Oleh: Habiburrahman

Lagi-lagi rujak. Entah berapa puluh bahkan ratus bungkus rujak yang sudah aku nikmati seumur hidupku. Walau sudah jelas makanan itu menjadi sesuatu yang biasa di Madura, tapi bagiku rujak tetap istimewa. Kacangnya, sedapnya, mentimun dan lontongnya, atau sayur dan kripiknya. Lebih-lebih cingurnya. Dimanapun tempat di Madura ini, rujak tetap menjadi idamanku. Menjadi alternatif mutlak saat penawaran kuliner beraneka macam di tempat-tempat di madura. Khususnya desa. Ya, rujak itu istimewa.

Bahkan tak hanya sedapnya yang bisa membuatku tertarik. Rujak memberiku banyak pelajaran dari para penjual rujak yang pada umumnya perempuan. Karena rujak madura memang tidak dijual menggunakan gerobak yang menampilkan berbagai macam buah dengan petis manis dari jawa. Tidak. Rujakku dijajakan dari dalam warung-warung ruja yang sederhana. Bahan-bahannya dihampar di atas meja kayu dengan komposisi sebuah cobek besar di tengahnya dan dikelilingi bahan rujak lainnya. Penjualnya dari kalangan ibu-ibu bahkan nenek-nenek yang bagiku lebih pantas untuk istirahat saja di rumah atau menjaga cucunya. Bukan malah harus mengangkut barang dagangan dari rumah menuju warungnya. Aku saja merasa terlalu berat memapahnya di atas kepala. Ditambah lagi harus bangun sepagi mungkin atau pulang larut malam. Setidaknya mereka harus punya tenaga lebih untuk mengulek bumbu kacang dan petis beberapa kali sehari. Melelahkan? Entahlah.

Rujak tidak hanya punya cerita tentang rasa sedap di antara bumbu-bumbunya. Ia juga mengenalkanku pada bagaimana mereka dijual dengan penjual yang berbeda. Mereka mengajarkanku berbagai karakter dan nasib penjualnya. Dimana rujak hadir dengan rasa sedapnya, merupakan gambaran sukses si penjual rujak. Tapi bila rasanya mulai hambar, pertanda bila si penjual mulai lelah dengan dagangannya atau memang seharusnya ia tidak menjual rujak. Bila itu terus berlanjut, tak bisa disangkal dagangannya hanya akan dilewati begitu saja oleh pembeli karena mereka akan membeli rujak pada penjual disebelahnya. Ironis.

Rujak juga bisa mengajarkan kedisiplinan dan kekuatan. Membuat sebungkus rujak tak seenteng membawa apalagi memakannya. Seorang nenek harus kuat memapah segala dagangannya itu ke warung tempat biasa ia menunggu pembelinya. Sebungkus rujak tak cukup diolah dengan dua atau tiga bahan. Tapi lebih banyak lagi. Ia tak sekedar bumbu kacang dan petis yang dicampur tahu. Tapi wajib diirisi mentimun dengan beberapa potong lontong dan sayur. Nenek penjual rujak juga tak mau membuat pelanggannya haus atau mendesah karena pedasnya cabe. Jadi dia juga harus membawakan air hangat. Bahkan ia harus punya tenaga cadangan untuk mengulek kacang yang tak lunak dan petis yang cukup liat hingga keduanya menyatu. Segalanya itu tak dapat aku perkirakan bagaimana menyiapkannya jiak si nenek sudah harus buka warung pagi-pagi. Bekerja di dapur setelah atau bahkan sebelum subuh datang.

Dan kalian tahu berapa harga rujak yang harus kita bayar! Tiga ribu rupiah. Segala tenaga dan disiplin perempuan-perempuan itu cukup kita bayar ‘sebesar’ itu. Seakan bagi mereka sekedar dapat mengepulkan asap kompor di dapur mereka. Perempuan-perempuan itu, nenek-nenek itu, bahkan kulihat jauh lebih tangguh dariku. Menerima apa adanya berapapun hasil berjualan rujaknya setengah hari. Pun ketika penjual rujak lainnya berdagang disebelahnya, cukuplah yakin bila rezeki itu telah ada referensinya masing-masing. Hingga tak perlu khawatir tenaganya hari ini akan sia-sia karena rujak penjual sebelahnya lebih ramai.

Perempuan-perempuan yang bagiku memang lebih cocok mengolah bumbu rujak karena dari bahan yang sama tapi bisa menghasilkan kesan rasa yang berbeda. Tidak seperti koki-koki restoran mewah yang kebanyakan laki-laki karena mereka hanya paham mengolah masakan secara teoritis dengan sedikit sentuhan tangan. Bumbu rujak dengan bahan yang sama menantang kelihaian tangan pengolahnya untuk menjadikannya cita rasa terbaik. Olahan tangan perempuan-perempuan tangguh yang disiplin. Tangan yang mungkin tidak dimiliki oleh makhluk bernama laki-laki.