandingkan dengan kasih. Kita bisa memberikan sedekah kepada pengemis dengan rasa kasih saja, tidak dengan sayang. Namun jika dengan anak-anak yang lahir dari rahim kita, maka kita akan memberikan segala sesuatu dengan rasa sayang. Ketika kita menyayangi seseorang maka apapun akan kita kasihkan demi orang tersebut. Sampai disini, kita akan menemukan sebuah logika antara manusia dan Allah mengenai doa dan pengabulan doa.

Ketika Allah menyayangi kita, maka segala doa akan dikabulkan selekas-lekasnya. Namun jika karena doa tersebut kita akan menjadi kufur terhadapnya, maka bukan hal yang mustahil Allah akan menyimpan doa tersebut untuk dikasihkan kepada kita esok di akhirat. Logika ini hampir sama dengan cerita antara kita dan anak-anak kita. Anak yang berusia 10 tahun, ketika meminta sepeda motor tentu tidak akan serta merta kita kabulkan meskipun kita sangat menyayanginya. Namun kita tolak dengan halus dan berjanji esok ketika usianya telah mencukupi, anda akan membelikannya.

Dengan adanya kasih sayang ini, kita akan mampu menjadi khalifah yang penuh dengan keseimbangan. Dalam hubungan vertikal dengan Allah, kita bisa saling menyayangi sebagaimana sepasang kekasih. Kita tidak akan pernah berburuk sangka kepada Allah, kita juga tidak akan menyia-nyiakan titipan Allah seperti anak-anak, istri, harta, dan seluruh pangkat jabatan selama di dunia. Dengan sayang yang besar, kita akan percaya bahwa hanya kepadaNyalah menyembah serta memohon pertolongan.

Begitu pula hubungan kita dengan diri sendiri dan orang lain. Dengan adanya kasih dan sayang ini, kita tidak diperkenankan tidur berhari-hari demi pekerjaan yang menumpuk. Kita juga harus makan makanan yang bergizi, empat sehat, lima sempurna, dan enam halal. Itulah hak tubuh dan kewajiban kita terhadap diri sendiri. Sedangkan hubungan dimensi sosial (horizontal) dengan kita ketika kasih sayang sudah melingkupi adalah adanya timbal balik harmonis dan simbiosis mutualisme. Kita sebagai makhluk sosial harus mengasihi sesama manusia, dan jika kita sesama muslim maka saling sayang menyayangilah tanpa pamrih.

Sungguh, jika rasa kasih dan sayang sudah menjelma, maka kita akan mampu saling mencintai karena Allah, dan saling membenci karena Allah. Dimana posisi keduanya begitu tinggi dihadapan Allah.

Tentang Penulis
Fathul Qorib, dilahirkan di Lamongan pada 20 Januari 1989. Menulis esai, cerpen, puisi, dan beberapa naskah pementasan. Sekarang sedang menempuh S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura. Pernah menjadi Ketua Studi Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya 2010, Ketua Umum FLP Cabang Bangkalan 2012, dan Ketua Sekolah Menulis Bangkalan 2009-2011. Sekarang sedang giat-giatnya menulis, menonton fim, sekaligus menyelesaikan Skripsi S-1nya. Penulis dapat dihubungi di email : qorib.indonesia@gmail.com atau qorib_indonesia@yahoo.com dan blog :http://fathqorib.blogspot.com