Oleh: Fendi

“A friend in deed

Is a friend in need”

Pepatah Bahasa Inggris Kuno

Dalam suatu dialog yang dikemas lesehan, seorang sahabat saya bernama A berbicara banyak hal mengenai arti seorang sahabat. Bagi dia, “sahabat adalah semesta ketiga dalam dunia ini”. Pendapat itu diucapkan karena ia begitu yakin bahwa sahabat ibarat sebuah semesta. Jika sahabat baik maka kita juga baik. Tetapi, jika sahabat buruk, kita juga buruk. Dan ini mirip dengan semesta yang kita tempati saat ini.

Jika seseorang memilih sahabat yang pintar, maka ia bisa saja ketularan kepintarannya. sebaliknya jika tidak, maka ia akan terbawa kepada jalur persahabatan yang terkadang kurang sehat. Memilih sahabat bukan berarti kita harus memilah-milah dalam mencari sahabat. Tetapi, mencari sahabat yang tepat adalah sebuah anjuran untuk selalu diingat ketika kita berteman dengan seseorang. Kita harus selektif untuk hal ini.

Dalam persahabatan, kita akan menemukan kebaikan dan keburukan. Karena  kebaikan dan keburukan merupakan identitas dari salah satu “sifat dalam diri manusia” yang ada di dalam kehidupan ini. Maka, dalam berteman pun kita akan menemukan itu juga.

Karena pendapat sahabat saya yang A tadi selalu cenderung kepada faktor persahabatan, maka ada sahabat saya yang lain bernama B menolak, bahwa segalanya tergantung kepada individunya. Jika orang itu mau dibawa kepada jalan keburukan maka ia akan menjadi orang buruk, tetapi jika ia tidak mau maka ia tetaplah orang baik. Semua tergantung pada orangnya. Saya terdiam sejenak, merenung untuk memadukan kedua pernyataan itu sehingga bisa saling menguatkan bukan membenturkan menjadi diskusi panjang dan akhirnya terjadi pertengkaran yang tidak diinginkan dalam percakapan sederhana ini.

Saya hanya berkata ini, kepada sahabat saya bernama A dan B ini, bahwa kita mungkin saja pernah mendengarkan nasehat seorang di sekolah, bahwa “ apabila kita berteman dengan penjual minyak, maka kita akan kecepratan keharumannya sebaliknya jika kita berteman dengan tukang pembuang sampah, kita juga kecepratan baunya. Sahabat saya bernama A tersenyum seolah saya mengukuhkan pendapatnya. Kemudian saya juga berkata bahwa terkadang kita juga melihat betapa banyak orang hancur karena berteman dengan orang buruk, tetapi kita juga melihat justru orang itu semakin bersemangat untuk memperbaiki perilaku buruknya temannya itu. Orang seperti ini bisa dihitung dengan jari, bahkan jumlahnya minim, pernahkah engkau mendengarkan kisah seorang istri fira’un bernama Aisyah itu, meskipun ia memiliki seorang suami kafir, tetapi ia tidak mau menjadi kafir. Meskipun suaminya itu mencintai dan memberikan perhatiannya dan berharap agar aisyah mengikuti dirinya, tetapi aisyah tetap pada pendiriannya. Ia tetap teguh, tak bisa berubah apalagi sampai menjadi orang kafir. Karena ia memiliki keteguhan dan ia senantiasa menjaganya. Sahabat saya bernama B itu juga tersenyum, seolah pendapatnya juga dikokohkan. Akhirnya, percakapan sederhana yang mau terbawa kepada perdebatan ini, menjadi tuntas.

Saya menyebutkan bahwa seorang sahabat yang baik akan membawa kebaikan bagi sahabatnya, paling tidak, sahabat itu merasa malu berbuat buruk di depan sahabat baiknya itu.

Tidak dikatakan sahabat ketika orang yang menjadi sahabatnya terkena musibah ia malah bersenang ria, atau malah membiarkan sabahatnya tanpa pertolongan apapun, sahabat itu adalah orang yang dibutuhkan dalam suka maupun duka. Itulah inti persahabatan yang sebenarnya dalam hidup ini.

 Asrama Mahasiswa,  9 Januari 2013