GambarSerial Menulis – Yanuari Dwi P*

—————————————

Kumpulan tulisan ini hanya sebuah bentuk pesimisme yang lahir di tengah bencana kepenulisan yang melanda penghuni zamrud khatulistiwa. Tetapi juga secercah optimisme untuk kembali bangkit menebar nyala cahaya yang kehilangan pijarnya. Karena bencana bukan untuk dicaci dan disesali, tetapi untuk bahan menyigi jejak silam, guna merentas langkah harapan.

Penulis bukanlah orang yang menjejali kertas polosnya dengan bualan kata yang mengombal, atau kalimat bagai jalanan di pegunungan Al-Hada di Thaif, ke kanan, kiri, menanjak, menukik, dan memutar yang membuat mual. Kemudian disaat senja berbalut renta, dengan tanggungan rongga-rongga perut yang keroncongan harus terdiam mengangkat pena menunggu santunan tangan-tangan kuasa. Tetapi penulis adalah orang yang mampu memahami esensi menulis bahwa yang utama dalam menulis adalah menyampai pesan yang teberkas dalam putik-putik ingatan untuk mencerahkan, memberi teguran, dan menyadarkan tanpa pamrih sebagai bayangan, hingga namanya terkenang oleh berlapis generasi dengan cemerlang.

Namanya tidak harus tergoreskan dalam kitab-kitab yang terpampang di rak-rak pertokoan atau diskenariokan dalam bingkai layar lebar dengan bintang film yang menawan. Tidak pula tampak pada jajaran peraih sayembara-sayembara dari kertas-kertas yang melekat pada tembok jalanan, atau pada dinding-dinding maya, hanya untuk mendapatkan bingkisan yang menarik pada urutan satu, dua, atau tiga. Mereka hanya manusia sederhana, tapi mimpi mereka tidak sederhana, melambung tinggi bahkan sampai melintasi berlapis langit dengan kerlipan gemintang. Mimpi besar mereka untuk menulis adalah mimpi untuk tidak hanya sekadar berbagi informasi tetapi lebih dari itu, memotivasi, dan mengajak selainnya untuk menjadi pribadi lebih baik menuju Tuhannya.

Manusia-manusia sederhana dengan rangkaian kata sederhana itulah yang kita harapkan mampu menumbuhkan kembali bulir-bulir padi berupa ide-ide brilian untuk mengarah opini di tengah semrawut media masa kini, merangkai percik api dalam lembar-lembar tipis karya untuk melawan kegelapan, kejahilan; dan menjadi tangan-tangan kecil berhias pena untuk menggubah peradaban.

Penulis seperti itulah yang kita harapkan. Maka, jadilah penulis yang sarat nilai dan mampu memberi nilai.

———————

*Ketua Forum Lingkar Pena Bangkalan 2012-2013. Catatan ini ditulis pada 13 Januari 2013, dan direvisi 7 Januari 2014.