Oleh: Aniyatus Sholihah

Emansipasi—selalu menjadi perbincangan hangat dikalangan wanita ataupun laki-laki. Emansipasi diartikan sebagai bentuk penghargaan diri  bagi wanita sebagai makhluk yang berhak menyamakan derajat dan kedudukan dengan kaum lelaki. Sehingga dimanapun kaum hawa merasa di “kesampingkan”, mereka akan menyeru tentang emansipasi.

Feminisme—bentuk perilaku wanita yang ingin disamakan dengan lelaki. Tidak jauh berbeda dengan emansipasi, feminisme hanya lebih cenderung pada bentuk ekspresi yang mereka  visualisasikan dalam diri. Misalnya, wanita menggunakan celana karena dinilai laki-laki merasa bebas dalam menggunakan celana, sehingga si wanitapun menggunakan celana juga. Ada satu contoh yang lebih ekstrim tentang feminisme, telah banyak terjadi di negara barat—khususnya Amerika—jika mereka melakukan demo ataupun sebuah pemogokan kerja, yang mereka (para wanita) lakukan adalah dengan (maaf) bertelanjang dimuka umum. Menurut mereka, ini merupakan bentuk feminisme.

Bagaimanapun juga, emansipasi  atau feminisme, dua-duanya merupakan hal yang ingin mengubah (bahkan merusak) cara pandang, pola pikir, dan paradigma wanita saat ini. Telah sangat jelas dijelaskan dalam Al Qur’an surat An-Nisa: 34

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”.

Bukankah telah jelas dituliskan pada ayat diatas bahwa lelaki memang diciptakan lebih dari wanita. Lebih mempunyai kemampuan untuk memimpin, lebih mempunyai keahlian untuk mencari nafkah,  sehingga bukan hal yang patut diperdebatkan jika lebih banyak lelaki yang menduduki jabatan yang tinggi daripada perempuan.

Mu’ad bin Fadholah menceritakan kepada kami, Hisyammenceritakan kepada kami, dari Yahya, dari ‘Ikrimata, daro Ibnu ‘Abbas berkata: Nabi saw. melaknat  kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian dan beliau berkata: keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si Fulan, dan Umar juga mengeluarkan si Fulan”, diriwayatkan oleh Bukhari.

Hadist diatas juga menjelaskan tentang larangan keras terhadap perilaku feminisme. Manusia hidup haruslah dalam garis kodrat yang telah ditentukan. Sama halnya dengan pejalan kaki yang menggunakan jalan raya di luar batas trotoar ataupun jalan khusus pejalan kaki (jembatan layang), maka apakah yang akan terjadi jika pejalan kaki tersebut melakukannya?

Emansipasi atau feminisme, keduanya merupakan jalan yang sama sekali tidak mampu menjaga kewibawaan seorang wanita, tidak mampu melestarikan ciri khas seorang wanita dan sedikit banyak akan melunturkn nilai-nilai “kewanitaan” yang ditanamkan sebelumnya oleh sosok Kartini.

Yaa begitulah, sebagai Kartini muda yang mewarisi dunia ini, yang ditangan kitalah masa depan bangsa, menjadi “pendekar bangsa” berikutnya, harus mampu memegang nama baik wanita, mampu mencetak generasi “pendekar bangsa” berikutnya,  yang tidak menyalahi kodrat sebagai perempuan dan mampu menjadi perempuan dengan banyak prestasi dan berbagai keterampilan. Mari kita tunjukkan kemampuan kita (wahai wanita!). (An’Z)