Oleh: Ani Marlia

 Ilustrasi Blog_Mahkota untuk yang TersayangHujan disertai petir yang gemuruh membuat masjid pesantren Darussalam sepi, hanya beberapa santri yang melakukan aktivitas ibadah di sana. Sedangkan yang lain sudah berselimut di kamarnya masing-masing, di tambah udara yang sangat dingin membuat para santri malas untuk bergerak. Nizam santri teladan itu memilih kamarnya sebagai tempat untuk melatih hafalan Qur’annya. Dengan mushaf kecilnya, Nizam melantunkan bacaan yang indah. Nizam tetap terjaga, ketika teman kamar yang lain terlelap. Salah satu temannya terbangun karena mendengar suara Nizam.

“Pelankan sedikit suaramu, mengganggu yang lain!” Kata Mamad sedikit marah.

Nizam merasa tidak enak dengan Mamad, ia segera menyudahi hafalannya. Setelah mengambil air wudlu Nizam menyusul teman-temannya tidur.

***

Esok paginya, semua santri sudah berdesak-desakkan di halaman masjid melihat pengumuman di papan mading. Dari kejauhan nampak Mamad berlari menuju arah Nizam yang sedang duduk di bawah pohon mangga.

“Nizam… kamu nomor satu.” Teriak Mamad sambil mengacungkan jari telunjuknya.

“Apanya yang nomor satu?” Tanya Nizam penuh selidik.

“Aduh… kamu ini, lulus tes hafalannya masa tidak tahu.” Goda Mamad.

“Lah kamu nomor berapa, Mad?” Tanya Nizam.

Mamad tak menjawab pertanyaan Nizam, hanya menundukkan kepala. Wajah yang tadinya sumringah berubah menjadi muram.

“Sudahlah tak usah bersedih, bisa ikut bulan depan, ‘kan masih ada kesempatan.” Hibur Nizam sambil menepuk bahu Mamad.

“Enak kamu Zam, dapat beasiswa ke Cairo, padahal aku juga ingin kuliah di Al-Azhar.” Kata Mamad Sedih.

“Rezeki itu Allah yang mengatur, Mad, jadi kamu nggak perlu sedih. Tinggal kamu mau berusaha atau tidak. Kalau kamu hanya bermalas-malasan, ya, nggak bakalan terwujud keinginanmu itu. Ya sudah, nggak usah di jadikan beban, lebih baik setor hafalan biar cepet lulus.” Tutur Nizam.

Nizam dan Mamad pun beranjak meninggalkan halaman masjid, sedangkan teman-teman yang lain masih sibuk mencari daftar nama di papan pengumuman. Semanjak itu, Mamad semakin rajin muroja’ah hafalannya. Dan sesekali bergantian nyimak dengan Nizam untuk mengoreksi bacaan tajwidnya.

Satu minggu berlalu Mamad dapat kabar dari rumah bahwa bapaknya masuk penjara gara-gara ketahuan berjudi. Setelah mendengar kabar tersebut pikiran Mamad kalut dan itu berdampak pada hafalannya. Mamad jadi jarang muroja’ah hafalannya, kerjaannya hanya merenung dan menyendiri. Melihat Mamad seperti itu Nizam jadi merasa ibah. Nizam menghampiri Mamad yang sedang duduk di serambi masjid.

“Mad, tidak usah kamu tekuk seperti itu wajahmu. Ayolah kawan fokus sama hafalanmu, waktunya kurang 5 hari lagi nih.” Hibur Nizam.

“Masa bodoh, Zam aku tidak lulus. Aku menyerah, pikiranku kacau. Ditambah kelakuan bapakku yang sangat memalukan, dan ibuku meninggal pun gara-gara kelakuan bapak juga Zam.” Tutur Mamad sedih.

“Sudah, tidak usah kamu pikirkan itu, ‘kan sudah ada kakakmu yang mengurus di rumah. Ingat tujuanmu, Mad, kamu ingin menghadiahkan mahkota dan jubah kehormatan untuk ibumu di surga ‘kan? Ibumu pasti gembira jika melihat anaknya semangat menghafal Al-Qur’an.” Kata Nizam penuh semangat.

“Tapi, waktu tes kurang 5 hari sedangkan aku kurang 2 juz, Zam, mana bisa?” Keluh Mamad.

“Jangan berputus asa begitu, kalah sebelum berperang itu namanya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki, Mad.” Kata Nizam tegas.

Semenjak itu semangat Mamad kembali lagi, Setiap waktu digunakannya untuk menghafal. Menjelang dua hari tes kelulusan, hafalan Mamad kholas. Tidak berhenti begitu saja, Mamad berulang-ulang menyuruh Nizam memuroja’ah hafalannya. Ba’da maghrib Mamad mendapat kabar bapaknya meninggal ketika di penjara karena penyakit paru-paru yang sudah akut. Mendengar berita duka itu, Mamad serasa disambar petir. Ia hanya mematung dengan tatapan nanar. Meskipun sempat kesal sama bapaknya, Mamad merasa terpukul mendengar bapaknya tiada. Bagaimanapun, dia adalah bapak yang membesarkannya. Malam itu juga Mamad harus pulang, padahal besok adalah hari yang ditunggu-tunggunya.

“Pulang saja, Mad, tidak apa-apa.” Kata Nizam.

“Tapi, besokkan ada tes Zam, bagaimana?”

“Pemakaman bapakmu lebih penting, tesnya besok masih jam 3 sore baru di mulai. Jarak waktu tempu rumahmu ke pondokkan membutuhkan waktu 3 jam. Besok kamu berangkat dari rumah ba’da dhuhur in syaa Allah nyampek sini jam 3.” Kata Nizam menjelaskan.

Mamad segera bergegas menuju kamarnya, membereskan barang-barangnya. Dan segera berangkat pulang ke rumah.

***

Ke esokkan harinya, setelah acara pemakaman selesai Mamad segera balik ke pondoknya lagi. Ba’da dhuhur Mamad sudah siap-siap ke terminal. Setelah Mamad mendapatkan tempat duduk, tidak beberapa lama bus berangkat. Awal perjalanan lancar tidak ada hambatan, bus melesat cepat membawa Mamad. Di sepertiga perjalanan, jalanya bus menjadi lamban, merasakan bus yang di tumpanginya semakin lamban, Mamad berdiri melihat kondisi jalan. Ternyata jalanan macet total, bus yang ia tumpangi sampai nggak bisa bergerak sedikit pun. Berkali-kali ia melihat jam tangannya, waktu menunjukkan tepat jam dua siang, Mamad harap-harap cemas. Setengah jam kemudian, jalanan kembali lancar Mamad merasa lega. Ternyata penyebab kemacetan tadi ada kecelakaan di ujung pertigaan pintu masuk tol. Menjelang jam tiga sore, Mamad sudah sampai di pertigaan jalan pondok. Jarak yang dibutuhkan masih dua kilometer lagi untuk sampai ke pondok. Tak ambil pusing Mamad langsung naik ojek.

“Pak, ngebut ya!” Suruh Mamad.

“Iya, Mas.” Jawab tukang ojek.

Motorpun melaju dengan kecepatan penuh. Dan sialnya, motor tukang ojek itu mati setelah melewati tanjakkan, mesin motornya kepanasan karena terlalu terforsir kecepatannya. Maklum motor sudah tua dan tidak pernah di servis sama pemiliknya.

“Waduh, gimana ini mas motor saya tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi, maaf ya.” Kata tukang ojek.

“Haduh, bagaimana ini pak, masa saya harus jalan kaki? Kurang satu kilo lagi pak.” Ujar Mamad kesal.

Mamad semakin cemas, ketika melihat jam di tangannya menunjukkan tepat jam tiga sore. Mamad melihat kanan kiri siapa tahu ada tumpangan lewat. Mamad melihat sepeda ontel terparkir di pinggir jalan, ternyata sepeda itu milik Pak Rojak tukang kebun pondok yang sedang mencari rumput untuk kambingnya. Setelah membayar ongkos ojek, Mamad langsung berlari menuju sepeda Pak Rojak.

“Pak Rojak, pinjam sepedanya.” Teriak Mamad.

Mamad langsung mengendarai sepeda dengan penuh semangat, padahal Pak Rojak belum mengiyakannya. Sepeda melaju sangat kencang. Ketika jalanan menurun Mamad tak bisa mengendalikan sepeda yang ia kendarai. Mamad berteriak-teriak minta tolong. Karena jalanan yang ia lewati area persawahan, tidak ada yang mendengarnya.

“Huaaaaaa…..” Teriak Mamad kencang.

Braakkk! Sepeda Mamad terperosok ke dalam parit, tubuh Mamad ikut terjerembab ke dalam parit. Mamad berusaha bangkit meskipun pinggangnya rasanya patah. Wajah dan baju yang belepotan  lumpur sawah tidak ia hiraukan, Mamad lansung mengangkat sepeda Pak Rojak ke atas. Mamad langsung menggayuh sepeda lagi dengan kecepatan penuh. Akhirnya sampai juga di depan gerbang pondok. Setibanya di sana, rantai sepeda Mamad putus, dengan nafas yang terputus-putus Mamad menuntun sepeda ke halaman masjid. Di sana Nizam sudah menunggu kedatangan Mamad. Sepeda Pak Rojak yang sudah tak karuan bentuknya Mamad parkir di halaman masjid. Ia bergegas menuju ke arah Nizam.

“Apakah aku telat?” Tanya Mamad penuh cemas.

“Belum, kamu peserta yang terakhir, bersihkan wajahmu yang belepotan lumpur itu.” Ucap Nizam.

Mamad bergegas ke kamar mandi dan kemudian masuk ke dalam masjid untuk tes. Lima menit berlalu, Nizam menunggu dengan penuh harap. Beberapa menit kemudian Mamad keluar dengan wajah di tekuk. Nizam jadi penasaran.

“Bagaimana hasilnya Mad?” Tanya Nizam penuh selidik.

Senyum mengembang di bibir Mamad.

“Aku lulus, Zam.” Jawab Mamad kegirangan.

Mamad dan Nizam meloncat-loncat kegirangan seperti anak SD yang sedang mendapat nilai seratus. Mamad sangat bahagia.

“Mamak.. Bapak.. Mamad Lulus..” Teriak Mamad penuh haru.

“Sekarang, tinggal aku dan kamu yang harus menjaga kalam-Nya ini biar tetap melakat dalam kepala dan hati kita, tidak akan hilang meski waktu barlalu.” Kata Nizam sambil menunjuk Al-Qur’an yang ia pegang. Mamad tak menghiraukan orang-orang melihatnya aneh.

Akhirnya Nizam dan Mamad wisuda bersama. Nizam menjadi lulusan santri tahfizd terbaik yang mendapatkan beasiswa S1 di Cairo, sedangkan Mamad, cita-citanya memberikan mahkota untuk kedua orang tuanya di akhirat kelak terwujud, meski tidak mendapatkan beasiswa ke cairo.[]