Oleh: Ahmad Hambali

Semua jumhur ulama telah bersepakat bahwa hukum memakan riba adalah sebuah dosa. Bahkan lebih lanjut, riba telah digolongkan menjadi dosa besar. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi, “dan Allah menghalalkan perniagaan dan mengharamkan riba”. Serta berbagai hadits shahih yang diriwatkan oleh banyak perawi. Allah dan RasulNya akan mengutuk dan mencela para pemakan riba, hingga ia bertaubat dan meninggalkan pekerjaan riba tersebut.

Andai ada sebuah berita di televisi yang mengabarkan bahwa ada seorang anak yang (maaf) menyetubuhi ibunya di lapangan terbuka, kira-kira bagaimana respon masyarakat Indonesia? Tentu masyarakat dari Sabang hingga Merauke geger bukan kepalang. Tak pandang berbeda agama, suku, etnis, apalagi warna kulit.

Semuanya akan bersepakat bahwa itu adalah perbuatan yang sangat tercela. Mereka akan mencaci maki, mengutuk, hingga pasti ada yang akan melaporkan pelaku kepada polisi. Seperti itulah perumpamaan dosa terkecil dari riba dalam Islam. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dan dishahihkan oleh Syaikh Albany, “riba ada tujuh puluh tingkatan, yang paling ringan adalah seperti seorang  yang menzinahi ibunya”.

Sebagai seorang muslim yang memegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup, tentu kita harus menyandarkan segala urusan baik duniawi maupun akhirat kita kepada dua sumber utama hukum Islam terebut serta mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Termasuk mengetahui bentuk dan macam kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan riba. Dari berbagai pendapat ulama, riba dapat dibagi menjadi 4 macam. Pertama riba fadl, yaitu penukaran dua barang sejenis dengan jumlah yang tidak sama.

Misal menukar uang Rp100.000,00 dengan uang pecahan Rp5.000,00 namun jumlahnya Rp90.000,00 Hal ini sering terjadi saat-saat menjelang lebaran. Banyak orang-orang berdiri di trotoar jalan menjajakan uang pecahan. Dalihnya sih untuk memudahkan membagi-bagi uang ke sanak famili di kampung halaman.

Kedua riba qard, riba yang terjadi pada transaksi utang-piutang yang mensyaratkan adanya tambahan atau keuntungan bagi yang memberikan utang.

Utang Rp1.000.000,00  harus mengembalikan Rp1,100.000,00 Anda pasti tahu di mana riba ini sering dilakukan. Malah menjadi aktivitas utamanya. Ada yang bilang, tanpa kegiatan seperti ini, mereka akan gulung tikar. Betul. riba tipe ini ada pada kegiatan perbankan. Tepatnya perbankan konvensional.

Perbankan yang menjadi lembaga intermediasi antara masyarakat yang kelebihan dana dengan masyarakat yang kekurangan dana, mendapat profit dari tambahan pokok utang yang disalurkan kepada masyarakat melalui kredit. Keuntungan ini pula yang akan diberikan kepada para nasabahnya (pemilik dana). Istilah keren yang digunakan oleh perbankan untuk mengelabuhi umat muslim dalam transaksi ini adalah bunga bank.

Ulama kontemporer seperti Yusuf Al-Qardhawi (Ketua Ikatan Ulama Dunia) telah menyatakan bahwa bunga bank ini adalah sama dengan riba qardh yang harus segera ditinggalkan oleh kaum muslim. Di Indonesia, para ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengluarkan fatwanya bahwa bunga bank tak jauh beda dengan riba. Fatwa ini dikeluarkan sejak tahun 2008. Selanjutnya pertanyaannya, rekening bank apakah yang anda gunakan? Konvensional atau syariah?

Ketiga riba yad, riba yang terdapat dalam transaki non-tunai (kredit) karena adanya penangguhan dalam pembayarannya. Hal ini banyak sekali terjadi di pasar-pasar, utamanya pasar tradisional. Penjual menetapkan harga yang berbeda antara pembelian secara tunai dan pembelian kredit.

Pebedaan harga inilah yang menurut beberapa ulama termasuk ke dalam riba. Kecuali pedagang atau penjual tersebut memang menjual dagangannya secara kredit.

Keempat riba nasiah atau jahiliah, yakni riba yang dilakukan dengan cara melipatgandakan tambahan karena penundaan waktu pembayaran. Contoh sederhananya adalah pemberi utang mengambil tambahan dari utang pokok secara progresif jika penerima utang mengalami keterlambatan pembayaran.

Para lintah darat atau rentenir yang paham dengan transaksi semacam ini. Parahnya, tak jarang orang Islam yang menggunakan jasa mereka jika memerlukan dana.

Dari keempat jenis riba di atas, seakan sudah menjadi sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan menjadi tren yang “gak gaul kalau gak pernah” kata anak-anak muda zaman sekarang. Padahal kita sudah sepakat dengan pernyataan di atas, jika ada seseoang yang menyetubuhi ibu kandungnya, jika akan mencela, mengutuk, dan membencinya. Apabila kita yang melakukan perkara-perkara di atas, sudahkan kita mencela, mengutuk, dan membenci diri kita sendiri? Namun belum terlambat jika kita mau bertaubat.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) bila kamu orang yang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak pula dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah [2]: 278-279)

Mengapa riba ini diharamkan? Tentu pasti ada manfaat yang sangat luar biasa di baliknya. Karena Allah tidak pernah menciptakan atau menetapkan sesuatu dengan sebuah kesia-siakan. Setidaknya riba mengandung hikmah antara lain, riba dapat menimbulkan permasalahan sosial dan ekonomi. Riba hanya menciptakan kemalasan dan membawa kepada perusakan nilai-nilai luhur. Riba adalah bentuk ketidakadilan sosial, riba menumbuhkan sifat egoisme. Riba menyebabkan harta menjadi terkonsentrasi pada pemilik modal (golongan kaya), serta banyak ibrah lainnya.

Bahkan menurut Luthfi Hamidi dalam bukunya The Crisis dan Riawan Amin dalam karyanya Satanic Finance menyatakan bahwa aktivitas riba ini memang digencarkan oleh Yahudi dan kroni-kroninya untuk merusak aqidah dan keimanan umat Islam. Sehingga Islam dengan mudah bisa dihancurkan.

Wallahu a’lam