Oleh: Aniyatus Sholihah

“Hamba Allah” juga menjadi sasaran pelaku kejahatan keuangan illegal. Pernah mendengar tentang Money Loundering? Ya, pencucian uang. Ini adalah tindak kejahatan dimana si pelaku mencoba menghilangkan jejak-jejak uang yang di dapatkannya secara illegal agar terlihat legal dimata hukum.

Sesuai dengan UU No.25 Tahun 2003 menjelaskan tentang pencucian uang, “Pencucian Uang adalah perbuatan menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbang-kan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan lainnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk menyembunyikan, atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan sehingga seolah-olah menjadi Harta Kekayaan yang sah”.

Sebagai conotoh, money loundering banyak diaplikasikan pada kasus-kasus mafia-mafia keuangan tingkat kakap—atau mungkin paus (semakin banyak uang, semakin gemuk ikannya!) yang mempunyai link perbankan diseluruh dunia. Hal ini sangat memudahkan kegiatan mereka “memutihkan” uang gelap yang mereka dapatkan.banyak cara yang mereka gunakan untuk melakukan kegiatan ini. Antara lain, membeli aset perusahaan yang dijadikan sebagai modal saham, melakukan investasi pada perusahaan besar, de el el.

Cara yang paling sering dilakukan adalah menyimpan uang itu di bank, kemudian melakukan transaksi tranfer pada rekening lain di bank yang berbeda (biasanya lintas negara) dengan nama tujuan berbeda dengan si pelaku transfer. Alih-alih nama samaran si pelaku penggelapan uang. Hal ini sudah dianggap legal dimata hukum.

Lantas apa hubungannya dengan “Hamba Allah”? Beberapa minggu yang lalu pernah di posting di salah satu situs berita online yang mengatakan bahwa Hamba Allah bisa menjadi salah satu penggelap uang dalam transaksi keuangan. Proses transfer uang yang mudah dan sangat menguntungkan bagi si pelaku ini, ternyata membawa nama Hamba Allah—yang menurut saya merugikan—sebagai salah satu pelaku tindak kejahatan. Tidak jarang ditemukan nama Hamba Allah melakukan transaksi tranfer uang. Pun dalam jumlah yang banyak. Hal ini, oleh penyidik KPK dianggap sebagai salah satu modus si pelaku penggelapan uang untuk memutihkan uang mereka dan ini harus ditelusuri. Setiap Hamba Allah yang melakukan transaksi keuangan perlu di data secara rinci.