Nilai seorang penulisSerial Menulis Yanuari Dwi P*

————————————

Nilai adalah harga, sebuah nominal yang terpampang pada diri untuk dibayar orang lain. Nilai juga berarti sifat-sifat atau hal-hal yang penting bagi kemanusiaan. Dan jika diartikan dalam bingkai etika adalah sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.

Menjadi seorang penulis penting kiranya untuk membangun nilai diri sebelum terjun secara langsung dalam bingkai kontribusi dan kompetisi. Seperti Muhammad SAW, yang terlebih dahulu membangun basis nilai kejujuran, nilai ke-hanif-an – kecenderungan akan kebaikan dan berpaling dari kebatilan, nilai kepemimpinan, dan nilai-nilai kehidupan lain sebelum dia menerima risalah agung, risalah kenabian. Atau seperti Muhammad bin Idris asy-Syafi`i yang tenar dikenal Imam Syafi’i, yang mengasah nilai dirinya dengan mencintai ilmu, berguru tak kenal waktu, menghafal kitab gurunya Imam Malik Al-Muwwaththa’ hanya dengan sembilan malam, juga membaca dan menghafal ratusan kitab sebelum akhirnya dia mendapatkan izin untuk mengeluarkan fatwa pada umur 15 tahun, menulis Qaul Qadim di Baghdad, menulis Qaul Jadid di Mesir, dan menulis puluhan kitab lainnya yang menjadi rujukan berbagai ulama dan umat muslim di seluruh penjuru dunia di masa sekarang.

Nilai seorang penulis adalah hal-hal yang memenuhi otaknya dan tercermin dalam pribadinya. Otak mengkonsumsi apapun yang tampak dan terbaca oleh mata, terdengar oleh telinga, terasa oleh kulit, terkecap oleh lidah dan tercium oleh hidung. Semua yang merangsang panca indra itulah yang akan menjadi sumber nilai yang akan dicerna oleh otak. Tetapi hanya sumber nilai yang secara intens diasup oleh penulis itulah yang akan menancap pada rongga-rongga ingatan otak, dan hanya ilmu berupa ingatan yang secara rutin teramalkan secara istiqomah-lah yang kemudian akan mampu menjadi kebiasaan dan tercermin dalam kepribadian. Sebagaimana Al-Ghazali yang pada masa belajarnya banyak bergelut dengan keilmuan pada bidang ushuluddin, fiqih dan filsafat, maka nilai yang tercermin dalam setiap karyanya pun menjadi Ihya Ulumuddin pada bidang tasawuf, Maqasid al-Falasifah pada filsafat, dan Al-Mushtasfa min ‘ilm al-Usul pada bidang fiqih. Berbeda dengan Ibnu Khaldun yang lebih gemar mendalami sirah, mengkaji kehidupan sosial dan ekonomi, maka nilai karyanya pun menjadi Muqaddimah yang dengan fenomenalnya menjadikan ia terkenal dengan pendiri historiografi, sosiologi, dan ekonomi.

Maka bangun nilai menjadi seorang menulis dengan banyak melihat, banyak mendengar, banyak merasa, banyak mengecap dan banyak mencium, dan itu semua bisa diartikan dengan membaca, sebagaimana Firman Allah yang pertama kali dibacakan oleh Jibril pada Rasulullah Muhammad SAW adalah iqra’, bacalah!

*) Ketua FLP bangkalan