FLP Cabang Bangkalan
FLP Cabang Bangkalan

Oleh Abu Ayyash**

Forum Lingkar Pena (FLP) secara sederhana mungkin bisa diartikan sebagai rumah para penulis, entah itu penulis tingkat mula ataupun andal, entah yang masih dalam tahap niat dan belajar maupun  yang bukunya telah terbit berjajar. Begitu berwarna, tetapi tetap bersahaja.

Mengelola FLP cabang yang baru agaknya mudah-mudah susah. Banyak hal menyenangkan maupun menguntungkan, senang karena menjadi bagian pejuang literasi, berbagi dengan banyak orang dengan agenda-agenda seminar dan pelatihan yang dilaksanakan, meski lelah, lesu, dan capek minimal untung karena mendapatkan pengalaman manajerial, kepemimpinan, organisasi, dan pengalaman menulis walau hanya sebaris. Tetapi tidak sedikit pula hal yang membuat risih, miris dan sakit hati, ketika bisik-bisik tetangga  mulai terdengar, “Alah, paling kalau gak buat cerpen ya puisi.” Atau celotehan ironi selalu menisbahkan bahwa FLP adalah kumpulan orang melankolis, yang cengeng, manja, dan lemah. Tidak menganggap orang yang terlibat dalam FLP itu mampu sebagaimana tema yang sering dipakai dalam beberapa agenda acaranya ‘Mengubah Dunia dengan Pena’, “Bagaimana bisa mengubah dunia jika kerjaannya hanya berdongeng dan berpuisi ria?”

Itulah realitasnya, FLP dianggap tidak mampu menjawab tantangan zaman karena hanya berkutat dalam dunia fiksi. Karena mungkin sisi fiksi itulah yang memang lebih dominan tampak dalam setiap pencitraan FLP. Bolehlah kita mengacuhkan, karena memang komentator dan supporter itu lebih nyaring bunyinya daripada pemain yang tengah terengah berupaya melesakkan gol di dalam pertandingan. Tetapi tetap harus ada muhasabah, evaluasi, kenapa FLP selalu lebih dikenal dengan fiksi, padahal FLP juga melingkupi non fiksi, entah itu berupa essay, opini, karya ilmiah, ataupun jurnalistik.

Saya lebih tertarik untuk memfokuskan pada bahasan jurnalistik, karena saya bekerja di dapur media, saya paham benar baik buruknya, sehingga berani mengulasnya. Kalau kita perhatikan dengan seksama, kita tengah dihadapkan pada era teknologi informasi, di mana dengan padatnya informasi (berita) dengan dukungan teknologi yang mumpuni bisa diakses kapan pun dan di manapun, traffic-nya padat tetapi tidak pernah lelet ataupun macet. Dalam hitungan detik, pengulangan atau pembaruan informasi di tayangkan dalam berbagai media, cetak dan elektronik. Disimak hampir oleh setiap orang di dunia, di setiap lapisan masyarakat, dari yang miskin hingga yang kaya. Hampir rata, masyarakat miskin di pelosok negeri mampu menyimak berita melalui televisi rongsok mereka bila tidak mampu membeli media cetak atau mengakses internet. Terlebih yang kaya, mampu menyimak berita pada semua media yang mereka punya dan mampu membelinya.

Bukan menjadi rahasia kalau kini industri media atau jurnalistik bisa dibeli dengan harga dan porsi tertentu, ada iklan atau advertorial. Terlebih kode etik jurnalistik yang mulai kehilangan orientasinya, mampu mengatur produk jurnalistik (berita) -itupun tidak selalu-, tetapi tidak mampu untuk mengatur subjek(jurnalis)-nya. Karena pada kenyataannya banyak sekali jurnalis bermasalah dalam hal moral. Dan yang lebih berbahaya adalah jika industri jurnalistik ini mulai menjadi alat pemerintahan, bukan sebagai alat pengontrol kebijakan, tetapi dalam rangka untuk menutup kebusukan dan memutar balik fakta.

Dalam pengamatan selama ini, belum ada organisasi yang mampu menjadi solusi, tetapi masih ada secercah harapan pada FLP ini, karena sementara hanya di FLP yang mempunyai keseimbangan antara personal dan karya yang bersih. Sedikit tersirat dalam impian saya adalah alangkah damainya negeri ini, seandainya posisi wartawan, reporter, redaktur atau produser pada media cetak atau elektronik diisi oleh kader-kader FLP. Tidak ada jurnalis yang berlalu lalang di tempat-tempat hiburan malam; tidak ada jurnalis yang menjadi calo berita, menulis berita mengkritisi oknum tertentu tetapi untuk pancingan agar mendapatkan insentif tutup mulut (pemberhentian pemberitaan); dan banyak hal yang tidak bisa disampaikan dalam tulisan ini.

Inilah yang akan menjadi tantangan, apakah FLP mampu untuk menjadi Air Conditioning (AC), pengatur suhu kepenulisan Indonesia juga dunia. Bukan hanya dalam karya sastra fiksi tetapi juga dalam bidang jurnalistik, entah bersaing dengan membuat produk jurnalistik (cetak atau elektronik) khas FLP, atau membuat klub jurnalis FLP sebagai ladang penyiapan jurnalis-jurnalis andal yang ke depan mampu menempati pos-pos profesi strategis, penentu kebijakan dalam industri jurnalistik yang sudah ada.

Wallahua’lam.

———————————————————–

Bangkalan, 29 Agustus 2013

Disempurnakan pada tanggal 4 September 2013

*Catatan untuk Ketua Umum FLP 2013-2017

**Ketua FLP Cabang Bangkalan