Oleh : Yanuari Dwi Prianto*

“Apalah arti sebuah nama” kata William Shakespeare. Dahulu saya sepakat dengan kata itu. Emang apa sih artinya sebuah nama? Sepertinya memang hanya sebuah identitas, pembeda si ini dengan si itu, sudah cukup, itu saja, tidak ada makna yang lebih.

Tetapi tahukah kalian kalau ternyata nama itu begitu penting dalam kehidupan ini. Coba saja jika setiap manusia yang terlahir di dunia tidak mempunyai nama, coba bayangkan! Bisa gak? Pasti tidak akan terbayang. Ketika kita akan bercerita tentang seseorang, jika tanpa nama tentu kita akan mendeskripsikan setiap detail ciri-ciri orang tersebut, panjang kali lebar, kita akan mengalami kesulitan dalam komunikasi, bersosialisai, dan tentunya juga permasalahan kompleks lainnya.

Jangankan tidak mempunyai nama, mempunyai nama tetapi agak ‘nyeleneh’ ternyata juga akan mempengaruhi kehidupan kita, dari sisi psikis khususnya.

Saya akan mencoba bercerita sedikit tentang pengalaman pribadi yang sangat berkaitan dengan arti sebuah nama.

Saya terlahir pada sebuah keluarga dan lingkungan yang jauh dari suasana Islami dan sudah barang pasti – dan memang nyata – orang tua tidak memberikan sebuah nama yang memiliki nilai Islami. Orang tua memberikan nama “Yanuari Dwi Prianto” dengan maksud agar orang lain yang mengenal saya nantinya dapat dengan mudah mengenal bahwa saya lahir pada bulan januari (Yanuari), anak ke dua (Dwi) dan pria (Pria-nto). Cukup menggelikan bukan? Saya sendiri sebenarnya – sedikit – malu untuk bercerita dalam tulisan ini, tetapi sekedar untuk berbagi, semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari tulisan ini.

Saya menyebutkan kata ‘menggelikan’ pada paragraf sebelumnya, iya, bagaimana tidak? Saya pernah bergumam dalam hati, “Apa pentingnya orang tahu tanggal lahir saya? Entah anak ke dua, ke empat atau ke tujuh juga apa pentingnya? Prianto, yang menegaskan tentang gender pria, ini bagian yang terlucu mungkin, emang saya itu dari segi fisik berbeda dengan seorang pria apa? Hingga harus perlu di beri penegasan nama ‘Pria’, tidak di ketahui dari nama pun ya kalau ada orang melihat saya ya pasti menyebutnya pria bukan wanita terlebih waria – dengan perasaan kecewa terhadap orang yang memberi nama tersebut – hmmm enak aja..” Astaghfirullah, ini pemikiran saya dulu, sekarang insya Allah tidak.

Ternyata ketika menjelang kuliah saya mendapati dahaga yang sangat akan segarnya agama, saya mencoba mengenal Islam lebih jauh, lebih dalam. Ketika ospek Universitas terdapat satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang cukup menarik bagi saya, dengan seketika saya berkomitmen dalam diri, “ini nanti yang akan jadi organisasiku”.

Organisasi itu adalah LDK-MKMI (Lembaga Dakwah Kampus Majelis Kajian Mahasiswa Islam), UKM yang bergerak untuk menampus minat bakat mahasiswa dalam kerohanian Islam.

Beberapa pekan berikutnya, saya dapati sebuah brosur pendaftaran untuk menjadi anggota LDK. Saya dengan kepercayaan diri segera mendaftar, beriring keyakinan bahwa dari organisasi inilah saya akan mendapati bimbingan dan ilmu untuk merealisasikan visi saya pada waktu itu, “Dekat dengan Allah, belajar banyak tentang Islam dan membawanya pulang untuk perbaikan krisis kepercayaan di desa”.

Sebagai salah satu syarat menjadi anggota LDK adalah mengikuti diklat pertamanya yang mewajibkan semua pendaftar mengikuti technical meeting. Pada technical meeting inilah saya dapati pentingnya arti dan pemilihan nama bagi manusia.

Saat itu semua peserta dibagi kedalam beberapa group, dalam waktu tertentu moving/ bergeser pada pos-pos dengan tema tertentu – saat itu ada 5 pos –.

Di setiap pos masing masing peserta harus memperkenalkan diri dan sedikit biografi diri. Nah dari sini baru saya sadari, bahwa dari sekian banyak peserta – kalau tidak salah kurang lebih 50 peserta pria dan beberapa panitia – hanya saya yang mempunyai nama tidak Islami, yang lain, Shohibul Anwar, Badar Said, Khoirul Anwari, Bahrul Ulum, Syaiful, Muhtazul Farid, Sholehuddin. Sedangkan saya…, Yanuari Dwi Prianto.

Apakah anda tahu apa yang saya pikirkan pada waktu itu? Pikiran itu berlari-lari hilir mudik di dalam otak saya dan dengan bisingnya terngiang-ngiang di telinga, “Sepertinya saya ini salah kandang, disini semua kuda sedang aku hanya tampak tak lebih bak keledai. Yang lain menyandang nama-nama yang mulia, sedang aku? Hampa, tak ada artinya.”

Down, pesimis, dan putus asa menjadi bayangan yang menyesakkan. Bukan hanya sehari, seminggu atau sebulan, tetapi rasa pesimis akan nama itu berlangsung selama bertahun-tahun. Sumpah serapah menjadi konsumsi harian dalam hati, “Sepertinya orang dengan nama seperti aku ini tidak tercipta untuk Islam, kenapa orang tuaku menamaiku dengan nama seperti ini?”.

Tetapi Allah-lah yang Maha Menentramkan, Maha Membolak-balikkan hati setiap hamba yang tertanam rindu dekat dengan-Nya. Beberapa lama tanpa terasa saya menjadi lupa akan rasa malu terhadap nama itu.

Tahukah anda bagaimana cara Allah menentramkan kegundahan hati saya atas nama yang saya sesalkan?

Dengan lembut Dia memberi pelajaran dan teguran yang begitu indah. Pada setiap pertemuan dengan seorang ustadz, kyai, tetua agama, ataupun tokoh masyarakat, dan mereka bertanya, “siapa damanya sampeyan dik?” ya saya jawab apa adanya, “Yanuar Pak”,tahu apa yang keluar dari lisan mereka? “Oh, dik Anwar.”

Iya, hal seperti itu berulang kali terjadi, namaku berganti dari ‘Yanuar’ menjadi ‘Anwar’. Dan mereka kerap kali memanggil saya dengan sebutan itu, Anwar, padahal sudah seringkali saya berikan penegasan, “Bukan Anwar pak, tapi Yanuar”, tetapi mereka tetap saja, “sudahlah lebih enak dan mudahan Anwar”.

Subhanallah.., dan itulah yang melatarbelakangi saya memberikan nama blog pribadi saya yang beralamat yanuary.wordpress.com dengan nama Pustaka Al Anwar (sedikit promosi J ).

Ah.., apalah arti sebuah nama, yang jelas, Islam mengajar dengan santun bahwa nama itu adalah doa, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Rafi’, “Nama itu adalah doa, dan nama itu bisa membawa pada sifat anak kemudian”, dan dalam sebuah maqolah Arab pun menyebutkan, likulla musamma min ismihi nashiibun, Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.

Bagi anda yang memiliki unsur nama seperti saya, dan mempunyai kekecewaan yang sama dengan saya terhadap nama, bersyukur dan bersabarlah! Yakinlah bahwa orang tua kita menamai kita atas petunjuk dan ridho Allah SWT. Tak usah merisaukan sebuah nama, apalah arti sebuah nama? Ada kekhawatiran yang lebih harus kita prioritaskan daripada hanya sekedar kekhawatir terhadap arti sebuah nama.

Oh iya, hampir saja terlupa. Berikan nama yang indah dan berkah buat anak anda kelak. Pikir dan pilih mulai dari sekarang J karena Allah berpesan dalam Al-Qur’an Surat Al Ahzab 5:

Panggillah (namailah) mereka dengan memakai nama bapak-bapak mereka.”

Dan Rasulullah pun menegaskan dalam sebuah riwayat, “Seseorang bertanya kepada Nabi dan bertanya, ‘yaa Rasulullah apakah hak anakku ini?’ kemudian Nabi SAW menjawab, ‘memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik’.”(HR. Ath-Thusi).

————————————–

Yanuari Dwi Prianto adalah Mahasiswa akhir UTM yang juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, pertanian, dan ekonomi untuk pengabdian kepada masyarakat. Direktur dari Genius, lembaga motivasi dan pengembangan diri, yang berfokus pada karakter building bagi para anak-anak dan remaja pada skala SMP, SMA dan Mahasiswa. Juga sebuah lembaga yang  menangani kegiatan sosial pendidikan bagi anak jalanan, kurang mampu hingga upgrading skill Guru.