Oleh : Titim N.

serpihan masa laluMentari tersenyum ramah ketika aku telah siap untuk berangkat mengambil raport adikku. Kebetulan aku berada di rumah karena sedang liburan UAS. Aku tak menolak ketika ayah memintaku mewakilinya. Sudah lama sekali aku tak menginjakkan kaki di SMP yang juga pernah membesarkanku. Aku dapat bersilaturrahmi dengan guru-guru di sana.

Kukeluarkan Yasmin (maticku yang telah lama aku tinggalkan karena dia tak dapat ijin dari Ayah untuk mengikutiku ke perantauan). Kustater Yasmin. Aku meraih hape di saku baju yang tadi berdering karena satu pasan masuk. Kulihat dan kembali ku dapati nama “secret admire” di layar hapeku. Nomor ini memang sering mengirimkan sms yang sampai saat ini menyisakan rasa penasaran siapa sebenarnya sang pengirim sms tersebut.

Tanpa membalas smsnya segera ku lajukan Yasmin di aspal yang mulus. Waktu telah menunjuk angka delapan. Hanya butuh waktu 15 menit aku telah tiba di tempat parkir SMPN Al-Mujahidin. Setelah kupastikan Yasmin akan terlindung setidaknya sampai tengah hari nanti, aku melenggang menuju kelas VII A, kelas adikku. Ada banyak hal yang berubah setelah kurang lebih 6 tahun tak pernah ku jejakkan kaki di tempat ini.

Aku langsung masuk mengetahui acara telah di mulai. Aku memilih duduk di barisan paling kanan yang memang dekat dengan pintu. Tak kurang dari 10 menit aku duduk, tiba-tiba seorang pria duduk di sampingku.

“Hai…..” sapanya. Aku pangling melihat wajahnya yang seperti tidak asing bagiku. aku berusaha memeras otak untuk mengingatnya.

“Kak Reihan?” pekikku setelah berhasil mengingatnya. Dia kakak kelasku ketika aku duduk di bangku SMP tepatnya ketika kita sama-sama menimba ilmu di sekolah ini. Pria itu tersenyum, pasti karena melihat tingkahku yang dari dulu tak berubah.

“Ternyata tingkahmu tetap sama ya, kayak dulu,” ujarnya.

Aku turut tersenyum, aku tak menyangka bisa bertemu dengannya di moment seperti ini. Ada sedikit gugup menyergapku. Selama ini aku selalu mengharapkannya meski setelah lulus dia menghilang begitu saja tanpa ku tahu kabarnya. Aku mulai bisa menepis harapan ini ketika aku menempuh kuliah karena aku sadar aku tak mungkin lagi bersua dengannya. Namun kini ia muncul lagi tepat di hadapanku. Aku berharap bahwa rasa ini tak kan kembali seperti kembalinya orang ini di hadapanku. Namun jujur kini kurasakan bahagia bisa bertemu dengannya lagi. Berbagai tema muncul dalam perbincangan kami hingga aku tak sadar guruku memanggil namaku.

“Aya, kamu mewakili Fahmi untuk mengambil raportnya, kan?” indra pendengarku menangkap suara itu dan langsung mengintruksikanku untuk berdiri.

“Eh, ah.  Iya, Pak,” jawabku gugup seraya maju menerima raport adikku.

Acara berlangsung dengan lancar. Selesai acara, pak Febri yang merupakan pembina OSIS ketika aku menjabat sebagai bendahara OSIS dan Kak Reihan sebagai ketua OSISnya, memanggil aku dan Kak Reihan dengan senyum khasnya.

“Wah, janjian nih, kok bisa barengan kayak gini?” goda pak Febri mengawali pembicaraan.

“Gak kok, Pak. Kebetulan aja,” sontak aku menjawab seraya mensejajari langkah pak Febri menuju ruang guru. Kak Reihan hanya tersenyum simpul menanggapi godaan pak Febri.

Pak Febri mempersilahkan kami duduk sesampainya di ruang guru. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari menanyakan aktifitas kami di kampus, bernostalgia tentang masa-masa kepemimpinan kami dulu, sampai tentang adik-adik kami saat ini. Wajahku pun hampir kayak kepiting rebus karena tak henti-henti di gojlokin sama guru-guru yang ada di ruangan ini. Tak lupa petuah-petuah bijak kami kantongi  dalam menyikapi kehidupan. Aku sangat senang bisa hadir kembali di sekolah ini meski hanya sebentar tapi dapat mengobati rinduku selama ini. Saking asyiknya ngobrol tanpa terasa jam sudah menunjukkan angka 12, aku pamit pulang.

Sesampai di rumah, segera ku taruh Yasmin di garasi. Setelah menyerahkan raport adikku, aku bergegas menuju lemari es, haus banget.

“Kok lama banget, Ay. Masih mampir kemana?” tanya Ibu.

“Gak mampir kemana-mana kok, bu. Cuma ngobrol-ngobrol tadi sama guru-guru di sana, jadi gak kerasa kalau udah siang,” jawabku seraya meletakkan kembali botol air ke dalam lemari es. Aku langsung masuk kamar setelah mendapat jawaban “oh” dari Ibu.

Kubuka jilbab putih yang dari tadi menghias kepalaku dan Ku jatuhkan tubuh di atas tempat tidur. Kulihat di layar hapeku tertera 5 pesan masuk. Kubuka 1 sms, dari kak Reihan.

Assalamualaikum. Dah nyampek, Ay?”

Sambil menahan senyum langsung ku balas smsnya.

Waalaikumsalam, alhamdulillah, Aya udh nympek dg slmat, Kak.”

Jujur hari ini aku bahagia bisa bertemu kembali dengan kak Reihan. Aku tak ingin terlalu berlarut-larut memikirkannya lagi. Aku beralih pada sms berikutnya, ya ampun, dari tadi aku lupa membalas sms dari nomor yang aku beri nama secret admire. 4 sms lainnya ternyata dari dia, emang dari tadi smsnya ku cuekin gitu aja. Segera ku balas smsnya untuk minta maaf.

Awalnya ingin ku kuak siapa sebenarnya orang yang mengaku secret admire yang selalu hadir dengan perhatian-perhatiannya dalam hari-hariku. Namun semakin aku mencari tahu, dia semakin misterius. Hingga aku menyerah untuk menguak identitasnya.

Dia selalu hadir mengindahkan hari-hariku dengan smsnya. Saat aku sedih dialah tempatku mencurahkannya, di saat bahagiapun padanyalah ku luapkan segala rasaku. Aku tak mengerti kenapa aku bisa mempercayainya, lebih dari itu dia merupakan sosok seorang Kakak yang aku harapkan selama ini. Bahkan dia pula yang meyakinkanku bahwa aku harus melupakan Kak Reihan dari hidupku, karena memang keluh kesahku tentang harapanku terhadap Kak Reihan dialah yang tahu.

***

Kuselesaikan aktifitasku membaca kalamNya setelah sholat maghrib.

Shadaqallahul `Azhim, ” ku tutup, ku cium mushaf suci ini dan ku letakkan ia di tempat semula. Sambil menunggu adzan isyak ku lihat hapeku dan terlihat satu pesan di layarnya.

Assalamualaikum, nisa. Sudah sholatkah kamu?”Nisa, begitu ia selalu menyebutku, padahal sudah ku bilang kalau namaku bukan nisa, tapi ia tetap bersikukuh memanggilku nisa. Akhirnya ku biarkan saja karena ku tahu nisa artinya adalah perempuan.

Waalaikumsalam, baru aja selesai.”

Dretttt, dretttttt hapeku kembali bergetar. Segera kubuka sms yang masuk.

“Nanti malem aku mau ke rumahmu. Boleh, ya?” ku baca sekali lagi memastikan isi smsnya. Selama ini aku sudah tak perduli dia hanya ada dalam dunia imajinasiku. Aku tak peduli meskipun aku tak pernah bertemu dengannya di dunia nyataku, namun ada sedikit rasa yang menyeruak di antara percaya dan tidak.

“Jangan bercanda, dech. Kamu kan, tahu sekarang aku tidak sedang berada di asrama.”

Tak berapa menit hapeku kembali bergetar.

“Siapa bilang aku mau ke asramamu, aku mau ke RUMAHMU, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan sama kamu.”lagi-lagi aku semakin tak percaya menatap layar hapeku.

“Iya, terserah kamu. Asal bawa temen.” akhirnya aku pasrah membalas smsnya.

Aku hanya tak ingin terlalu berharap. aku pernah mengajukan permintaan padanya untuk bertemu satu kali saja, tapi selalu jawabnya “saatnya nanti pasti kan tiba”. Selalu kupertanyakan kapankah saatnya itu, tapi tak pernah kudapatkan jawabnya, meski sebenarnya aku berharap aku bisa bertemu dengannya, dan akhirnya pasrah dengan sendirinya karena saat yang ia janjikan tak pernah datang.

“Tenang aja, Nisa. Aku akan datang bersama kakakku. Aku pernah berjanji ada saat kau akan tahu siapa diriku, dan inilah saatnya, tunggu kedatanganku!”

Malam ini dia akan ke rumahku, haruskah ku percaya? Aku semakin penasaran siapakah dia sebenarnya? Kenalkah dia dengan keluargaku? Kulupakan sejenak masalah ini. Segera ku tunaikan 4 rokaat sholat isya’ karena adzan sudah berkumandang dari tadi. Setelah menunaikan salam, kudengar pintu kamarku diketuk.

“Aya, ada temanmu di luar. Cepat temui sana!” panggil Ibu lirih

“Iya, Bu. Bentar lagi Aya keluar.” segera ku sambar jilbab biru yang ada di atas meja. Kuperhatikan sejenak dari balik jendela tamu yang ada di depan. Ada 2 orang laki-laki dan 1 wanita yang telah ditemui ayahku. Berarti benar dia datang bersama kakaknya. Aku hanya melihat tamu pria dari belakang, ku perhatikan wanita yang duduk di depannya sepertinya aku kenal. Jantungku berdegup tak karuan, “hah….??? itu kan Mbak Reyna, kakaknya Kak Reihan, benarkah?” bisikku tertegun. Pria yang satunya adalah Mas Firman, suami Mbak Reina

Aku menemui mereka dan berbaur di antara mereka. Jantungku berdegup semakin kencang berperang dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk dalam fikiranku. Setelah bersalaman dengan Mbak Reyna aku duduk di samping Ayah.

“Aya, apa kabar?” sapa Mbak Reyna lembut

“Alhamdulillah baik Mbak,” jawabku tetap dengan dada berdegup kencang, namun tetap ku tunjukkan wajah sumringahku.

Meski masih dengan berjuta pertanyaan di benakku, perbincangan terus berjalan. Di tengah perbincangan tiba-tiba Ayah menyela.

“Oya, Aya. katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan Reihan ke kamu. Ayah, Mbak Reina dan Mas Firman ke dalam dulu, ya. Ayah percaya kalian bisa menjaga diri.”

Aku tak dapat berkata apa-apa karena mereka semua langsung beranjak masuk. Kini tinggal aku dan Kak Reihan di sini. Lama kami sama-sama terdiam. 180 derajat aku berubah menjadi makhluk yang pendiam.

“Ay, maukah kau menjadi bidadari dalam hidupku?” ia membuka pembicaraan langsung pada intinya. Satu pertanyaan muncul dalam benakku, benarkah my secret admire adalah Kak Reihan?

“Kaukah yang selama ini hadir mengisi ruang imajinasiku. Kaukah yang selama ini mengaku sebagai secret admireku?” pertanyaan itu terlontar begitu saja mewakili kebingunganku.

Kak Reihan menarik nafas dalam-dalam.

“Benar, akulah secret admiremu selama ini, tapi kau harus dengar dulu penjelasanku, kenapa aku lakukan hal ini,”

Aku benar-benar tersentak mendengar pernyataannya. Membuatku tak habis pikir dengan apa yang ia perbuat terhadapku.

“Selama ini kau telah tahu perasaanku terhadapmu. Kamu pun juga tahu bahwa namamu telah terhapus dari hatiku, dan kaulah yang menghapusnya sendiri. Sekarang kau datang meminta hatiku, sebenarnya apa maksudmu ungkapkan semua ini?”

“Aku tahu mungkin kamu marah karena selama ini membiarkanmu dalam kebingungan. Aku minta maaf,” ia berhenti sejenak.

“Sejak lama aku mencintaimu, dan untuk mengetahui perasaanmu aku menyembunyikan identitasku. Aku bahagia karena ternyata kau juga mencintaiku, namun satu permasalahan kuhadapi, aku harus kembali ke Mesir untuk melanjutkan kuliah. makanya aku berusaha agar kau melupakanku karena aku takut aku takkan pernah kembali ke sini,” lanjutnya.

“Bagaimana jika aku benar-benar menghapus bayangmu dari ingatanku? Bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta pada sosok secret admire yang kau ciptakan itu?” aku hampir saja tak dapat membendung air mata yang berdesak-desakan ingin meluap.

Sebenarnya aku kesal, aku merasa dipermainkan, namun aku berusaha memahami alasan yang ia berikan.

“aku juga bingung. Di satu sisi, aku mencintaimu. Namun di sisi lain, aku  hanya tak ingin membiarkanmu terjebak dalam penantian. Bahkan lebih dari it, kumemilih menjadi secret admiremu agar aku bisa menjadi penopang di saat kau rapuh, menjadi teman dalam kesendirianmu. Aku lakukan ini agar kamu tidak menaruh harapan pada sesuatu yang tak pernah pasti.”

Kulihat setetes embun di sudut matanya. Kuterdiam dalam kebimbangan. bagaimanapun aku tak bisa membohongi diriku bahwa aku tak benar-benar bisa menghapus namanya dari hatiku. Aku menarik nafas mencoba memastikan keputusan yang akan aku ambil. Begitu berat rasanya mengambil keputusan.

“Aku bersedia menjadi bidadari dalam hidupmu. Aku bersedia melengkapi separuh jiwamu, dan aku bersedia mengisi kekosongan hatimu. Namun ada satu hal yang ingin ku ajukan. Aku ingin tetap menjaga cinta ini hingga nanti Allahnmempersatukan kita dalam ikatan suci yang Allah ridloi,” ucapku tegas. Begitu lega ku rasakan setelah berucap. Angin malam mengibaskan jilbab biruku pelan.

Dia memandang langit yang begitu cerah, secerah hati kita berdua.

“Syukurlah, sebenarnya aku takut mengungkapkan semua ini. Aku takut kau telah benar-benar menghapus namaku dari hatimu, tapi aku telah siap menerima segala kemungkinan yang terjadi,” ucapnya bersemangat.

“Tak mungkin aku menolakmu yang merupakan serpihan masa laluku, apalagi serpihan itu teramat indah bagiku,” aku tersenyum malu

“ Nisa…….” ia menarik nafas

Aku tersenyum ia menyebutku seperti itu

“Tadi aku sudah bicara dengan ayahmu. Beliau bilang semua terserah padamu, aku bisa bernafas lega. Minggu depan aku akan datang bersama keluargaku untuk meminangmu, untuk segera menyatukan cinta kita dalam ikatan suci yang Ia ridhoi,”

Aku melangkah masuk kedalam kamar setelah Kak Reihan dan Mbak Reyna meninggalkan rumahku. Dalam hati aku tersenyum penuh rasa syukur atas cinta yang ia limpahkan untukku malam ini dan semoga untuk selamanya. Aku tak pernah menyangka bahwa my secret admire, dia datang dari serpihan masa laluku.