Oleh : Yanuari Dwi Prianto

Dia adalah lelaki yang mulia lagi terhormat dalam majelis Khalifah Walid bin Abdul Wahid di Damaskus (kota terbesar kedua di Syiria). Dalam keadaan berkaki satu, dia menghadirkan kekuataan jiwa yang kokoh dan kelapangan hati yang dalam. Dia adalah ‘Urwah bin Zubair, keponakan Rasulullah SAW, anak dari Asma’ binti Abu Bakar saudari Aisyah binti Abu Bakar.

            Dalam perjalanannya menghadap Khalifah dari Madinah ke Syria, Urwah terkena penyakit parah pada kakinya. Tak ada jalan lain kecuali harus diiamputasi. Begitu tersadar setelah pingsan karena dipotong kakinya, ia harus menerima kabar lain, satu dari ketujuh anaknya telah meninggal. Ketika Khalifah memberikan ucapan belasungkawa, dengan kelapangan jiwanya ‘Urwah menjaawab, “Aku diberi tujuh anak, diambil satu. Aku diberi dua kaki dan dua tangan, diambil satu. Sungguh, bila Allah menguji, betapa ia dalam waktu yang lama telah memberi kenyamanan. Bila ia mengambil, betapa dalam waktu yang lama ia telah memberi. Aku berrharap, bisa berkumpul di surga kelak dengan apa-apa yang telah Allah ambil.”

Sepertinya Urwah ingin menjelaskan keyakinan hatinya, bahwa dalam cobaan yang tengah menimpanya apa yang disisakan oleh Allah, jauh lebih banyak dari apa yang Ia ambil. Anaknya meninggal satu, masih ada enam. Bahwa kelapangan yang diberikan oleh Allah, jauh lebih luas dari kesempitan yang Ia ujikan. Ia masih punya dua tangan dan satu kaki.

Begitulah sikap ‘Urwah ketika menghadapi cobaan, dan bagaimana sikap kita jika seandainya cobaan itu tertimpa kepada kita? Apakah kita bisa setegar, sesabar dan selapang ‘Urwah dalam penerimaannya?

Mengutip perkataan Aa’ Gym, “sesendok garam tetaplah sesendok garam. Jika ia masuk dan diaduk dalam sebuah gelas, rasanya akan begitu asin dan pahit. Tapi, saat ia masuk ke telaga, tidak akan ada pengaruhnya. Sesendok garam itu adalah masalah/ cobaan. Masalah tetaplah masalah, yang membedakan rasanya adalah luasnya kelapangan hati kita saat menghadapinya.” Jadi, seperti apapun dan bagaimanapun bentuk cobaan yang tengah menimpa diri kita, tidak akan jadi masalah jika kita memiliki jiwa yang sabar dan lapang.

Dan hanya sikap sabarlah yang akan dapat memanis setiap pahit cobaan dalam hidup kita, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur’an, “Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS 2: 155). Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar pada lanjutan ayat di atas: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. (Qs 2: 156) Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut, ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah menjanjikan dalam Al-Qur’an: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Laa yukallifullahu nafsan illa wus ‘aha. Allah tidak akan memberi cobaan pada manusia kecuali mereka mampu menanggungnya. Untuk itu tak usah buru-buru meratapi kondisi kita yang miskin, sakit-sakitan, ditimpa musibah dan bencana seakan hanya kita yang mendapat cobaan yang berat dari Allah. Karena Innallaha maashabirin. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar dan selalu dalam lindungan Allah Azza Wajalla.

Yanuari Dwi Prianto adalah Mahasiswa akhir UTM yang juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, pertanian, dan ekonomi untuk pengabdian kepada masyarakat. Direktur dari Genius, lembaga motivasi dan pengembangan diri, yang berfokus pada karakter building bagi para anak-anak dan remaja pada skala SMP, SMA dan Mahasiswa. Juga sebuah lembaga yang  menangani kegiatan sosial pendidikan bagi anak jalanan, kurang mampu hingga upgrading skill Guru.