Oleh : Lailatul Muizzah

—————————–

Belanja. Siapa yang tidak suka berbelanja? Semua orang pasti suka berbelanja asalkan ada uang. Kalau dulu seseorang berbelanja karena ingin memenuhi kebutuhan hidupnya seperti makan, minum, pakain dan sebagainya. Berbeda dengan sekarang menurut Haryanto Soedjatmiko, penulis buku “Saya Berbelanja Maka Saya Ada” dimana belanja menjadi tolak ukur jati diri seseorang sebab terkait dengan banyak aspek, antara lain aspek sosial dan psikologis. Dari aspek psikologis, misalnya diamana belanja ada hubungannya dengan rasa gengsi. Dari aspek Sosial, dengan belanja bisa menunjukkan status orang tertentu.

Konsumerisme telah mengubah konsumsi yang seperlunya menjadi konsumsi yang mengada ada. Orientasi kebutuhan (need) bergeser kepemenuhan keinginan (want). Konsumerisme sendiri merupakan budaya belanja dimana masyarakat biasanya menghabiskan uang untuk barang-barang yang bukan merupakan kebutuhan primer. Membeli tas, sepatu, dan sandal tidak cukup satu saja, mereka cenderuang memebeli beberapa dan menyesuaikan dengan warna baju yang mereka kenakan. Padahal satu saja sebenarnya sudah cukup, kita bisa membeli warna putih atau hitam yang biasanya sepadan dengan warna apapun. Melalui belanja, seseorang tidak lagi mementingkan apa yang dapat diperbuat dengan barang tersebut, melainkan apa yang diakatakan atau tampak oleh orang lain melalui barang tersebut terhadap dirinya sebagai konsumen.

Ketika kita ingin makan, dengan nasi dan lauk seadanya tentu sudah bisa kenyang. Tetapi kenapa seseorang harus ke Restoran mahal dahulu hanya untuk mengenyangkan perutnya? Ini tidak lepas dari rasa gengsi dan status sosial tersebut. Seseorang akan merasa lebih bangga ketika bisa makan di restoran dengan biaya yang tidak sedikit ketimbang makan di warung biasa walaupun intinya sama, yaitu kenyang. Ada prestis tersendiri ketika dilihat oleh rekan kerjanya, atau orang yang dikenal ketika mereka duduk di restoran mahal tersebut. Berbelanja (shopping) agaknya telah menjadi ciri-ciri manusia yang hidup di zaman kontemporer dewasa ini.

Konsumerisme dan Sosiologi Konsumsi (Mujibur Rohman) Jika ungkapan Descartes Cogito Ergo Sum (Aku berpikir, maka aku ada) menjadi kebanggan dan wujud peneguhan eksistensi manusia berdasarkan rasionalitas. Saat ini, yang dominan adalah, Emo Ergo Sum (Aku berbelanja, maka aku ada) Sebuah peneguhan eksistensial manusia yang kadang tanpa dasar nalar. Sadar atau tidak, nilai tukar dan nilai guna sebagai tolak ukur produksi dan konsumsi kini bergeser menjadi nilai tanda dan nilai simbol semata. Ya, hanya penampilan luar yang diutamakan bukan fungsi atau manfaat barang tersebut yang dipertimbangkan.

Ketika belanja menjadi berlebihan di situlah orang mulai berkata tentang konsumtif dan ujung-ujungnya konsumeris. Konsumerisme, pada awalnya adalah consumer-ism, sebuah aliran yang hendak melindungi konsumen dari gempuran barang-barang produksi. Dalam perkembangan selanjutnya, konsumerisme beralih kepada suatu pola pikir dan tindakan di mana konsumen yang dilindungi itu membeli barang bukan karena ia membutuhkan barang tersebut, melainkan karena tindakan membeli itu sendiri memberikan kepuasan kepadanya. Dengan kata lain, bisa saja seseorang yang terjangkit konsumerisme selalu merasa bahwa ia belanja karena ia membutuhkan barang tersebut, meskipun pada momen refleksi berikutnya, ia sadar bahwa ia tak membutuhkan barang tersebut. Inilah akar konsumerisme, yaitu agar ekonomi bisa terus berjalan dengan baik, anggota masyarakat harus terus membeli.

Mungkin lebih bijak jika uang lebih yang kita punya diatabung saja. Sebagai seorang muslim, alangkan lebih baiknya pula, jika ada rezeki lebih diberikan kepada orang yang kurang mampu, atau menyumbang untuk pembangunan masjid dan sebagainya yang tentunya lebih bermanfaat dan merupakan tabungan pahala bagi kita sendiri. sekali-kali lihat kebawah, rasanya terlalu dholim jika kita hanya menuruti nafsu sesaat dengan hal-hal seperti itu, sedangkan masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Kadang ada pula orang yang hidupnya biasa-biasa saja tapi hanya karena ingin mengikuti mode dan trend jahiliyah tersebut, sampai melakukan hal-hal yang tidak benar seperti menekan orang tua agar memberikan uang jajan lebih, menghabiskan uang SPP atau uang kos bulanan. semoga kita dijauhkan dari hal-hal seperti itu. Untuk memanage pengeluaran kita mungkin perlu untuk mengelist daftar kebutuhan kita mulai dari yang paling penting, penting, cukup penting, dan tidak penting, supaya kita tahu barang apa atau kebutuhan apa yang harus kita dahulukan. Dan jangan lupa untuk menyisakan sedikit – banyak dari harta kita buat saudara-saudara yang mebutuhkan. Karena dari apa yang kita miliki ada hak orang lain didalamnya.