pemuda palestinaOleh: Afzal Farid Al-Fahmi

————————————-

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”.(QS.Al-Kahfi :13)

            Ayat di atas telah menjelaskan bahwa yang disebut bukanlah orangtua, tetapi yang disebut adalah pemuda. Pemuda memang memiliki semangat yang berapi-api dan memiliki naluri untuk melakukan perubahan yang sangat besar. Selain itu, Pemuda juga mempunyai andil besar bagi perubahan lingkungannya. Ia pun mampu membawa teman-temannya agar sadar dan mengenal Islam. Sudah saatnya pemuda peduli bahwa siapa lagi yang akan memperjuangkan Islam di tengah-tengah masyarakat kalau bukan mereka ? Ketika SK jilbab belum keluar, pemuda juga yang bergerak dan berjuang. Itu hanya salah satu contoh. Sekarang pun di saat kesadaran berislam sudah tinggi, saatnya pemuda berperan untuk membuat masyarakat rindu Islam kaffah yaitu dengan menerapkan syari’at islam secara menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

Ketika ada teman yang tidak sholat, kegiatannya hanya pacaran, dugem, dan banyak aktifitas maksiat lainnya, siapa yang bisa menyadarkan mereka ? Bukan para kyai, ustadz, bukan para guru, bukan pula para dai tua yang seringkali tak paham dengan karakter pemuda. Jadi, yang paling efektif menyadarkan mereka adalah teman-temannya sendiri yaitu kita sebagai generasi muda penerus agama dan bangsa ini.

Ketika hal-hal tersebut di atas telah menghampiri kita. Maka, apa yang akan kita lakukan? Jangan panik dahulu. Jangan merasa berat dengan tugas sebagai pemuda muslim yang kita emban. Di bawah ini ada beberapa tips agar kita menjadi pemuda islam yang funky but syar’i dalam berdakwah di lingkungan kita. Inilah hal tersebut yang kami maksud :

 1.   Niat

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ : يَقُوْلُ

(( إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ، وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ )) [رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري و ابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb t, dia menjelaskan bahwa

dia mendengar Rasulullah r bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits dia atas sudah sangat jelas bahwa Amal perbuatan hendaklah diawali dengan niat.. Semua usaha yang akan kita lakukan hanyalah semata untuk mencari keridhoan Allah SWT.. Jangan sampai ada niat untuk sombong dan merasa benar sendiri pada diri kita. Juga jangan sampai ada kesan menggurui dan menganggap bodoh ataupun remeh teman yang sedang kita dakwahi. Pada hakikatnya, petunjuk (hidayah) hanyalah berasal dari Allah.

Seorang muslim memang tidaklah memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati seseorang (memberikan hidayah). Akan tetapi, sebagai muslim yang sejati kita bisa berikhtiar untuk memberikan stimulus untuk menuju ke jalan yang benar. Tidak menutup kemungkinan juga, Allah tidak akan memberikan pahala kepada kita. Setelah kita melakuakan sesuatu yang sangat melelahkan tanpa didahului niat yang tulus dan ikhlas.

Lakukan usaha semaksimal dan seoptimal mungkin dalam menyadarkan teman dan jangan lupa berdoa untuknya agar segera kembali ke jalan yang benar, yaitu jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Karena sesungguhnya tidak ada yang mampu memberi jalan, bila sudah disesatkan oleh Allah dan tak ada yang mampu menyesatkan bila sudah diberi petunjuk oleh-Nya. Sesuai yang difirmankan Allah dalam pembukaan Ummul Kitab, yakni Surat Al-Fatihah. Jadi, jangan lupa berniat ketika kita akan melakukan sesuatu, tentunya amal perbuatan yang baik.

2.    Jadilah Teladan

Berbicara memanglah sesuatu yang sangat mudah , tetapi melakukannya itu yang butuh upaya lebih. Kalau kita hanya bisa berbicara tanpa melakukan apa yang kita bicarakan, maka orang lain, terutama teman-teman kita tidak akan percaya lagi pada kita. Misalnya, kita berbicara maslah pacaran itu haram , tetapi kita sendiri malah suka berdua-duaan dengan lawan jenis di tempat yang sepi. Selain dosa karena kita berkhalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang tidak mahramnya), kita juga dosa karena bisa berbicara, tetapi tidak bisa melakukan pembicaraan kita yang telah diucapkan kepada orang lain dengan konsisten.

Maka, hal itu sama dengan menggandakan dosa. Selain kita berdosa karena berkhalwat, kita juga terkena dosa kebohongan kita terhadap orang lain. Oleh sebab itu, sebagai generasi muslim sejati hendaklah kita menjadi teladan bagi teman-teman maupun orang-orang yang ada di sekitar kita. Seperti Rasulallah SAW yang menjadi teladan sejati bagi kaum muslimin. Karena dengan kegigihan dan kesabarannya menyampaikan risalah Addinul Islam, kita bisa menikmati indah dan manisnya Iman dalam Islam. Bahkan, keteladanan Rasulallah SAW diabadikan di dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surat Al-Ahzab : 21

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

            Dengan meneladani Rasulallah terlebih dahulu, mungkin kita akan bisa menjadi teladan bagi teman-teman atau orang-orang di sekitar kita. Sehingga apa yang kita usahakan bukan hanya lewat mulut saja, tetapi diaplikasikan melalui perbuatan yang akan sangat berdampak bagi kehidupan di sekitar kita. Dan perlu diingat, bahwa seseorang akan cenderung mengikuti perbuatan orang lain yang dianggap dia lebih berkesan daripada hanya omong kosong belaka. Jadi, sudah saatnya kita menunjukkan jati diri kita sebenarnya sebagai muslim funky but syar’i.

3.   Jadikan Qur’an dan Hadits sebagai Pedoman

Ketika kita berbicara untuk mengajak kebaikan kepada orang lain, jadikan Qur’an dan hadits sebagai acuan, bukan kata si X dan si Y atau bahkan kata orang-orang terdahulu. Perbanyaklah baca buku-buku keislaman dan pahamilah wawasan keislaman itu sendiri. Jangan sampai kita menyampaikan sesuatu yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya. Jadikan sirah (sejarah) Rasulullah dalam berdakwah sebagai panduan kita ketika berdakwah di lingkungan teman-teman kita. Karena dengan menceritakan sirah Rasulallah SAW akan terasa menyentuh di qolbu.

Generasi muslim penerus agama dan bangsa hendaknya juga sering-sering membaca literatur atau referensi yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits. Karena dengan seperti itu, kita akan memiliki Tsaqofah Islamiyah (pengetahuan keislaman) yang luas. Tetapi, baru-baru ini banyak bermunculan buku – buku yang mengakibatkan kontroversi di antara saudara sesama muslim. Bagi pemuda, suatu hal yang baru biasanya mudah untuk diterima. Oleh sebab itu, sebagai pemuda kita harus memiliki Aqidah, Syari’ah dan Akhlak yang kuat. Agar tidak mudah terpengaruh pada buku-buku islami yang terkesan kontroversial. Hendaknya kita juga memiliki filter yang kuat untuk mengatasi hal tersebut. Karena Rasulallah SAW berpesan dalam suatu haditsnya :

            Dari Imam Malik r.a, datang kepada beliau tentang apa yang sampai kepada beliau bahwa Sesungguhnya Rasulullah  bersabda: “Aku tinggalkan/wasiatkan sesuatu kepada kalian dua perkara dan untuk kamu semua memegang teguh keduanya yang mana kalian semua tidak akan tersesat  yaitu Kitab Allah (Al Quran) dan Sunnah Nabinya (hadits)”.

Dengan adanya Hadits di atas, maka kita seharusnya selalu waspada dengan apa yang akan kita katakana kepada orang lain. Mengapa demikian ? Karena, ketika kita berbicara kepada orang lain dan pembicaraan itu tidak sesuai dengan Al-Quran dan Hadits. Maka kita telah dianggap telah berdosa. Jadi, kita hendaknya berhati-hati dalam mengambil suatu keputusan ataupun kesimpulan.

 4. Selalu Praktikkan 3S ( Senyum, Salam dan Sapa ) kepada sesama

            Setiap hari kita pasti berjumpa dengan teman, keluarga, guru kita ataupun orang yang sama sekali ytidak kita kenal. Tetapi, pernahkah menanyakan kepada diri kita bahwa orang yang sering bertemu dengan kita. Apakah kita selalu menyapanya ? Mengucapkan salam padanya ? Ataupun hanya memberikan sebatas senyuman kepadanya ? Mungkin jawaban dari kita, mayoritas aka menjawab jarang. Padahal di balik itu semua, terdapat maksud tersembunyi yang sangat bermanfaat.

Senyum, inilah sesuatu yang kemungkinan paling mudah kita lakukan ketika bertemu dengan orang lain di jalan. Tidak menutup kemungkinan juga, senyum adalah sesuatu hal yang sulit dilakukan bagi mereka yang jarang melakukan senyuman kepada orang lain.Coba kita berpikir sejenak, bayangkan ketika orang yang sebelumnya belum kita kenal, dia melakukan senyuman terhadap kita. Apa yang akan kita rasakan ? Pasti akan senang sekali. Ketika bertemu pertama kali memberikan senyuman. Maka, pertemuan kedua akan memberikan salam dan selanjutnya akan berkenalan. Akhirnya berujung pada keakraban yang nantinya akan selalu menerapkan 3S. Dalam suatu haditsnya, Rasulallah SAW berpesan bahwa :

Kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam; yaitu (a) apabila

berjumpa, ucapkanlah salam kepadanya, (b) apabila ia mengundang, penuhilah undangannya, (c) apabila ia minta nasehat, berilah ia nasehat, (d) apabila ia bersin yang disertai ucapan Alhamdulillah, maka ucapkanlah yarhamukallah, (e) apabila ia sakit, lawatlah, dan (f) apabila ia meninggal, hantarkanlah jenazahnya.” (HR. Muslim).

Perlu diketahui bahwa mengucapkan salam kepada saudara sesame muslim yaitu sama dengan kita mendoakannya. Orang yang mengerti bahwa salam itu adalah do’a, maka hatinya akan merasa senang. Karena ada orang yang masih mau mendoakannya. Selain itu, kita juga harus menghargainya dengan menyapanya. Ingatlah bahwa suara yang paling indah didengar adalah ketika kita memanggil namanya. Jadi, ketika kita memanggil teman kita, dia akan merasa dihargai. Sehingga, kita bisa tetap menjalin tali silaturrahim dengan baik.