Sekotak Mimpi yang TerkunciOleh: Rini Hardiyanti

Pendar mentari membiaskan banyak rasa. Tak ada hal yang lebih indah dari sekedar menjamu pagi melalui teriknya. Tak ada hal yang lebih indah dari sekedar membius luka kemarin dan menggantinya dengan tawa. Keluarga Wisnu hari ini tengah akan berbahagia atau mungkin biasa saja. Pasalnya sangat sederhana, ibunya akan melahirkan anak lagi. Genap nanti beranak enam. Wisnu menepikan diri, berada di kamarnya yang sepetak. Berpikir berulang kali, mencoba mencari jawaban tentang masa depannya. Tengadah ke atas, mencari Tuhan di langit-langit kamar. Tentu saja Tuhan akan mendengar walau hanya hatinya yang mampu menyampaikan. Dia mulai bergumam sendiri, rasanya dia masih anak ingusan kemarin pagi, masih kelas 3 SMP. Jalan pikirannya juga belum bisa menyimpulkan mimpi setalah lulus SMA nanti. Tunggu, dia juga belum tentu melanjutkan sekolah setinggi itu. Bisa saja dia mengikuti jejak bapaknya yang kuli bangunan, atau kakak sulungnya yang loper koran, atau kakak yang nomer dua dan tiga yang hanya diam pengangguran. Namun harapnya tidak demikian. Bapak dan ibunya bilang, jika adiknya lahir nanti Wisnu harus membantu mereka. Menyambung dana, mencari uang dan mulai bekerja. Melanjutkan sekolah sudah tidak akan bisa dia cicipi lagi. Dia tidak berani menyalahkan calon adiknya yang dalam kandungan, itu sama saja menyalahkan takdir Tuhan, atau menyalahkan ayahnya yang menumbuhkan benih di rahim ibunya tiap malam? Itu terlalu kekanak-kanakan, bukan?

Wisnu terdiam, mencabuti satu per satu ragu dalam benaknya. Mencoba menerima suratan yang menggariskan tangannya. Hidup itu drama, bermain gerak kata dan raga, dan kamu tidak bisa memilih temanya suka ataukah duka. Sebab kamu bukanlah sutradara, hanya pemain saja—pelakon drama yang harus bersedia melapangkan dada walau ending-nya serumit apa, walau jalan ceritanya berakhir kemana. Wisnu mengingat lagi, kalimat yang bapaknya pernah katakan. Wisnu mengerti, drama memang serupa misteri. Hidupnya adalah drama, keluarganya adalah sekelumit misteri. Kalau saja ibunya meng-iyakan saran kakak sulungnya untuk ber-KB, mungkin saja Wisnu masih punya harapan membangun mimpi walau hanya seujung jari. Namun ibunya menolak. Tak mau, begitu katanya. “ KB hanya memperumit kehidupan, terlalu ribet untuk orang kecil seperti kita, ibu juga tidak sedang sakit, jadi untuk apa minum pil? Toh, kalau memang takdir punya anak enam, sepuluh, atau lebih, terima saja. Gusti Allah yang ngatur, menolak rejeki kan tidak baik.”

Seperti itu, tidak sesederhana yang kakak sulungnya inginkan. Ibunya memenuhi percakapan mereka. Tak ada celah untuk Wisnu mengemukakan semuanya. Bukan semuanya, tapi sebagian, sisanya dia kubur sendiri saja. Wisnu juga tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang disarankan kakak sulungnya. Dia tidak seutuhnya kenal apa itu KB, bagaimana rupa dan wujudnya. Mungkin seperti jamu masuk angin yang sering bapaknya minum, atau pil diare dan sakit kepala. Entahlah, bisa saja saleb atau obat merah untuk luka. Wisnu tak pernah tahu dan tak mau tahu. Baginya, tak ada yang bisa menolak dan menghambat apapun bila tangan Tuhan sudah bekerja. Begitu dia berpikir, menganggukkan kepalanya pada apa yang di ucapkan ibunya. Gusti Allah yang ngatur, menolak rejeki kan tidak baik.

Wisnu masih tengadah ke atas, berdo’a. Apapun yang akan hatinya rapalkan. Semuanya. Tentang kelahiran calon adiknya hari ini, tentang sekotak mimpinya yang masih terkunci, tentang kakak-adik dan bapaknya, tentang bagaimana dia akan melakoni drama kehidupannya nanti, masa depan yang dia sebut- sebut sebagai takdir Tuhan. Dia meng-amini satu-satu, semuanya lengkap sudah berbungkus kata amin. Tinggal menunggu waktu, ah waktu baginya adalah pemburu kehidupan, ia akan tetap berlari walau jarum tajamnya ribuan kali melewati jalan yang sama. Melewati angka yang sama, detik dan menit yang berbunyi senada. Wisnu diam sejenak, lamunannya kali ini tak dapat belanjut lagi. Setelah suara bapaknya dari luar menembus gendang telinganya, keras sekali seperti jeritan yang tak terkendali. Wisnu membuka pintu, mencari asal suara yang di tuju. Kamar ibunya. Matanya menangkap semuanya, ibunya tertidur pulas disana. Bapaknya menangis sesekali memanggil nama ibunya. Ini seperti adegan film Romeo menangisi kepergian Juliet, nyaris sama. Wisnu bersimpuh, kakinya gemetar kaku. Tak ada yang mampu dia lukiskan rasa apa itu. Duka, sarasa tema yang benar-benar nyata. Seperti kata bapaknya, kamu tidak bisa memilih temanya suka ataukah duka. Sebab kamu bukanlah sutradara, hanya pemain saja—pelakon drama yang harus bersedia melapangkan dada walau ending-nya serumit apa, walau jalan ceritanya berakhir kemana. Wisnu menangis, tak peduli orang-orang beranggapan anak lelaki tak boleh nangis. Lalu disusul ketiga kakaknya, namun adiknya yang nomer lima masih duduk mematung kosong. Tak mengerti dengan apa yang dilakukan orang dewasa di depannya. Wisnu menyeka keringat, mengusap air matanya. Tangisan ini bukan perihal kecengengan anak lelaki atau reflek dari tangisan bapaknya. Bukan itu. Tangisan ini ialah kesedihan yang membatin hatinya. Kesedihan yang mengharuskannya seperti apa, rasa tak suka pada kehamilan ibunya bukan berarti harus mengharapkan kepergian ibunya. Ibu dan calon adiknya–entah Wisnu harus menyebutnya calon adik atau bukan, mereka berdua tak bernapas bersama. Entah memang karena skenario Tuhan yang menuliskannya demikian. Mereka berdua beristirahat bersama, dalam tempat yang sama bersama timbunan tanah dan teman sejenisnya disana. Bapaknya tak lagi menangis, itu tertangkap sebelum tubuh istrinya akan di mandikan. Sejatinya dia ikhlas, juga Wisnu dan keempat saudaranya. Bapaknya bilang bahwa hidup itu seperti kita meraut pensil, semakin panjang ujung pensil yang kita raut, maka semakin pendek pensil tersebut. Sederhananya adalah semakin banyak umur manusia, maka semakin kecil kesempatan untuk hidup. Wisnu hanya mengangguk. Dia mengingat kembali mimpinya, tentang sekotak mimpi yang terkunci. Apa setelah kepergian ibu dan adiknya, mimpi itu akan terbuka sendiri? Wisnu tak rela membayar mimpinya dengan kepergian ibu dan adiknya. Bagaimanapun juga ibunya ialah bagian pemain terpenting dari drama kehidupannya. Seperti manusia yang hanya mempunyai satu kaki, bukankah ia akan pincang? Seperti itu ketika drama kehidupan keluarganya harus tetap bermain meski tanpa seorang ibu lagi. Wisnu kembali menepikan diri, kamarnya kali ini bau menyengat kamboja dan melati. Sisa aroma ibunya juga tercium disana. Wisnu tengadah ke atas, wajah ibunya nampak terlukis di langit-langit kamar. Tangan wisnu tengadah juga ke atas, meminta pada Tuhan tempat terindah dan tepat untuk ibu dan adiknya yang dikandungan. Berdo’a pada Tuhan tentang nasib sekotak mimpinya, tentang drama kehidupannya nanti, esok hari, lima atau sepuluh tahun lagi. Wisnu menunduk di bawah sunyi, tangannya bersitatap dengan wajahnya lalu kata amin bersambut gayung dalam hatinya. Amin..

Data penulis : Rini Hardiyantini. Baginya, menulis adalah pekerjaan menyenangkan walau tanpa jabatan. Menulislah berkali-kali walau kertas tak muat lagi!

Iklan