Aku bukanlah Kartini

Aku bukanlah Kartini

Yang tajinya hanya sebatas terkaan

Jika dipotret, pasti menangis hasilnya

Jika tiada tulisan, mana mungkin jadi harum

Putri, lama sudah dia mengaromakan bumi pertiwi

Semerbak wangi ketenangan yang meraja pengetahuan

Tiada lagi orang yang tiada peroleh pendidikan

Harus peroleh pendidikan

Juga bagi perempuan

Kaum pingitan

Walau belum ‘kan dipinang

Bagi kaum itu;

Luar rumah adalah haram untuk melangkah

Luar rumah adalah taman larangan

Luar rumah adalah mimpi yang tiada boleh mewujud

Pergi ke luar rumah sama saja cari maut

Karena setiba dari luar rumah tak ‘kan lagi leluasa melihat mentari

Dari mata sendiri.

Putri, sekarang sudah tiada pingitan

Pagi-malam-pagi

Leluasa mau lakukan semaunya

Batas jadi berkarat

Merapuh bersama waktu menua

Aku dan kartini berbeda

Satu kaum dua zaman

Zamanku,

Zaman kebebasan;

Zamanku,

Zaman kesetaraan;

Zamanku,

Zaman keadilan;

Zamanku,

Zaman ke-alpa-an;

Zamanku,

Zaman lupa kewajaran.

Aku dan Kartini sangat berbeda

Aku mengenang, dia dikenang

Aku dan kartini memang berbeda
 Madura, 14 April 2012

Kami bersuara: surga tiba

Berjuang dari bahasa tak bersuara

Kepingan yang meretak senja pada kaki gunung keresahaan

Kami bersuara:

Sendu mimik rupa senyum menggambar rasa takut. Gagal dalam usaha. Dari bilik kekang rupa kelaki-lakian kekuasaan. Engkau melukis panorama berwujud fajar dunia. Tanda segala kemalangan ‘kan sirna mengawalkan diri. Dari bilik berpapan kayu beraroma angsa putih. Engkau terbang bersinar merendah. Enggan jauh merantaukan tubuh mewangi cempaka. Jepara. Masih menyinari Indonesia dari gelap gemerlap kesetaraan.

Sembah hormat dari kami yang melupa sejenak sinar pancaran dari Sang Ibu. Turut sungkan tanah pembaringan kaum perempuan. Malu-malu sembunyi menunduk sendu. Di sampingnya, nelangsa berduka. Lirih ucapnya mengiris sepi tumpukan nisan. “Engkau dan aku satu hati”.

Saat itu pula langit berkabut merah. Setiap mata yang menerawang langit berubah merah. Kulit, lidah, rambut, bahkan organ dalam bermandikan merah. Sedetik, sepi jadi sunyi lalu waktu mengabur. Perempuan berganti kelamin. Laki-laki memakai rok. Dunia kembali normal. Berjalan terbalik.

Angin yang sering berlarian melihatnya. Beku tiba-tiba. Ah, rupanya dia tidak kuat melihat fenomena ini. Mati. Angin mati! Angin mati! Angin mati! Semesta langit kelabakan. Siapa mau jadi pengganti! Saling tuding. Saling dituding. Saling menuding. “Tak perlu cari pengganti”. Suara gelegarnya menyatukan arah. “Biar aku urus ini”. Berlalu mengilat.

Temaram kembali. Kali ini dia meraja karena angin mati. Musuh yang meniadakan jadi pergi. Udara jadi tuba. Laki-laki yang peremuan dan perempuan yang laki-laki saling pandang. Mereka jadi cermin untuk masing-masing. Matung. Mematung. Dipatung. Semenit, sunyi jadi senda. Senda jadi ratap. Ratap jadi tangis. Lalu dari sana angin bangkit menertawakan semua. “Aku sudah mengurus ini”.

Temaram sirna. Dunia jadi normal semestinya. Laki-laki dan perempuan bergandengan menuju sebuah persinggahan. Surga.

Madura, 13 April 2012

Sang Ibu

Salam untuk yang terbaring

Dalam tenang

Syair-syair lirih menjelma teriakan

Tiada wujud namun gemanya melukis masa

Engkau sudah terkenang

Semisal kami yang meraung senja

Perempuan dan laki-laki sama

Di mata pendidikan

Mata pengetahuan

Di mata hukum

Mata kesetaraan

Engkau adalah ibu

Untuk kami, perempuan yang terkekang

Kekang ketidaktahuan masa depan

Ini setangkai mawar kami teduhkan

Bagi engkau Sang Ibu

Kartini

Madura, 12 April 2012

 

*Angin Lembut adalah nama pena dari Yogi Gunawan