pacaran gak produktifOleh: Rasyiqi
—————–
Menulis adalah perselingkuhan kata-kata di ranjang inspirasi, begitulah saya mengatakannya pada seorang teman kala itu. Ada sebuah permasalahan saya dalam hal perselingkuhan itu; ide. Ya, ide !! kiranya saya sama dengan anda dalam masalah ini. Setelah tahu apa yang akan ditulis, selanjutnya bagaimana itu ditulis tapi ini tidak primer. Yang primer adalah apa (ide) yang akan ditulis. Seringkali penulis mengalami kehilangan ide sebelum ia menulis atau bahkan setelah memulai menulis. Contohnya adalah saya memulai menulis sebuah esai selesai. Esai yang kedua baru sampai sepetiga halaman ide saya kocar-kacir. Saya berhenti beberapa saat untuk memperbaiki ide-ide lagi. Namun, alhasil saya mendapat ide baru yang tidak akan bisa nyambung dengan ide sebelumnya. Woro-woro saya tinggalkan project di awal saya memulai menyusun esai dengan ide yang baru. Yahh.. sambil lalu saya tambah pelan-pelan esai yang belum selesai itu kalau tiba-tiba ada ide hinggap. Saya tidak tahu kapan itu bisa selesai.

Saya sebenarnya ingin menuturkan sesuatu tentang salah satu cara menemukan ide yang saya nilai manjur setelah beberapa kali lolos uji coba untuk penulis pemula. Sebab ide itu harus di ciptakan. Banyak yang bilang bahwa pacaran merupakan cara terbaik dan tergembira mendapatkan ide untuk menulis. Otak merespon lebih tinggi dalam urusan percintaan. Produktivitas menulis menjadi manjur. Dalam usia muda seseorang sudah memulai untuk menulis yaitu sepuluh tahun.
Hal yang paling umum dialami oleh penulis sampai usia pra nikah adalah pacaran. Penulis biasanya termasuk orang yang pemilih dalam hal pacaran. Jarang sekali penulis yang produktif tidak melewati masa-masa indahnya cinta itu, dengan kisah cinta yang bermacam-macam. Rasa sakit, indah nan berbunga-bunga itulah inspirasi untuk menggoreskan kata-kata baik berupa puisi ataupun cerpen. Namun umumnya penulis itu memulai menulis pertama-kalinya adalah puisi. Puisi adalah tangga pertama belajar merangkai kata. Sebab penulis itu tidak akan melewatkan moment yang paling tidak penting dalam perjalanan hidupnya.

Lahir tanpa cinta. Ia merupakan sesuatu yang mudah dirasakan oleh siapapun, yang membedakan hanya daya kemauan berkreativitas. Fakhruddin Iraqi dan Ibnu Qayyim Al-jauziyah yang sepanjang hidupnya diliputi cintaNya menuangkan geloranya menjadi puisi yang fenomenal. Guru bahasa indonesia saya kelas VII dulu bercerita bahwa masa mudanya pernah jatuh cinta pada seorang santriwati di pondoknya. Cintanya dibatasi oleh tembok pesantren yang angkuh. Cinta pertamanya yang sedang mekar-mekarnya bungan harus kandas dalam ketidakpastian. Namun tiada yang tidak pasti bagi cinta. Beliau selalu mengurung diri dalam kesunyian di kamar, di mesjid di bukit atau dimana saja untuk meneriakkan gundahnya pada kertas yang telah disiapkannya. Kadang beliau malam hari pergi ke bukit membawa sebotol kopi, dan rokok serta lampu teplok. Semalam mampu mengasilkan puluhan puisi. Saya masih ingat sampai sekarang kata-kata beliau “asap rokokku pun akan jadi puisi” Demikianpun saya belajar menulis bersamaan dengan saya belajar jatuh cinta.

Nasib saya tidak jauh berbeda dengan guru saya. Seorang perempuan yang saya cintai pergi esok harinya sebelum sempat mengungkapkan perasaan itu padanya. Padahal malam harinya sudah saya susun puisi sedemikian susahnya untuk aku berikan padanya. Eh, tiba-tiba dia pergi mondok kepesantren. Padahal pula firasatku sama bahwa perasaannya sama denganku. Setelah itu aku menulis dengan produktif setiap hari saya mampu menulis 2 sampai 5 buah puisi juga cerpen dan saya juga menghasilkan roman gara-gara itu. Bukankah kejadian itu tidak menarik untuk ditulis?

Bukan !! bukan kejadian itu yang menarik tapi perasaan yang terlalu kuat membuat imajinasi saya selalu hamil bahkan saya tidak menuliskan sedikitpun dari kejadian itu. Saat itu saya seperti sudah mempunyai kekasih bayangan yang nyata. Ketika cinta kadaluarsa tulisan saya tidak. Saya menjadi tidak kekurangan karya untuk mengisi buku agenda tugas dari guru bahasa indonesia yang harus diisi dengan karya tulis itu minimal 15 lembar setiap setengah bulan sekali.

Cinta saya perlahan mulai luntur sebab habis tertulis dalam karya. Saya terbayang-bayang lagi pada sosok perempuan asal Banyuangi serta seorang santriwati sebuah pesantren. Ya, dua sekaligus aku sukai mereka. Namun hati lebih condong pada satu orang yang tidak lebih belajar dari cinta. Romantisme mengatakan bahwa puisi adalah cinta, tiada yang cantik yaitu perempuan asal banyuangi itu. Saya menjadi selalu bunting ide, akhirnya saya dapat menyelesaikan 15 episode puisi yang saya kumpulkan menjadi antologi. Sampai akhir hayat perasaan saya, tidak mengatakannya pada perempuan itu. Saya beranggapan bahwa ini indah untuk dirasakan serta mendapat kepuasan kerena saya sudah menuliskannya dalam karya. Saya menjadi laki-laki yang gugup untuk sebuah kepastian dari hubungan percintaan. Tidak ingin pacaran. Dalam kepala saya berseliweran jutaan pemahaman, pengandaian, beragam kisah cinta dan bait-bait indah tentang cinta.. akhirnya tidak jadi untuk menembak dia bukankah sudah banyak ku ungkapkan perasaanku lewat sajak-sajakku? Benar atau tidak perempuan itu pernah membaca sajak-sajakku. Jelasnya selama sekolah MTs saya tidak pernah berhasil mengungkapkan perasaan cinta pada wanita. Tapi ide-ide saya lebih banyak berisi tentang cinta. Kelas IX saya mengikuti lomba menulis cerpen se Kabupaten Sumenep yang diadakan untuk tingkat SMA dan sederajat. Dan mendapat juara II. Alhamdulillah… berkat cinta..

MTs adalah masa produktif bagi saya. Menjelang masuk sekolah SMA, kebiasaan saya menulis mulai tertinggalkan. Saya mulai mengenal teknologi informasi bukan menjadi lebih produktif dengan media yang lebih luas. Kalau di MTs saya hanya rajin mengisi mading dan majalah sekolah, di SMA saat banyak media untuk mengembangkan hobi saya malah tidak berkarya apa-apa. Saya mulai berani menembak perempuan yang saya sukai, saya mulai meninggalkan kegiatan menulis. Lebih suka menulis SMS dengan kata-kata yang indah dari pada ditulis menjadi puisi. Benar, kisah cinta itu indah namun saya menjadi lebih kesulitan dalam menuliskannya menjadi puisi apalagi cerpen. Akhirnya lama-kelamaan vakum.

Putus cinta adalah hal yang dapat membuatku girang dari sakit hati—saya bisa kembali lagi menulis—beberapa hari setelah hari kejadian, yang mampu memberikan saya nutrisi agar kembali lagi menulis. Apakah jenis tulisan saya hanya ‘cinta’ saja? Tidak !! SMA itu periode dimana pemikiran kita berkembang dan putus cinta itu adalah penyebab yang mencari gara-gara agar saya ingat pada ‘menulis’. Artinya perasaan saya tidak sibuk. Saya mulai gemar memacari buku-buku.

Hingga jenis tulisan saya dapat berkembang. Agak lama juga saya menjalani hidup tanpa kekasih lagi, kekasih yang dapat setia melebihi yang lain hanyalah buku sebelum akhirnya saya mencoba untuk ‘sakit hati’. Mengincar perempuan-perempuan yang cantik untuk ditembak, harapannya adalah sakit hati. Saya ingin membuat kisah cinta yang lebih anggun daripada kisah cinta siapapun yang pernah ada. Hingga sayapun dapat berkata “ujung rambutmu saja dapat menjadi puisi”.

Dua tahun saya menjalani itu. Semester II kelas XII saya jatuh cinta benar-benar. Kisah cinta yang paling indah dan belum saya rasakan sebelumnya, sampai saya sendiri menyebutnya ‘yang lahir dari cahaya’. Ia berlanjut sampai saya kuliah semester satu. Dan benar !, saya menjadi kurang produktif. Tidak banyak karya yang saya buat. Ah, hal itu terjadi lagi ternyata bukan hanya setan yang bisa menggoda, cintapun dapat. Buku Diary yang dia berikan terisi tujuh lembar saja nyaris bukan puisi hanya curhatan lebay saja padahal inginnya buku itu diisi puisi khusus tentang segala tentang hubungan itu agar menjadi kenangan.

Putus cinta tepat selesainya UAS di kampus, tepat malam tahun baru 2014. Dan benar !! saya bangkit kembali menulis, saya memulai menulis novel. Ah.. ternyata pacaran bikin tidak produktif menulis. Atau anda akan menjadi orang yang dapat cuek pada pacar. Namun memulai menulis itu belajar dari jatuh cinta dengan belajar menyusun kata-kata menjadi puisi. Cinta berarti juga inspirasi, namun cinta yang tersampaikan dapat mengganggu produktifitas kreatifitas. Cerita saya di atas adalah argumen yang paling kuat dari pada pustaka. Ketika masa pacaran anda akan kehilangan kalimat yang memuaskan untuk ditulis. Tak ada luka untuk ditulis. Tak ada rindu yang memedihkan. Lama-lama tak ada kata untuk ditulis.