Oleh: Titim N.

 

“Pulanglah nak! Apa kamu tidak mau melihat kebahagiaan kakakmu?” pinta ibuku dari seberang telepon sana.

“Vey disini masih banyak tugas, Bu,” aku beralasan.

“Iya. Tapi Ibu harap kamu bisa pulang.” bujuk ibuku.

“Insyaallah. Vey pikir-pikir dulu, Bu,” dengan berat kuucapkan untuk menjaga perasaan Ibu.

“Ya sudah. Nanti tak telepon lagi.”

“Iya, Bu. Assalamualaikum.”

Klik. Langsung ku tekan tombol hape bergambar gagang telepon berwarna merah untuk menghindari percakapan lebih lama dengan Ibu. Jujur hatiku teriris harus menolak permintaannya.

Sebelumnya Kak Arlan juga sudah menelfon, memintaku untuk pulang di hari pernikahannya.

“Bener kamu tidak mau melengkapi kebahagiaanku?”

“Kak. Kamu tahu kan, alasanku kenapa aku tidak mau pulang?” isakku pecah karena mendengar suaranya, ku berharap dia dapat memahami perasaanku.

“Ya sudah. Aku mengerti jika kamu memang masih belum siap bertemu dengannya. Jika memang ini terbaik untukmu, saranku cobalah untuk melupakannya. Obatilah lukamu hingga benar-benar sembuh. Yang sabar ya, sayang.” aku merasa cukup lega karena masih ada orang yang memahamiku.

***

Aku dilema. Di satu sisi aku benar-benar ingin turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan kakakku. Tapi jika aku pulang maka aku pasti akan bertemu dengan Rayyan, seseorang yang belum lama ini menorehkan luka di hatiku. Dia adalah sahabat dekat kakakku.
“Aku minta maaf. Aku telah berusaha menolak perjodohan ini, tapi ayah memaksaku untuk segera menikah,” ucapnya berat ketika ia berkunjung ke asramaku sebulan lalu.

Deg…. suara dingin itu menancap begitu keras di hatiku, menorehkan luka, luka yang begitu dalam. Sekuat hati ku membendung air mata ini agar tak meluap di hadapannya.

“Tapi kenapa harus Nina, kenapa harus sepupuku yang kau pilih?” suaraku agak serak
“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba ayah telah menetapkan dia sebagai calon tunanganku. Karena dia adalah anak dari sahabatnya, begitu alasan ayah.”

Kita sama-sama terdiam. Aku tertunduk dalam diam mencoba menyembunyikan kehancuran hatiku.

“Ayah juga telah menetapkan tanggal pertunanganku,” lanjutnya.

“kapan?” tanyaku mencoba terlihat tegar di hadapannya.

“Satu bulan lagi. Tepat satu hari setelah pernikahan kakakmu.”

“Ow… ya udah. selamat, dan semoga kau bahagia bersamanya. Assalamualaikum,” tanpa menunggu jawabannya aku meninggalkan dia di teras asrama. Aku segera masuk ke kamar dengan air mata yang tak dapat dibendung lagi. Ku tumpahkan semuanya di kamar. Aku berharap dia memahami perasaanku, bukan maksudku tuk mengacuhkannya. Aku tak membencinya, aku hanya terluka menghadapi kenyataan, aku hanya kecewa. Dia pernah berjanji bahwa dia akan menjaga cintanya untukku hingga nanti Allah mengizinkan kita untuk bersama. Tapi nyatanya, dia telah menorehkan luka karena perjodohannya dengan sepupuku, Nina. Hal inilah yang membuatku berat untuk pulang. Karena luka itu akan semakin menganga jika harus menyaksikan pertunangan mereka.

Baru saja aku selesai melaksanakan shalat dluha, hapeku berdering. Kulihat tertera nama “Ayah” dilayar HP.

“Assalamualaikum, Ayah,” setenang mungkin ku menyapanya.

“Waalaikum salam, vey,”

“Ada apa, Ayah?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

“Kata ibu kamu tidak mau pulang? Besok adalah pernikahan kakakmu, pasti kebahagiaan kami kurang sempurna tanpa kehadiranmu. Sebenarnya ada apa, sayang? Pasti ada masalah yang membuatmu tidak mau pulang.” suaranya begitu tenang membuat mulutku berujar, “Aku akan pulang kok, Yah. Vey rampungkan tugas dulu. Nanti aku akan menelfon kalau udah nyampek di terminal.”

“Jangan paksakan diri jika memang kamu tidak mau pulang Tapi jika memang kamu mau pulang ayah akan sangat senang. Ya sudah, ayah tutup dulu telfonnya. Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam, Ayah,” telfonn di putus dari seberang sana.

Langsung kubereskan pekaian dan aku putuskan bahwa aku harus pulang. Meski hati ini masih begitu berat mengambil keputusan ini.

***

Tiba di rumah suasananya begitu ramai karena semua keluarga berkumpul. Semua sibuk mempersiapkan acara pernikahan besok. Setelah bersalaman dengan semua keluarga, aku langsung masuk kamar. Tadi aku berpapasan dengan Nina. Benar saja, luka itu kembali menganga.

Setelah melepas lelah sebentar, aku mencoba berbaur dengan keluarga yang lain. turut serta mempersiapkan segala sesuatunya. Baru setelah malam agak larut aku masuk ke kamar. Tapi mataku tak dapat terpejam, luka ini benar-benar aku rasakan. Bayangan hari pertunangan Rayyan dan Nina selalu menari-nari dalam pikiranku. Aku juga menjadi gelisah mengingat kakakku akan menikah. Aku takut kasih sayangnya akan terbagi antara aku dengan istrinya. Aku merasa akan kehilangan sosok seorang kakak yang begitu menyayangi dan melindungiku. Pikiranku menjadi kacau. Berbagai macam rasa berkecamuk di dadaku.

“Ya Allah, beri aku keikhlasan untuk melepasnya.”

Aku pandangi langit-langit kamar mencoba mencari sesuatu yang tak pasti. Namun aku tak pernah menemukannya karena memang aku tak tahu apa yang aku cari. Terlalu lelah ku mencari hingga tak terasa aku terlelap dalam dunia mimpi.

***

“Menangislah jika kau ingin menangis. Keluarkanlah segala kekesalanmu! Tapi setelah itu, hapuslah air matamu, dan kembalilah menjadi Veynusku yang tegar. Selalu bersinar meski terkadang awan hitam menghalangi sinarmu. Jangan biarkan dirimu rapuh.

ersinarlah kembali menjadi bintang yang selalu menerangi hati kita,” ucap kak Arlan saat berkunjung ke kamarku dan melihat wajahku yang begitu lusuh. Tak kuasa ku bendung lagi air mata, kutumpahkan semuanya di pelukan Kak Arlan. Berharap semua kesedihan akan ikut bersama air mata yang tak tahu entah kemana ia bermuara. Setelah itu benar saja, aku sedikit merasa tenang.

“Aku tidak mau kehilangan Kakak,” aku merengek seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal ibunya.

“Kakak tidak kemana-mana kok. Kakak akan selalu di sampingmu,” ucapnya hangat.

“Tapi kakak sebentar lagi kan akan menikah. Aku takut kakak akan melupakanku,”

Kak Arlan memegang kedua pipiku dan memandangku, tatapan mata yang begitu hangat.

“Tak ada seorang kakak yang akan melupakan adiknya. Aku memang akan menikah karena aku telah menemukan seseorang yang aku rasa dapat menjadi teman hidupku, begitupun dengan kamu. Suatu saat nanti,kamu akan menemukannya.”

Kata-katanya menjadi matahari yang menghangatkan musim dingin dalam hatiku.

“Sekarang mandi sana, bau!” dia menutup hidungnya menjauh dariku persis seperti dulu waktu kecil ketika aku malas mandi.

Aku tersenyum merasa lega dan senang mempunyai kakak seperti dia, tingkahnya selalu berhasil mengusir kesedihanku.

Tiga puluh menit berlalu dan aku telah siap dengan wajah baruku tentunya dengan hatiku yang baru, tuk menghiasi kebahagiaan kakakku.

Kakakku begitu gagah bak pangeran yang bersanding dengan permaisurinya. Acara berjalan dengan lancar. Namun hatiku kembali teriris melihat Rayyan dan Nina mendampingi kedua mempelai saat acara foto-foto. Dan untuk yang terakhir kalinya aku berada dalam pelukan Kak Arlan untuk mendokumentasikan hari yang begitu sakral ini.

***

Kini bis yang ku tumpangi membawaku kembali menuju asrama. Kupandangi pemandangan di sepanjang perjalanan yang begitu indah. Mengingatnya membuat embun dimataku sedikit memancar. kucoba menghapusnya dan berharap luka ini lenyap bersama laju bis yang begitu tenang di aspal yang begitu mulus.

Ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan ini, dan pasti apapun yang ku alami merupakan ketetapan Allah sebagai suatu proses dalam hidupku tuk menjadikan lebih baik dan menjadikanku lebih dewasa dalam menyikapi setiap masalah. Kini setelah aku merenungi semua, aku sadar bahwa selalu ada hikmah di balik permasalahan, termasuk permasalahanku saat ini.

Selama ini aku telah mengabaikan kasih sayang yang telah keluargaku berikan. Bodohnya diriku yang selama ini merasa tak ada yang menyayangi akibat penghianatannya. Padahal kasih sayang keluargaku begitu besar. Hal ini menjadikanku mengerti bahwa aku tak boleh egois dengan hanya memikirkan diriku sendiri, akan lebih baik ketika aku dapat memberikan kebahagiaan untuk orang lain ternmasuk keluargaku. Aku bahagia melihat senyum yang selalu mengembang dari mulut ayah ibuku tadi saat pernikahan kak Arlan.

Aku juga sadar Allah memang tidak menakdiranku bersama dengan Rayyan. Aku merasa yakin bahwa Allah telah menciptakan seseorang yang akan melengkapi hidupku suatu saat nanti, tapi bukan dia. Biarlah aku meninggalkan semua luka menyembuhkannya hingga kering dan tak pernah berbekas lagi.