KoranOleh: Yanuari Dwi Prianto**

——————————-

Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith berhenti di dekat Muraisi’, sumber air di wilayah Bani Musthaliq. Ingatannya melayang jauh di masa lalu, terkait perselisihan antara dia dan Bani Musthaliq di masa jahiliyah. Dalam dadanya bercokol dendam. Seandainya bukan Rasulullah yang memerintahkannya untuk mengunjungi Bani Musthaliq, maka tak sejengkal pun dia akan menapakkan kakinya di wilayah Bani Musthaliq. Mendengar bahwa Bani Musthaliq hendak menjamunya karena bentuk takzim atas perintah Rasulullah, Al Walid justru bertolak ke arah Madinah, dengan amarah dalam bisikan syaitan, ia akan mengabarkan kepada Rasulullah bahwa Bani Musthaliq akan membunuh beliau.

“Yaa Rasulullah, Bani Musthaliq menolak untuk membayar zakat dan mereka hendak menjumpaimu untuk membunuhmu.” Ujar Al Walid dengan tergesa. Mendengar penuturan Al Walid, Rasulullah pun murka dan hendak memerangi mereka.

Mendengar kembalinya Al Walid, Bani Musthaliq mengirim utusan untuk bersegera menjumpai Rasulullah dan berkata “Wahai Rasulullah saw kami sudah mendengar tentang utusanmu. Maka kami keluar untuk menyambutnya dan memuliakannya dan kami akan membayar kepadanya apa yang sudah kami terima sebagai hak Allah Azza wa Jalla. Lalu ternyata dia kembali. Kami khawatir kalau-kalau yang membuatnya kembali adalah perintahmu karena engkau murka kepada kami. Sungguh kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya dan murka Rasul-Nya.”

Mendengar pemaparan utusan dari Bani Musthaliq Rasulullah tidak serta merta mempercayai mereka, beliau mengutus Khalid bin Walid ra untuk secara diam-diam pergi ke perkampungan mereka dengan membawa pasukan. Rasulullah berpesan, ”Jika engkau melihat adanya bukti keimanan mereka, maka ambillah zakat dari harta mereka. Jika engkau tidak melihat, maka gunakan untuk mereka apa yang digunakan terhadap orang-orang kafir.” Khalid bin Walid pun bergegas menuju perkampungan Bani Musthaliq.

Sesampai di perkampungan Bani Musthaliq, Khalid mendengar adzan Maghrib dan Isya. Maka Khalid mengambil zakat dari mereka. Khalid hanya melihat kebaikan dan ketaatan mereka. Lalu Khalid pulang ke Madinah menjumpai Rasulullah saw dan mengabarkan apa yang dia lihat. Pada saat itu juga turunlah firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasik (yakni Al Walid bin Uqbah) datang kepadamu membawa suat berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suat kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.

Begitu tutur Al-Baghawi dalam kitab tafsirnya Ma’alimut Tanzil, terkait Surat Al Hujuraat Ayat 6.

Dalam kisah tersebut, Allah SWT menggelari Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith sebagai orang fasik lantaran telah membuat laporan palsu, kabar bohong, yang tidak sesuai dengan fakta tentang Bani Musthaliq yang membuat Rasulullah saw murka dan hendak memeranginya. Cap fasik itu tepat untuknya karena telah melakukan perbuatan dosa besar, yakni bohong, apalagi kabar bohongnya itu bisa membuat fitnah yang besar yakni peperangan. Dalam beberapa ayat Al Quran orang-orang kafir disebut sebagai orang fasik. Tentu ini juga merujuk kepada kebiasaan mereka membuat berita bohong atau berita bias yang mampu membangun opini publik untuk mendiskreditkan Islam.

Di zaman teknologi informasi ini pastinya kita kenal dengan sebuah adagium, “Siapa menguasai media, maka ia menggenggam dunia.” Itu jargon lama yang beredar bebas di bidang media, baik media cetak maupun media elektronik. Itu berarti bahwa siapa yang menguasai media, otomatis mereka akan bisa mengendalikan isu, pemberitaan, dan mengendalikan (membolak-balik) opini publik. Secara tegas fungsi media ini pun dimuat dalam sebuah jurnal Yahudi The International Jew: The World Foremost Problem volume pertama yang dipublikasikan oleh Henry Ford, terkutip di dalamnya, “Kita tidak sekadar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah; kita juga melakukan kontrol terhadap alam pikiran dan jiwa anak-anak mereka.” Hal ini dipertegas oleh rahib Yahudi Rashoron di salah satu khutbahnya pada tahun 1869 di Braga, Portugal. Ia menuturkan betapa pentingnya media massa, “jika emas merupakan kekuatan pertama kita untuk mendominasi dunia, maka dunia jurnalistik merupakan kekuatan kedua bagi kita.”

Oleh karena itu, pada masa perang media seperti saat ini, mengaca dari kisah diawal, sikap terbaik bagi setiap muslim hendaknya benar-benar memperhatikan himbauan dari Allah SWT sebagaimana yang tertuang dalam Surat Al Hujurat Ayat 6

Al Hujurat ayat 6

 

 

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang seorang fasik (yakni Al Walid bin Uqbah) datang kepadamu membawa suat berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suat kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.

Pelajari dengan teliti setiap informasi yang beredar di setiap media, jangan telan mentah-mentah. Entah itu terkait pemberitaan pemilu, kasus korupsi, kriminalitas, pembunuhan, dan apapun itu yang beredar di dunia media. Jadilah pembaca yang cerdas atas setiap informasi yang anda gagas.

Semoga Allah menjauhkan kita dari gangguan orang-orang fasik.

Wallahua’lam bishshowab.

———————————-

*Terbit dalam Buletin Jumat MINHAJ Universitas Trunojoyo Madura edisi 7, 28 Maret 2014

**Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Bangkalan